Restu Indah: Wartawan yang mengangkat semangat toleransi di kota Malang pada perayaan Idul Adha

Ketua Takmir Masjid Agung Jami Kota Malang, Zainuddin A Muhit.(Foto: via VivaNews.com//D.A. Pitaloka)

Ketua takmir Masjid Agung di Kota Malang, Zainuddin A Muchit, mengucapkan terima kasih dan permohonan maaf kepada jemaat Gereja Protestan Indonesia Barat (GPIB) Immanuel, karena Sholat Idul Adha pada Minggu (5/10) lalu menyebabkan ibadah gereja tertunda.

Ungkapan simpatik Ketua Takmir Masjid Agung Jami di hadapan umat yang menunaikan ibadah pada saat itu didengar oleh Restu Indah, penyiar dan wartawan Radio Suara Surabaya.

Restu, yang saat itu sedang libur, memutuskan untuk menuliskannya di media sosial, karena menganggap peristiwa itu penting, demikian TribunNews (10/10). Ribuan pengguna media sosial pun menanggapi positif cerminan toleransi itu.

“Saya ingin menyampaikan ini karena momentum yang luar biasa buat umat Islam dan toleransi yang besar dari umat Nasrani,” kata Restu kepada BBC Indonesia seperti dikutip TribunNews. 

 

Letak gereja GPIB Immanuel berdekatan dengan Masjid Agung, sehingga pada hari-hari raya besar umat Islam, kegiatan gereja terpengaruhi oleh jumlah besar umat Muslim yang hadir.

Menurut pemimpin GPIB Immanuel, Pdt Emmawati Balue, jemaat telah diberitahu sebelumnya tentang penundaan itu serta alasannya.

“Karena kami menyadari kita ‘kan ibarat rumah, kita bertetangga bersebelah rumah,” katanya kepada BBC Indonesia seperti dikutip TribunNews.

“Buat saya, itulah kebahagiaan yang bisa kita bagi sebagai sesama anak bangsa,” tambahnya. Ia menjelaskan bahwa jemaat Kristen dapat memarkir mobil atau motor hingga di sekitar masjid Agung ketika jemaat Immanuel menggelar ibadah dan dihadiri sejumlah besar jemaat.

“Juga menjelang perayaan Natal, teman-teman pengurus masjid, atau remaja masjidnya, ikut menjaga keamanan gereja,” ungkapnya memberi contoh.

“Kami itu bertetangga sudah lebih dari seratus tahun,” kata Ketua Takmir Masjid Agung Jami seperti dikutip TribunNews. “Dalam ajaran Islam, walaupun ada perbedaan agama, tetangga itu harus dihormati.”

Salah seorang pengguna medsos (media sosial) yang menanggapi informasi itu menulis, “Indahnya kebersamaan, bisa saling mengerti dan memahami walaupun berbeda agama.”