Pejabat Vatikan pada Sidang Umum PBB ke-69: Selamatkan generasi mendatang dari bencana perang

Bendera PBBUskup Agung Bernardito Auza, perwakilan Tahta Suci untuk PBB, dalam sambutannya di kebaktian doa mengawali sidang PBB, Rabu, 24 September 2014, meratapi tindak kekerasan dan perang yang sementara terjadi di sejumlah tempat di dunia, dan mengajak PBB untuk meperbarui tekad menjaga perdamaian dunia.

“Hadirin yang kami muliakan, saudara-saudara kekasih, mari kita semua mengupayakan kesadaran yang lebih lagi akan cita-cita mendasar dari PBB, di antara yang utama adalah untuk ‘menyelamatkan generasi mendatang dari bencana perang’,” demikian petikan sambutan Uskup Agung Auza, yang dalam kesempatan itu menyampaikan pesan pemimpin Gereja Katolik, Paus Fransiskus.

“Marilah kita mengindahkan panggilan untuk perdamaian, dengan menempa pedang kita menjadi mata bajak, dan tombak kita menjadi pisau pemangkas, bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan kita tidak akan lagi belajar perang (bnd. Yesaya 2:4), dan tidak ada kelompok mana pun yang menggunakan kekerasan untuk memaksakan ideologinya kepada orang lain. Karena perang adalah kegilaan, dan kekerasan adalah hal yang tidak masuk akal,” lanjutnya.

Uskup Agung Auza mengungkapkan bahwa kita tidak bisa membangun sebuah dunia yang betul-betul memanusiakan jika setiap orang tidak bertekad untuk meciptakan perdamaian, dan menjadikannya sebagai pedoman hidup.

Perdamaian tidak dicapai sekali untuk selama-lamanya, melainkan buah dari upaya sehari-hari dalam menegakkan sebuah dunia yang adil dan yang saling hormat-menghormati. Karena itu, ia mengajak supaya kita dapat menjadi alat dan saluran perdamaian, dengan mengingat bahwa perdamaian itu sendiri adalah karunia Allah.

Ia menutup sambutannya dengan membacakan pesan Paus Fransiskus untuk Sidang Umum PBB, yang disampaikan lewat Sekretaris Vatikan Pietro Cardinal Parolin:

“…Di saat Sidang [PBB] bersiap untuk mendiskusikan pembangunan yang melestari dan meningkatkan kualitas hidup sebagai cara untuk meluaskan perdamaian, kemakmuran, dan keamanan di seluruh dunia, [Sri Paus] mendorong semua bangsa untuk mengutamakan martabat seorang manusia dalam pertimbangan mereka. Dengan cari ini, ia berharap dapat dicari jalan keluar yang mendukung perdamaian bagi semua orang, lewat ‘penghargaan terhadap nilai persaudaraan di tengah-tengah keluarga dan komunitas-komunitas, lewat berbagi sukacita dan nestapa, kesulitan dan kemenangan, yang merupakan bagian dari kehidupan manusia.”

Pesan itu diakhiri dengan permintaan berkat kekuatan dan hikmat oleh Paus Fransiskus untuk semua yang terlibat dalam misi PBB.