Pemerintah Minahasa dan Papua harus bijak menyelesaikan kasus kriminal yang melibatkan masyarakat Tataaran dan mahasiswa Papua

Salah satu sudut Universitas Negeri Manado. (Foto: stad.com)

Salah satu sudut Universitas Negeri Manado. (Foto: stad.com)

Kasus kriminal yang menyebabkan tewasnya salah seorang mahasiswa Politeknik Negeri Manado asal Papua akibat bentrok fisik di Kelurahan Tataaran, Tondano, harus disikapi secara bijaksana oleh semua pihak, teristimewa pemimpin Minahasa dan Papua.

Sekalipun kasus ini murni kriminal, para pemimpin daerah memiliki tugas penting untuk meredam efek samping dan potensi provokasi dari kejadian memilukan tersebut.

Hal ini terlebih khusus karena hubungan antara etnis Minahasa dan Papua selama ini yang terjalin dengan baik, salah satunya karena direkatkan oleh iman Kristen yang merupakan mayoritas di kedua daerah.

Pemerintah Minahasa dapat belajar dari kasus perkelahian yang berakhir dengan tewasnya seorang warga Kamasi oleh seorang warga Paslaten asal Gorontalo di Pasar Beriman Tomohon pada Desember 2011.

Isu suku dan agama sempat dihembus-hembuskan menyusul tragedi tersebut, namun kedewasaan masyarakat dan sikap pro-aktif pemerintah dan tokoh masyarakat/agama setempat berbuahkan keamanan yang manis, dan proses hukum atas kasus tersebut berjalan sesuai aturan.

Hal yang patut diapresiasi dari peristiwa itu adalah hadirnya pihak pemerintah Gorontalo pada acara pemakaman korban, dengan membawakan rasa belasungkawa, mengingatkan hubungan kekerabatan antara Gorontalo dan seluruh masyarakat Sulawesi Utara, serta memberikan sumbangan duka kepada keluarga korban.

Peran serta TNI/Polri, tokoh masyarakat dan tokoh agama, serta keterbukaan berpikir masyarakat pada waktu itu, berhasil menghindarkan masyarakat luas dari tragedi konflik etnik yang kejam, apakah di Tomohon (Minahasa) maupun di Gorontalo.

Namun dari semua itu, tak kalah penting adalah sikap pemerintah Gorontalo yang mencerminkan kepekaan terhadap situasi, sehingga mengambil langkah yang secara adat memberi tanda batas pada peristiwa kriminal tersebut, dan masyarakat, terlebih khusus keluarga, bisa masuk pada proses berduka tanpa ada lagi yang mengganjal.

Masyarakat luas yang telah mengikuti perkembangan situasi di wilayah Tataaran-Tounsaru, lokasi Universitas Negeri Manado (UNIMA), memahami bahwa minuman keras memainkan peranan utama dalam keributan yang berujung pada perkelahian antara para mahasiswa dan masyarakat setempat.

Kembali kita diingatkan bahwa konsumsi minuman keras dapat memicu berbagai kerawanan, bahkan mengancam perdamaian dan keutuhan hidup bersama.

Hal ini merupakan PR bagi pihak kepolisian, tokoh agama dan tokoh masyarakat (termasuk tokoh pemuda) untuk terus menyadarkan masyarakat bahwa penyalah-gunaan alkohol dapat merugikan kita semua. Selain itu, kegiatan keamanan preventif (bersifat pencegahan) harus digalakkan oleh pihak kepolisian dan personel keamanan lingkungan.

Pihak pemerintah, penjaga keamanan, dan tokoh-tokoh agama dan masyarakat telah menghimbau seluruh masyarakat agar tidak terprovokasi isu-isu, atau kabar burung yang sengaja disebar-luaskan lewat media sosial (medsos) untuk memperkeruh masalah.

Kita semua memahami bahwa agenda mereka ini adalah menciptakan kekacauan, memecah belah, mengakibatkan saling membinasakan, kemudian merampas/menguasai sumber daya alam.

Itu sebabnya, pemerintah Minahasa dan Papua perlu pro-aktif dalam meredam isu-isu sesat, dan berkoordinasi mengenai cara yang tepat, sesuai kebajikan adat istiadat dan nilai-nilai keagamaan, untuk mencari sebuah resolusi yang memenuhi asas keadilan.

 

Renungan untuk pendidikan kita

“Kami sudah menurunkan tim untuk mencari tersangka pembunuhan mahasiswa asal Papua, serta mencari mahasiswa Papua yang diduga pertama membuat onar di Tataaran hingga memancing amarah dari masyarakat,” demikian ungkap Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Sulut, AKBP Wilson Damanik seperti dikutip media Cybersulutnews.

