Mencegah HIV/AIDS dengan mengembangkan ketahanan ekonomi dan spiritual

Sebuah poster penanggulangan AIDS di Afrika.

EKKLESIASTIKA — Penyakit AIDS adalah tingkat terakhir dari infeksi virus HIV yang menyerang sistem kekebalan/ketahanan tubuh. Sampai saat ini belum ditemukan obat untuk mengatasi HIV. Seiring dengan berkurangnya kekebalan tubuh, penderita menjadi rentan terhadap berbagai penyakit termasuk beberapa jenis kanker. Sekali virus HIV masuk ke dalam tubuh seseorang, virus itu akan tinggal dalam tubuhnya sepanjang sisa hidupnya.

 

Wabah HIV/AIDS

Menurut Badan Kesehatan Dunia PBB (WHO) penderita HIV/AIDS banyak terdapat di antara negara-negara berpenghasilan rendah sampai menengah. Sub-Sahara Afrika adalah wilayah dengan kasus HIV/AIDS tertinggi di dunia dengan 24,7 juta orang hidup dengan HIV/AIDS pada 2013.

Namun negara-negara di Eropa dan Amerika juga dikuatirkan dengan lajunya penyebaran penyakit ini. Menurut data lama tahun 2010 sekitar 2, 2 juta orang hidup dengan HIV di Amerika Utara dan Eropa Barat dan Tengah.

Secara khusus di Amerika Serikat, menurut data badan penanggulangan penyakit Centers for Disease Control and Prevention (CDC) tahun 2012, ada sekitar 1, 2 juta orang hidup dengan HIV di negara itu, dengan sekitar 50.000 kasus baru pertahun. Tingkat penyebaran tertinggi adalah di antara LSL (laki-laki seks laki laki), menempati 78% kasus pada pria, dan 63% dari semua kasus.

Sementara posisi Indonesia, sekalipun masih lebih baik, namun sangat mengkuatirkan. “Indonesia merupakan salah satu negara dengan laju penularan HIV tercepat di Asia Tenggara,” demikian siaran pers Lembaga Kesehatan Nahdatul Ulama pada Januari 2014 lalu.

Menurut laporan Kementerian Kesehatan yang dimuat oleh Yayasan Spiritia, pada Juli-September 2014 infeksi HIV yang baru dilaporkan sebanyak 7.335 kasus. Secara kumulatif kasus HIV & AIDS dari 1 Januari 1987 (kasus pertama) sampai dengan 30 September 2014, terdiri dari: HIV: 150.296 dan AIDS: 55.799.

 

Salah satu sisi permasalahan

Hal yang perlu menjadi sorotan dalam penyebaran HIV/AIDS adalah para TKI/TKW (baik internasional maupun domestik) yang seringkali diperhadapkan dengan kondisi yang sulit. Mencari secercah harapan di negeri/daerah orang, tak jarang mereka menjadi sasaran eksploitasi dan berbagai bentuk pelecehan yang membuat mereka rentan terjangkit penyakit menular.

Sisi penyebaran HIV/AIDS ini yang menjadi sorotan Dr Jason Hickel, dosen di London School of Economics. Dalam artikelnya berjudul Neoliberal plague: AIDS and global capitalism (wabah neoliberal: AIDS dan kapitalisme global) ia menyoroti kegagalan “Bank Dunia, UNAIDS, dan kebanyakan LSM” yang menggunakan pendekatan “kesadaran” dan “merubah perilaku” sebagai jalan keluar utama menanggulangi AIDS di Afrika.

Menurutnya membangun “kesadaran” lebih menyentuh orang-orang yang memiliki uang, karena partisipasi mereka dalam hubungan seksual beresiko merupakan “pilihan.” Sementara bagi yang miskin, keterlibatan mereka dalam hal demikian pada umumnya karena dipaksa oleh “faktor struktural yang berada di luar kendali mereka.”

“Di Afrika bagian selatan, orang miskin banyak kali terpaksa untuk mencari kerja di tempat lain dan terlibat dalam hubungan seks transaksional demi mendapatkan penghasilan. Hal ini adalah pendorong utama penyebaran HIV.”

Menurutnya diperlukan suatu pendekatan baru terhadap masalah AIDS. Ia berpendapat bahwa yang menjadi akar permasalahan adalah kondisi yang menyebabkan munculnya aktivitas seksual yang mengekspos orang miskin pada penyakit yang tak ada obatnya ini.

Mengikuti pandangan demikian berarti “…tidak lagi menyalahkan orang-orang yang menjadi korban AIDS, melainkan para aktor tertentu yang berkuasa dan yang mengatur ekonomi wilayah ini untuk keuntungan mereka sendiri, dan menaruh jutaan orang dalam kondisi yang memfasilitasi penyebaran HIV. AIDS bukan penyakit, itu merupakan gejala — sebuah gejala tata global yang tidak adil,” tulisnya.

 

Mengembangkan ketahanan ekonomi

Menghadapi ketidak adilan terstruktur bukan suatu hal yang mudah. Banyak korban, yang adalah masyarakat kecil, tidak merasa bahwa apa yang mereka terima sebagai “nasib,” merupakan akibat dari tindakan orang-orang yang tamak dan yang tidak bertanggung jawab. Di sisi lain, menyadari hal tersebut juga bukan semerta-merta membawa pada sebuah solusi, karena mereka masih harus menghadapi kekuasaan yang tidak menghidupkan itu.

