Apakah STT Jakarta telah menjadi sekolah Alkitab pendukung “gerakan LGBT”? (Updated)

STT Jakarta. (Foto via sttjakarta.ac.id)

EKKLESIASTIKA — Salah seorang dosen tetap di STT Jakarta, Pdt Drs Stephen Suleeman MATh, ThM, dalam profilnya di situs resmi perguruan tinggi tersebut menyebut diri “aktivis LGBTIQ.” Ia mengorganisir Konsultasi Internasional tentang Gereja dan Homofobia pada 23-26 November 2014, dan membacakan sebuah deklarasi.

Deklarasi itu baru-baru ini mendapat sejumlah tanggapan dari beberapa anggota sebuah grup media sosial, setelah Pdt Joas Adiprasetya ThD, Ketua STT Jakarta, membagikan isi deklarasi tersebut pada 6 Januari 2015 di grup itu.1

Ditanyakan apakah deklarasi tersebut memiliki definisi khusus untuk “Gereja” dan “Homofobia,” baik Pdt Stephen dan Pdt Joas Adiprasetya sampai tulisan ini diturunkan belum memberikan keterangan.2

TERKAIT: Mari menggumuli dan menyikapi “Pernyataan Pastoral PGI tentang LGBT” yang meresahkan itu secara proporsional dan bijaksana

Ketua STT Jakarta juga belum menjawab pertanyaan apakah STT Jakarta secara institusional mendukung “gerakan LGBT.”3

LGBT adalah kependekan dari lesbian, gay, bi-sexual, transgender, dipakai untuk menunjuk pada orang dengan ketertarikan seksual terhadap sesama jenis, terhadap sesama jenis maupun lawan jenis, dan “waria.” Sedang IQ yang ditambahkan pada profil pribadi Pdt Stephen adalah intersex dan questioning, merujuk pada individu dengan kelainan pada genitalia dan yang bergumul mengenai identitas seksualnya.

Tidak semua orang yang mengidentifikasi diri dalam ketegori-kategori tersebut merupakan bagian dari “gerakan LGBT” yang bertujuan untuk menormalisasi praktek seksual yang dianggap tabu oleh masyarakat tradisional dan bertentangan dengan pandangan seksualitas agama-agama (terutama agama samawi yang didalamnya termasuk Kristen).

Ada di antara mereka yang dikategorikan dalam kelompok ini yang telah meninggalkan praktek homoseksual, gaya hidup “waria,” dan ada yang terus bergumul dengan ketertarikan sejenis memilih hidup selibat.

Affirmational inclusion” atau “transformational inclusion

Suara deklarasi yang dimotori oleh Pdt Stephen searah dengan tuntutan gerakan LGBT untuk “affirmational inclusion” (menyambut dan meneguhkan mereka sekalipun dalam apa yang disebut Alkitab sebagai dosa). Padahal, umat Kristen yang setia pada tradisi iman mempraktekkan “transformational inclusion” (menyambut dan bergumul bersama mereka dalam menolak segala hal yang disebut Alkitab sebagai dosa).

“Selama dua dekade Pdt Dr[s] Stephen Suleeman, dosen di STT Jakarta, berpegang teguh pada suatu impian untuk sebuah konferensi iman yang mendukung LGBT di Indonesia,” tulis Dr Michael Adee, direktur eksekutif organisasi pendukung hubungan sejenis More Light Presbyterian yang berbasis di Amerika Serikat.

Menurut Dr Adee, yang mengaku sebagai seorang gay, “impian” Pdt Stephen “menjadi kenyataan” dengan pelaksanaan Konsultasi itu di STT Jakarta. Ia menjadi salah seorang pembicara atas undangan Pdt Stephen, yang menurut situs web STT Jakarta adalah pendeta di GKI Gading Indah.

TERKAIT: 6 mitos hak gay dan pendekatan pastoral kristiani

Kasih yang sebenarnya

Deklarasi yang dinamai “The Jakarta Declaration” itu mengajak untuk menolak “homofobia” dan “transfobia” dan “diskriminasi apapun terhadap orang-orang yang memiliki orientasi seksual, identitas jender, dan ekspresi jender yang berbeda.”

Pembimbing rohani (chaplain) di Bina Bangsa International School, Sui Thie, menanggapi postingan di group Facebook itu mengatakan bahwa ia menghargai pernyataan deklarasi itu bahwa seksualitas adalah karunia ilahi dan panggilan untuk menolak sikap diskriminasi.

