Rabi Yahudi desak Gereja Katolik pertahankan ajaran tentang keluarga dan kehidupan

Rabi Yehuda Levin. (Foto: Qwertyqazqaz1/CC)

Rabi Yehuda Levin. (Foto: Qwertyqazqaz1/CC)

Rabi Yehuda Levin, 60, dari Brooklyn, New York, mendesak supaya Gereja Roma Katolik tidak mengakomodasi agenda homoseksual dalam pertemuan sinodal luarbiasa para Uskup untuk membahas tentang keluarga di Vatikan, 5-19 Oktober 2014. Pertemuan itu diberi tema “Tantangan pastoral terhadap keluarga dalam konteks pekabaran Injil.”

“Gereja Katolik adalah kubu pertahanan nyata di PBB dan dunia internasional, penjaga utama nilai-nilai keluarga dan pro-kehidupan,” ungkap rabi yang mempunyai acara radio mingguan ini seperti dikutip LSN (2/10/2014).

Ia mengatakan bahwa Yahudi Ortodoks memiliki nilai-nilai yang sama, dan bergantung pada Gereja Katolik sebagai sekutu. “Ketika suatu hal masuk dalam komunitas Kristen, hal itu segera masuk dalam komunitas Yahudi,” katanya.

Rabi Levin merujuk pada pembicaraan tentang respon pastoral terhadap pasangan sesama jenis dalam pertemuan itu.

“Mengapa juga membahas pasangan sejenis?” tanyanya. Ia mengatakan bahwa Kitab Suci berbicara jelas tentang imoralitas hubungan sesama jenis, dan “belas kasih yang sejati” menuntut supaya kita memanggil sesama kita keluar dari dosa mereka.

LSN melaporkan Rabi Levin merasa kuatir bahwa sejumlah pemimpin Katolik sedang termakan oleh “metodologi militan” yang secara sistematis digulirkan oleh aktivis radikal yang telah memaksa sekolah umum, pemerintah, dan organisasi profesional seperti American Psychological Association untuk menerima homoseksualitas sebagai hal yang normal.

Rabi Levin adalah juru bicara dari Rabbinical Alliance of America (aliansi rabinik Amerika) dengan lebih dari 800 anggota. Ia mengatakan bahwa ia berbicara bukan dalam kapasitas itu.

Yang sebenarnya adalah [praktek] homoseksualitas adalah salah, dan mengambil pendekatan seperti yang disebut “non-judgmental” (tidak menghakimi) hanya akan mendorong pertumbuhannya. “Ada hal yang lebih buruk daripada membunuh seorang anak,” ungkapnya. “Karena, seperti yang ditulis dalam Talmud, ketika seorang membunuh yang lain secara fisik, ia tidak menyentuhnya secara spiritual. Tapi ketika seorang menuntun yang lain dalam dosa yang keji, orang itu membunuhnya secara rohani dalam dunia ini dan dunia yang akan datang.”