Kontroversi laporan awal pertemuan para uskup Gereja Katolik mengenai keluarga

Para uskup dalam sebuah sesi pada 10 Oktober. (Foto: Daniel Ibanez/CNA)

Para uskup dalam sebuah sesi pada 10 Oktober. (Foto: Daniel Ibanez/CNA)

TERKINI: Paus Fransiskus membuka Sinode para Uskup mengenai keluarga Kristen: Pernikahan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan adalah fondasi sebuah keluarga, 5 Oktober 2015.

Pertemuan sinodal luarbiasa para uskup yang membahas tentang keluarga (The Extraordinary Synod of Bishops on the Family) Gereja Katolik Roma di Vatikan telah mengeluarkan laporan awal bertanggal 13 Oktober 2014.

Laporan tengah-pertemuan itu (Relatio Post Disceptationem), disebut pemimpin delegasi Kardinal Anthony Tagle dari Filipina “menunjukkan apa yang telah dibahas” para uskup sejauh ini, demikian media Katolik National Catholic Register (NCR).

Kardinal Peter Erdo dari Hungaria, yang diberi tugas menuntun sekaligus menulis laporan pertemuan itu, menekankan bahwa laporan tengah-pertemuan ini “tidak menunjukkan keputusan yang telah diambil,” melainkan dimaksudkan “untuk memunculkan pertanyaan-pertanyaan dan menunjukkan pandangan-pandangan yang perlu dimatangkan,” demikian kutip NCR. 

Laporan awal pertemuan bertema “Tantangan pastoral terhadap keluarga dalam konteks pekabaran Injil” itu merangkum pandangan-pandangan yang diungkapkan para uskup, ahli dan awam.

Di antaranya bagaimana menyikapi konteks pastoral pasangan yang menikah sipil tapi tidak secara gerejawi, mereka yang cerai dan kawin lagi, termasuk pasangan sesama jenis.

[TERKAIT: Rabi Yahudi desak Gereja Katolik pertahankan ajaran tentang keluarga dan kehidupan]

Laporan itu menunjukkan bahwa apa yang “terdengar” jelas dalam pertemuan ini adalah “kebutuhan akan adanya pilihan pastoral yang berani” berkaitan dengan pelayanan pastoral bagi keluarga yang menderita akibat berpisah, yang bercerai dan yang bercerai dan menikah sipil. “Di atas semuanya, hal yang perlu dihargai adalah penderitaan mereka yang telah mengalami perpisahan dan perceraian yang tidak adil.”

Bagian yang menjadi paling kontroversial adalah poin tentang mereka yang memiliki ketertarikan seksual terhadap sesama jenis. Laporan itu menyebut pandangan bahwa mereka yang memiliki ketertarikan sesama jenis “memiliki talenta dan kualitas yang dapat diberikan untuk komunitas Kristen,” dan mengajukan pertanyaan, apakah Katolik dapat “menerima dan menghargai orientasi seksual mereka” tanpa mengesampingkan ajaran Katolik. Bahasa ini yang diekspresikan Kardinal Erdo dalam sambutannya yang berlangsung hampir satu jam pada Senin (13/10) di hadapan Paus Fransiskus dan peserta sinode, seperti dilaporkan Catholic News Service (CNS).

(Update) Kekeliruan penerjemahan menghasilkan kontroversi. Kata kunci “valutando” diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan “menghargai.” Pada sebenarnya kata itu berarti “mengevaluasi” yang dalam konteks ini adalah “mempertimbangkan.” (NCR

Laporan itu juga menyebut bahwa penyatuan pasangan sejenis “memiliki kebaikan intrinsik dan memiliki kontribusi berharga terhadap masyarakat lebih luas dan kebaikan bersama.”

Kelompok pendukung hubungan sesama jenis, Quest, yang berbasis di London, telah mengeluk-elukan bagian itu sebagai sebuah “terobosan,” demikian NCR.

NCR melansir tanggapan direktur Catholic Family & Human Rights Institute (C-FAM) Austin Ruse yang mengungkapkan bahwa ia merasa sangat prihatin mengenai apa yang akan terjadi pada pertemuan sinodal para uskup tahun depan (2015).

Ia mengatakan bahwa alinea mengenai talenta mereka yang memiliki ketertarikan sesama jenis bagi Gereja Katolik “tidak disertai penjelasan secara lebih luas,” dibandingkan dengan pendapat mengenai pemberian Sakramen Perjamuan Kudus bagi yang bercerai dan kawin lagi, yakni melalui “jalan pertobatan” (penitential path).

Dalam pertemuan pers Senin (13/10) malam, Kar. Erdo didampingi Kar.  Tagle, dan Kar. Ricardo Ezzati Andrello dari Chile dan Uskup Agung Bruno Forte dari Italia menjawab sejumlah pertanyaan menyangkut laporan itu.

Kar. Ezzati memberi kesan bahwa pembicaraan tentang anak-anak masih kurang. “Sudah ada banyak pembicaraan mengenai orang tua dan sedikit tentang anak-anak,” katanya seperti dikutip media Vatikan.

Ketika ditanyakan tentang pembahasaan mengenai mereka yang memiliki ketertarikan sesama jenis dalam laporan itu, terutama mengenai talenta mereka bagi gereja, Uskup Agung Forte menjawab bahwa ungkapan itu didasarkan pada martabat manusia.

“Kita harus menghormati martabat setiap manusia,” kata Uskup Agung Forte. “Kenyataan bagi seorang yang memiliki ketertarikan sesama jenis bukan berarti bahwa martabat ini tidak bisa dihargai dan didukung. Jadi pemikiran mendasar [di sini] adalah sentralitas seorang manusia lepas dari orientasi seksual.”

Dalam pertemuan pers Kar. Tagle mengatakan bahwa sambutan Kar. Erdo “tidak untuk dilihat sebagai dokumen final dari sinode,” melainkan sebagai bahan untuk diskusi lebih jauh, yaitu sampai penutupannya pada 18 Oktober waktu setempat, demikian CNS.

Katekismus Gereja Katolik menyebut ketertarikan sesama jenis sebagai “objectively disordered” (secara objektif merupakan kelainan) sekaligus menyerukan “penghargaan, belas kasih, dan kepekaan” terhadap mereka dengan ketertarikan sesama jenis. Pada 2003 Gereja mengeluarkan dokumen yang menyebut bahwa mengijinkan adopsi bagi pasangan sesama jenis merupakan pelanggaran moral yang berat, dan yang turut berarti melakukan pelanggaran terhadap anak-anak.

Pertemuan sinodal para uskup ini belum akan memberikan suatu kesimpulan, tetapi akan menentukan agenda untuk pertemuan sinode lebih besar tahun depan pada 4-25 Oktober 2015, yang akan kemudian akan memberikan rekomendasi kepada Paus Fransiskus.

 

Berita terkait:

Post-Synod Vatican Conference Highlights Truth of Marriage, NCR (17 November 2014).

 

 

Diperbarui 24 Januari 2015.