AP hapus foto penghinaan terhadap kekristenan pasca tragedi Charlie Hebdo

APPerusahaan media The Associated Press (AP) menghapus sebuah foto dari situs webnya setelah seorang jurnalis menunjukkan bahwa perusahaan itu menerapkan standar ganda menyangkut kebijakan pemuatan gambar provokatif.

AP sebelumnya menolak memuat gambar kartun Charlie Hebdo yang mengejek Nabi Muhammad, dengan salah seorang jurubicaranya pada hari Rabu mengatakan bahwa adalah kebijakan mereka sejak bertahun-tahun untuk tidak memuat “gambar yang terang-terangan profokatif,” demikian The Christian Post.

Seorang jurnalis pada media The Washington Examiner, Timothy Carner, kemudian di hari itu menunjukkan bahwa AP memuat foto dari tahun 1989 yang menyinggung perasaan banyak orang Kristen dan jelas provokatif. Ia mengambil gambar layar halaman AP yang memuat foto yang menggambarkan sebuah salib dalam sebuah stoples berisi urine.

Tak lama kemudian gambar itu tidak lagi bisa diakses. Setelah penarikan foto itu seorang jurubicara AP mengatakan kepada Politico bahwa AP terus merevisi dan meninjau kebijakannya sejak 1989 ketika foto tersebut diambil.

Editor majalah satir Charlie Hebdo, Stephane Charbonnier, dan kartunis Jean Cabut termasuk dalam 12 orang yang tewas dalam serangan tiga oknum bersenjata di kantor majalah itu pada hari Rabu, 7 Januari 201 5. Dugaan kuat karena gambar kartun yang mengejek tersebut.

Badan Kepausan untuk Dialog Lintas-agama di Vatikan mengeluarkan pernyataan bersama dengan empat imam Perancis pada Rabu mengecam tindakan itu, dan mengingatkan bahwa dunia berada dalam bahaya jika kebebasan berpendapat tidak dilindungi, demikian media Katolik  Zenit.

Pernyataan itu mengajak para pemimpin agama untuk mendukung lahirnya “budaya perdamaian dan pengharapan” untuk mengatasi ketakutan dan membangun jembatan antar orang.

Mengingatkan pengaruh media yang besar, pernyataan itu mengajak para pemimpin media untuk menyajikan informasi yang menghargai agama-agama, para pengikutnya dan praktek keagamaannya, dengan demikian melahirkan budaya pertemuan.

 

Berita lainya:

French atheist editor murdered by Muslims also often printed vile mockeries of Christ, ChristianNews (9 Januari 2015).