Namun, ia menanyakan apakah yang dimaksud dengan “orientasi seksual yang berbeda” itu termasuk “pedofil, beastial, poligami/poliamorus, dll.”

Ia juga menanyakan apakah “pelayanan kasih, kepedulian yang berbelas kasih dan keadilan” berarti tidak memanggil mereka untuk berhenti berbuat apa yang dikatakan oleh Alkitab sebagai dosa.

Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Sui Thie di bawah postingan itu belum diberi tanggapan oleh Pdt Joas atau Pdt Stephen.4

Sikap umat Kristen yang merujuk pada ucapan terkenal Bapa Gereja Agustinus untuk “menolak dosa dan bukan pendosa,” sering dicitrakan sebagai sikap “membenci” (hatred) terhadap kelompok LGBT.

Demikian juga umat Kristen yang membela tradisi pernikahan sebagai persekutuan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan keluarga tradisional sebagai wadah penting untuk tumbuh kembang anak sering dilabel sebagai “homofobik,” istilah yang dipakai secara derogatif, tak terkecuali lawan katanya “homofil” yang dipakai sejumlah penentang gerakan LGBT.

Pengaruh sekularisme

Gerakan LGBT menggunakan istilah “homofobia” hampir secara umum untuk orang-orang yang tidak menyetujui agenda revolusi seksual yang awalnya bergulir dari Eropa Barat dan Amerika Utara.

Keduanya telah sangat diwarnai dengan sekularisme, dan tak jarang disebut sebagai masyarakat “pasca-kekristenan,” sekalipun beberapa kalangan mendebatkan penilaian lampaunya pengaruh kekristenan di kedua wilayah itu.

Berbeda dari komunisme yang anti agama, sekularisme mengakomodasi agama sepanjang tidak menghalangi sudut pandang dunianya (worldview). Ketika terjadi benturan, sikap sekularisme terhadap agama adalah antara menekan atau memanipulasi agama itu untuk sedemikian rupa mendukung pandangan dunia tersebut. Namun, bisa juga kedua-duanya terjadi pada saat bersamaan.

Di Amerika Serikat, pengaruh gerakan GLBT telah melahirkan kekuatiran tentang kebebasan beragama di negeri itu, dengan berbagai kasus punitif (penghukuman) terhadap orang Kristen yang terang-terangan menunjukkan keyakinan agamanya mengenai praktek ini.

Sikap berbagai gereja

Dalam pertemuan perwakilan berbagai agama di Vatikan November tahun lalu pemimpin gereja Katolik Roma Paus Fransiskus kembali mengingatkan pentingnya aspek “saling melengkapi” antara laki-laki dan perempuan dalam sebuah pernikahan.

“Bukti-bukti menumpuk bahwa kemunduran dalam budaya pernikahan terkait dengan peningkatan kemiskinan dan begitu banyak masalah sosial lainnya, dan secara luas mempengaruhi perempuan, anak-anak dan lanjut usia. Mereka yang selalu harus menderita dalam krisis ini,” ungkapnya dalam kesempatan itu.

Kalangan Gereja Ortodoks Timur juga tetap konsisten dengan tradisi pernikahan Kristen yang telah dipelihara selama dua milenia.

Baru-baru ini Gereja Ortodoks Rusia mengecam posisi badan PBB untuk anak-anak, UNICEF, yang mendukung pasangan sejenis dalam kaitan dengan membesarkan anak-anak. Bukannya membela anak-anak, justru melakukan pelanggaran mendasar terhadap hak mereka, demikian pernyataan resmi yang dikeluarkan lewat Komisi Keluarga, dan Pembelaan Ibu dan Anak.

Pada 12 Februari 2016, Paus Fransiskus dan pemimpin Gereja Ortodoks Rusia, Patriark Moskow dan Rusia Raya, Kirill mengeluarkan deklarasi bersama di Havana, Kuba, yang turut memuat keprihatinan mereka terhadap ideologi yang sedang menyerang institusi keluarga:

Keluarga didasarkan pada pernikahan, tindakan tanpa paksaan dan cinta-kasih setia antara seorang pria dan seorang wanita. Adalah cinta-kasih yang memateraikan persekutuan mereka dan mengajarkan mereka untuk menerima satu sama lain sebagai anugerah. Pernikahan adalah sekolah cinta-kasih dan kesetiaan. Kami prihatin bahwa bentuk-bentuk lain dari hidup bersama telah ditempatkan pada tingkat yang sama seperti persekutuan ini, sedang pemahaman, yang dikuduskan dalam tradisi Alkitab, tentang kebapakan dan keibuan sebagai panggilan yang berbeda antara pria dan wanita dalam pernikahan sedang didorong keluar dari hati nurani masyarakat. (klik untuk melihat teks lengkap deklarasi tersebut)