Dalam situasi demikian masyarakat kecil harus dapat menyatukan barisan dan bekerja sama untuk menolak berpartisipasi dalam struktur yang menjajah mereka, sementara pada saat yang sama saling membantu untuk dapat melanjutkan hidup yang bermartabat.

Menghadapi HIV yang menyerang sistem ketahanan tubuh, masyarakat perlu mengembangkan sistem ketahanan ekonomi yang dapat menghindarkan mereka dari perbudakan oleh sistem yang tidak adil.

Salah satu ide kreatif yang muncul dalam pergumulan masyarakat miskin Banglades adalah Bank Grameen. Lihat misalnya artikel ANTARANews “Perbudakan bisa dicegah dengan microfinance.”

Di antara hal yang lain, memulai usaha kecil atau membentuk usaha bersama dapat menopang kebutuhan ekonomi keluarga, di samping hal sederhana seperti menghindari pola hidup konsumeris, dan memilih cara hidup sederhana dan bersahaja. Masyarakat perlu secara sadar (intentional) mengarahkan kegiatan ekonominya untuk saling menopang dan menggunakan sumber daya yang ada untuk saling menunjang.

Virus yang menyerang ketahanan tubuh dapat dihindari ketika masyarakat mengembangkan ketahanan ekonomi, dan yang tak kalah penting, ketahanan spiritual (kerohanian).

 

Ketahanan spiritual sebagai benteng ketahanan tubuh

Berlawanan dengan kampanye kondom (baik oleh pemerintah tertentu atau perusahaan pembuat kondom), penggunaannya tidak dapat melindungi seseorang dari HIV. Adalah tepat jika masyarakat menolak “bagi-bagi kondom” seperti yang dilakukan oleh Gorontalo Utara. Kekuatiran bahwa kampanye kondom hanya mendorong perilaku seks tak bertanggung jawab adalah sangat beralasan. Namun demikian, pada saat yang sama masyarakat dan pemerintah dapat mendorong mereka yang berparitisipasi dalam aktivitas seks beresiko tinggi untuk menggunakannya (paling tidak sebagai insentif psikologi, karena pada kenyataannya kondom tidak akan dapat melindungi mereka dari penyakit-penyakit seksual menular.)

Cara yang paling efektif untuk menghindari infeksi HIV dan penyakit-penyakit seksual menular adalah abstinence, yaitu tidak melakukan perzinahan (berhubungan seks sebelum menikah atau di luar nikah). Kekudusan hidup ternyata mempunyai segi praktis yang mendatangkan hidup. Ketahanan di bidang kerohanian dapat menghindarkan masyarakat dari aktivitas-aktivitas beresiko penularan HIV lainnya, seperti penyalahgunaan Narkoba dengan menggunakan jarum suntik.

Kegagalan dalam menjaga ketahanan spiritual secara nyata dapat berakibat langsung pada rusaknya sistem ketahanan tubuh pribadi maupun orang lain. Kita telah mendengar kesaksian tentang sang ayah tidak menghormati janji pernikahannya, sampai akhirnya pulang ke rumah membawa penyakit yang tak tersembuhkan. Isteri pun terjangkit. Anak yang lahir dari buah cinta mereka pun harus menanggung derita membawa penyakit itu dalam kehidupannya.

Dalam upaya mencegah lebih meluasnya penyakit mematikan ini, masyarakat beragama perlu menempatkan orang dengan HIV pada posisi yang sebenarnya, yaitu sebagai sesama manusia yang bergumul dengan ketidak adilan dan dosa, sama seperti semua orang lainnya. Pemahaman yang demikian, termasuk dengan memahami seluk beluk penyakit HIV/AIDS, cara penularan dan bagaimana para ODHA (orang dengan HIV/AIDS) memperoleh perawatan, dapat membantu kita semua mencegah dan memberantas HIV/AIDS tanpa mengorbankan martabat kemanusiaan yang dianugerahkan oleh Sang Pencipta.

 

 

Catatan akhir:

Penanggulangan penyakit HIV/AIDS di Afrika tidak semata-mata kegagalan. Ada pula cerita sukses seperti di Uganda. Lihat: Uganda clearly shows contraceptives not the answer to HIV/AIDS epidemic, LifeSiteNews.com (11 Oktober 2011).

 

Referensi:

A.D.A.M. Medical Encyclopedia. HIV/AIDS, www.ncbi.nlm.nih.gov.

Key facts on HIV epidemic and progress in regions and countries in 2010: Based on Progress report 2011: Global HIV/AIDS response, www.who.int.

10 facts on HIV/AIDS, www.who.int.

HIV/AIDS: Fact sheet N°360, www.who.int.

Today’s HIV/AIDS Epidemics, CDC.gov (pdf).

Dr Jason Hickel, Neoliberal plague: AIDS and global capitalism, AlJazeera.com, 7 Desember 2012.

Gorontalo Utara tolak pembagian kondom gratis, ANTARANews.com, 7 Desember 2013.

Statistik Kasus AIDS di Indonesia, Yayasan Spiritia.

Siaran Pers – Nahdlatul Ulama : ‘Kyai dan Warga Nahdliyin Jihad Melawan AIDS, via Komisi Penanggulangan AIDS.

Perbudakan bisa dicegah dengan microfinance, ANTARANews.com, 19 November 2014.

 

Diperbarui 1 Desember 2014.