Kantor majalah satir Charlie Hebdo diserang oknum bersenjata: Konflik kebebasan pers dan penghargaan terhadap keyakinan beragama

Pemimpin Gereja Katolik Roma, Paus Fransiskus, berdoa bagi para korban tragedi Rabu di Paris, Perancis. (Foto via Radiovaticana)

Tiga oknum bersenjata menyerang kantor majalah satir Charlie Hebdo di Paris, Perancis, 7 Januari 2015.

Akibat serangan itu dua pengawal dari kepolisian dan 10 wartawan dan kartunis terbunuh.

Para pemimpin Eropa mengutuk “serangan teroris” yang tampaknya diprovokasi oleh gambaran kartun majalah tersebut tentang Islam.

Serangan ini mengangkat ke permukaan ketegangan antara apa yang didaulat sebagai kebebasan pers di Eropa Barat dan penghargaan terhadap keyakinan beragama.

Peristiwa tragis ini terjadi di saat sentimen anti-Islam sedang merangkak naik di Eropa, tak terkecuali didorong oleh kabar kegiatan ISIS di Timur Tengah.

Di Jerman, Kanselir Angela Merkel terus meminta toleransi agama dan ras/etnis, demikian UPI.

Media Vatikan melansir tanggapan pemimpin Gereja Katolik Roma, Paus Fransiskus, terhadap serangan di Paris itu.

“Serangan teror [hari Rabu] di Paris mengingatkan kita banyaknya tindakan kekejaman – kekejaman manusia – banyaknya terorisme, baik [insiden] terorisme maupun terorisme yang dilakukan negara,” ungkapnya pada misa harian, Kamis.

“Kita berdoa, dalam misa ini, bagi para korban kekejaman ini – begitu banyak jumlahnya – dan kita juga berdoa untuk para pelaku kekejaman demikian, supaya Tuhan mengubah hati mereka.”

 

Berita lainnya:
Inilah Serangan Charlie Hebdo Terhadap Islam, Inilah.com (8 Januari 2015).

Pope Francis: prayers for victims of Paris attack, News.va (8 Januari 2015).

French Imams Join Vatican Official in Condemning Paris Attack, Zenith.org (8 Januari 2015).