Situasi dalam gereja-gereja Protestan lebih bervariasi dibanding kedua gereja awal tersebut, dengan beberapa denominasi arus utama di dunia Barat telah mentahbiskan pendeta yang secara terbuka memiliki pasangan sejenis, bahkan “memberkati” hubungan sejenis, meskipun dengan resiko perpecahan dan eksodus jemaat secara besar-besaran.

Namun demikian, penolakan untuk mengikuti “arus budaya” tetap kuat di kalangan tradisional, karismatik dan Injili.

Sikap PGI?

Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia sebagai payung sejumlah besar gereja di Tanah Air telah turut menimbang ke dalam situasi ini. Dengan menyebut istilah “LGBTQ” sebanyak dua kali dalam Pokok-Pokok Tugas Panggilan Bersama 2014-2019.

LGBTQ ditempatkan dalam kategori “kelompok-kelompok rentan” bersama kaum perempuan, buruh migran, anak-anak, kelompok berkebutuhan khusus, SATHI (saudara yang terinfeksi HIV), dan menyatakan bahwa “[g]ereja perlu membuka ruang partisipatif agar suara dan kesaksian mereka dapat didengar, serta mendampingi perjuangan mereka di dalam menuntut hak-hak hidup yang layak sebagai warga negara.”

Dengan menetapkan gambaran Allah dalam semua, PGI telah menunjukkan martabat manusia dalam diri tiap orang lepas dari kategori-kategori buatan manusia. Hanya saja, PGI beresiko melegitimasi praktek dosa dengan tidak memberikan penjelasan atau klarifikasi teologi terhadap istilah-istilah yang belum memiliki definisi tetap menyangkut perkembangan sosial dan etika seksual dewasa ini.

TERKAIT: PGI: Pernikahan adalah antara seorang perempuan dan seorang laki-laki

Profil STT Jakarta

STT Jakarta merupakan perguruan tinggi teologi tertua di Indonesia, dan didirikan untuk mempersiapkan pendeta-pendeta, pemimpin jemaat, di Indonesia.

Saat ini visi STT Jakarta adalah menjadi:

  1. Lembaga pembelajaran dan pengembangan teologi yang berorientasi pada pergumulan konteks Kristiani di Indonesia dan berwawasan ekumenis.
  2. Lembaga pembelajaran calon pemimpin yang melayani, memiliki kedewasaan spiritual, wawasan teologis yang luas dan kemampuan profesional serta menyadari dan memahami panggilannya di tengah gereja dan masyarakat Indonesia dan dunia yang majemuk.

STT Jakarta didukung oleh gereja-gereja yang mencakup pelosok-pelosok Indonesia:

1. Huria Kristen Batak Protestan,
2. Gereja Kalimantan Evangelis,
3. Gereja Masehi Injili di Minahasa,
4. Gereja Masehi Injili di Bolaang Mongondow,
5. Gereja Toraja Rantepao,
6. Gereja Protestan Maluku,
7. Gereja Masehi Injili di Timor,
8. Gereja Kristen Sumba,
9. Gereja Injili di Tanah Jawa,
10. Gereja-gereja Kristen Jawa,
11. Gereja Kristen Indonesia,
12. Gereja Kristen Pasundan,
13. Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat,
14. Gereja Protestan Indonesia,
15. Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), mewakili gereja-gereja anggotanya yang lain.

Dalam pelaksanaan STT Jakarta dikelola oleh empat gereja, yaitu:
• Gereja-gereja Kristen Jawa,
• Gereja Kristen Indonesia,
• Gereja Kristen Pasundan,
• Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat.

Dengan dukungan dari gereja-gereja ini maka STT Jakarta mempunyai pengaruh yang besar bagi pertumbuhan Gereja di Indonesia dan kesetiaannya pada firman Tuhan.

Mari kita doakan bersama STT Jakarta serta sekolah-sekolah pendidikan pelayan gereja/pendeta lainnya supaya sungguh-sungguh menjadi wadah pembentukan dan persiapan para calon pelayan Tuhan untuk melayani Gereja bagi kemuliaan Tuhan.

