Pemimpin dua gereja awal bertemu di Turki bahas isu penganiayaan orang Kristen

Paus Fransiskus dan Patriark Bartholomew I pada pertemuan di Yerusalem Mei lalu. (Foto: GreekReporter.com)

Paus Fransiskus dan Patriark Bartholomew I pada pertemuan di Yerusalem Mei lalu. (Foto: GreekReporter.com)

Penganiayaan terhadap orang Kristen merupakan salah satu isu utama yang akan dibahas oleh Paus Fransiskus, pemimpin Gereja Katolik, dan Patriark Ekumenis Gereja Ortodoks, Bartolomeus I, dalam pertemuan mereka pada Hari Raya St. Andreas 30 November 2014 di Turki.

Pemimpin kedua gereja Kristen awal itu akan bertemu secara khusus di patriarkal Gereja St. George diawali dengan doa bersama.

Kedua pemimpin ini telah memupuk hubungan dekat satu dengan lain. Patriark Bartolomeus I turut menghadiri pentahbisan Sri Paus pada Maret 2013, yang pertama setelah Skisma Besar Gereja pada tahun 1052.

Mei 2014 lalu keduanya bertemu di Yerusalem dalam apa yang disebut sebagai “pertemuan bersejarah,” diikuti kunjungan Patriark Bartholomeus I ke Vatikan dalam acara “Doa Perdamaian untuk Timur Tengah” pada perayaan Pentakosta.

Gereja Ortodoks dengan sekitar 300 juta anggota jemaat merupakan gereja terbesar kedua setelah Gereja Katolik yang memiliki sekitar 1, 3 miliar anggota jemaat.

Kunjungan tiga hari Paus Fransiskus atas undangan Patriark Ekumenis Bartolomeus I, sebagai Uskup Agung Konstantinopel, dan Pemerintah Turki. Ini kali ke empat seorang paus mengunjungi negara yang pernah menjadi pusat Kekristenan Timur itu.

“Ia datang pada saat yang penting, terkait perkembangan situasi di Timur Tengah, dan pada saat gambaran dan peran Turki dalam kaitan dengan ISIS dan Presiden Suriah Bashar al-Assad sedang mendekat pada titik balik,” ungkap seorang sumber diplomatik senior di Roma kepada NCR.

Profesor Francesco Zannini, dosen bahasa Arab dan studi Islam di Pontifical Institute for Arab and Islamic Studies di Roma mengatakan “Apa yang terjadi di Irak dapat jadi telah mengubah sikap umat Islam yang melihat bahwa baik Kristen dan Muslim menghadapi musuh yang sama,” demikian NCR.  Ia menggaris bawahi adanya sikap sepenanggungan di antara umat Kristen di dunia terhadap saudara-saudara mereka yang merupakan kelompok kecil di Timur Tengah.

Sebelumnya dalam perjalanan ke Strasbourg minggu ini, berkaitan dengan ISIS, Paus Fransiskus mengatakan “jangan pernah menutup pintu” dialog.

“Pada jalan dialog, iman, pengertian, empati, dan tahan menderita adalah kualitas yang perlu dimiliki,” ungkap Profesor Zannini. Ia menilai Paus memiliki kualitas itu.

Dalam kunjungan ke Turki ini Paus Fransiskus akan juga bertemu dengan Presiden Recep Tayyip Erdoğan yang mempersiapkan sambutan “kelas A.” Selain itu Sri Paus dijadwalkan mengunjungi Museum Hagia Sophia, Museum Sultan Ahmed (dikenal sebagai Museum Biru), dan Gereja Katolik Katedral Roh Kudus.

Topik lainnya yang akan dibahas dalam pertemuan dengan Patriark Ekumenis adalah hubungan gereja dan negara, ekumene, dialog antara kelompok Kristen dengan Muslim.

Kunjungan ini dapat “memainkan peran penting dalam mencari jalan keluar untuk masalah-masalah di Timur Tengah di mana umat Muslim, beberapa golongan umat Kristen dan umat Yahudi tinggal,” ungkap Profesor Zannini.

Mustafa Cenap Aydin, direktur asal Turki di pusat keislaman Istituto Tevere di Roma menyentil pilihan Paus untuk menggunakan nama Fransiskus, yang mengingatkan pada pertemuan terkenal antara St. Fransiskus Asisi dengan Sultan Malik al-Kamil.

 

 

Berita lainnya:

Pope and Patriarch at Prayer Marks Historic Chapter in Ecumenism, NCR (25 Mei 2014).

Pope Francis Treks to Turkey to Visit Patriarch Bartholomew, NCR  (27 November 2014).

Pope to Turkish Authorities: ‘We Must Renew the Courage of Peace’, NCR (28 November 2014).

St. Francis of Assisi Full Movie, Youtube.