Sebagai masyarakat yang mendambakan hidup damai dan tentram, tugas kita bersama adalah mendukung upaya pihak kepolisian untuk menyelesaikan kasus kriminal ini, dan mendoakan supaya kejadian seperti ini tidak terulang kembali.

Doa kita terlebih khusus bagi para mahasiswa asal Papua yang sementara studi di UNIMA. Peristiwa naas ini, ironis terjadi pada perayaan wisudaan, pasti mengakibatkan trauma yang dalam, sehingga bukan hal yang berlebihan jika terdengar ungkapan bahwa sejumlah mahasiswa mempertimbangkan untuk pindah dari UNIMA.

Jika terjadi maka perlu sayangkan, terutama oleh warga Tataaran sendiri. Kehadiran mahasiswa dari Papua dengan sendirinya telah menunjang perputaran ekonomi masyarakat setempat. Kedatangan mereka juga perlu diapresiasi masyarakat adat Minahasa pada umumnya karena mereka tidak hanya datang untuk menuntut ilmu, namun juga secara otomatis datang sebagai duta budaya, sehingga dapat saling bertukar dengan khazanah budaya adat Minahasa.

Kabid Humas Damanik telah menekankan bahwa “mahasiswa [Papua] datang dengan tujuan untuk belajar.” Hal ini yang harus diingat oleh masyarakat di seputar UNIMA, supaya tujuan mereka itu dihargai dan kehadiran saudara-saudari dari Papua dihormati.

Istilah “saling hormat-menghormati” memang harus selalu kita pakai tanpa bosan-bosan. Karena istilah itu adalah ramuan utama perdamaian. Sedangkan ada berbagai rupa musuh utama perdamaian, dan salah satunya adalah “roh akel” atau minuman keras.

Sebuah ungkapan di Minahasa, sekalipun seorang punya pembawaan pemalu, jika sudah di bawah pengaruh minuman dapat berubah 180 derajat; bisa jadi tidak tahu hormat-menghormati. Hal ini adalah umum, tidak terbatas pada satu etnis saja.

Hormat-menghormati membuka peluang pada tersedianya iklim pendidikan yang kondusif, yang mendorong pengembangan sumber daya manusia yang adalah penting untuk dapat mengolah sumber daya alam yang dikaruniakan Tuhan kepada setiap masyarakat.

Kematian Petius Tabone, mahasiswa Politeknik Negeri Manado, adalah sebuah tragedi pendidikan. Itu dapat jadi merupakan akhir menyakitkan dari sebuah impian atau cita-cita. Sebuah mimpi buruk bagi keluarga dan para sahabat yang ditinggalkan. Namun, kematiannya menunjukkan pula apa yang kurang dalam pendidikan kita.

Pendidikan kita dan kelembagaannya telah semakin jauh dari kehidupan bermasyarakat. Mahasiswa seringkali menjadi sebuah kategori yang lepas dari kategori lainnya; lepas dari kategori masyarakat, bahkan lepas dari kategori keluarga; lepas dari warisan adat-istiadatnya yang selalu mengutamakan sikap saling menghormati, saling menghargai.

Pendidikan kita terkesan mengikuti trend pendidikan Barat yang terobsesi dengan knowledge (pengetahuan), tapi mengenyampingkan wisdom (kebajikan). Akibatnya, pendidikan kita seperti kehilangan jati dirinya sendiri. Kehilangan nilai-nilainya itu.

Lembaga pendidikan yang telah kehilangan nilai-nilai demikian itu, kehilangan jati diri, akan gagal memberi pengaruh yang positif terhadap masyarakat di mana ia hadir. Bahkan, jika tidak diwaspadai, akan mengarah pada pengeroposan sendi-sendi masyarakat itu sendiri.

Semoga duka keluarga dan sahabat Petius Tabone, dan luka-luka yang dialami baik oleh mahasiswa-mahasiswa lainnya maupun sejumlah masyarakat Tataaran, tidak menjadi sia-sia, atau bahkan menambah luka dan derita orang-orang lain yang ingin belajar, ingin bekerja, dan bercita-cita ingin membangun negeri di mana saja mereka pergi.

Ada rasa sesal yang mendalam terhadap peristiwa ini, sedalam rasa duka dan belasungkawa untuk keluarga yang ditinggalkan. Kiranya Tuhan memberi kita semua kebajikan, supaya dalam terus memperbaiki apa yang masih kurang, kita teguh beriman dalam menghadapi berbagai cobaan dan tantangan di dunia ini.