Kiranya juga para dosen teologi yang diberi kepercayaan untuk membekali para calon pelayan Tuhan sungguh-sungguh menjalankan tugas itu dengan penuh tanggung jawab iman; mengikut Kristus sebagai Tuhan, membangun Gereja-Nya yang kudus, dan menolak memperhambakan diri pada ideologi-ideologi dunia.

 

Klarifikasi Posisi STT Jakarta (Update)

Mengenai di mana posisi STT Jakarta secara institusional saat ini tentu telah menjadi pertanyaan begitu banyak warga Kristen Indonesia.

Ketua STT Jakarta, Pdt Joas, menjelaskan dalam sebuah diskusi online pada 16 Januari lalu bahwa “STT Jakarta sebagai institusi pendidikan tidak berpretensi mendukung atau tidak mendukung sebuah gerakan, namun menjadikan LGBT sebagai sebuah isu yang harus ditelaah secara akademis, namun tetap dalam solidaritas pada mereka yang tersingkirkan.”

STT Jakarta, menurut beliau adalah “welcoming community, yang bersedia menjadikan isu ini bagian dari proses pembelajaran kami, tanpa memposisikan diri affirming terhadap isu itu.”

Dalam doa selalu ada harapan, dan bagi Gereja di Indonesia harapan itu seyogyanya adalah supaya dalam setiap “proses pembelajaran” yang kita jalani Roh Allah bekerja dalam hati kita, supaya kita memiliki kepekaan terhadap kehendak Allah dan kekuatan untuk menaatinya.

Sekalipun nampaknya ada gerakan yang memberikan preseden, tapi seperti yang diungkapkan juga oleh Pdt Joas, bahwa “masih banyak anggota komunitas STT Jakarta yang masih terus berproses secara teologis akademis dengan isu ini.”

Dan dengan demikian adalah tugas kita bersama untuk berproses dalam iman mengenai keadaan Gereja di Indonesia.

Proses menyangkut berbagai isu dalam Gereja bukan hanya khusus untuk dan dalam “sekolah-sekolah Alkitab” saja, atau di lembaga-lembaga seperti PGI, melainkan di setiap tempat dan konteks orang percaya memberi jawab pada panggilan imannya sesuai firman Tuhan yang tertulis dalam Alkitab.

Karena itu, ingat pula bahwa doa kita adalah juga doa bagi Gereja di zaman ini. Gereja yang terpanggil untuk menolak dosa tanpa menjadi munafik. Gereja yang ditugaskan untuk membagikan belas kasihan Allah, tanpa berkompromi dengan dosa. Gereja Kristus yang terpanggil untuk berpihak pada yang lemah dan tertindas, termasuk di dalamnya anak-anak yang sering menjadi korban dalam keputusan-keputusan yang diambil oleh orang dewasa.

 

Terakhir diperbarui: 28 Juni 2016, penyeragaman penyebutan nama dan perbaikan bahasa minor; 20 Juni 2016, tambahan catatan kaki, perbaikan bahasa dan teknis penulisan minor; 16 Februari 2016, salah satu poin dalam deklarasi bersama Paus Fransiskus, pemimpin Gereja Katolik Roma dan pemimpin Gereja Ortodoks Rusia, Patriark Kirill dari Moskow dan Rusia Raya; 22 September 2015, perbaikan bahasa; 9 April 2015, update; 24 Januari 2015, perbaikan bahasa dan edit typo.

 

Catatan kaki:

  1. Tulisan ini dimuat setelah membaca deklarasi yang dimuat Pdt Joas di grup itu dan menanyakan Pdt Joas apakah dapat dilaporkan di media kami. Pdt Joas mengiyakan dan merekomendasikan untuk menghubungi Pdt Stephen untuk informasi lebih jauh.
  2. Pdt Stephen dan Pdt Joas pada akhirnya tidak pernah memberikan tanggapan terhadap pertanyaan itu.
  3.  Dalam perdebatan sengit di grup media sosial tersebut setelah tulisan ini dimuat, Pdt Joas akhirnya memberi klarifikasi dalam diskusi tersebut tentang posisi STT Jakarta mengenai isu praktek homoseksual; lihat update di bawah.
  4. Sejauh pengetahuan penulis Pdt Stephen dan Pdt Joas juga tidak pernah memberikan tanggapan terhadap pertanyaan chaplain Sui Thie itu; tanggapannya yang dikutip di atas dimuat dengan izin.