Pemimpin Kristen berikan tanggapan alkitabiah untuk Vicky Beeching

Buku karya Dr Brown mengajak gereja memahami dan menolak “gay activism” (penyebaran paham dan praktek gay) sekaligus menyikapi homoseksualitas dalam kasih dan kebenaran.

Dr Michael L. Brown, dosen sekolah teologi dan pendiri FIRE School of Ministry di Amerika Serikat, memberikan lima cara menanggapi pengumuman diri seorang pemimpin pujian asal Inggris, Vicky Beeching, bahwa ia adalah seorang penyuka sesama jenis.

Mengakui bahwa tindakan Vicky Beeching, yang juga adalah seorang penulis lagu rohani, tak hanya mengejutkan tapi juga mengecewakan, Dr Brown mengingatkan bahwa seorang yang memiliki ketertarikan sesama jenis tidak dapat mengikuti gaya hidup itu dan pada saat yang sama menyebut diri pengikut Kristus.

Dr Brown adalah penulis buku Can You Be Gay and Christian?, yang mengajak gereja memahami dan menolak “gay activism” (penyebaran paham dan praktek gay) sekaligus menyikapi homoseksualitas dalam kasih dan kebenaran. Berikut tanggapannya yang dimuat di CharismaNews.

1. Doakan Vicky.

Ia mengajak untuk tidak mengecam Vicky dengan cara yang tidak dewasa, melainkan mendoakan dia untuk dapat menjalani hidupnya sesuai kehendak Tuhan. Sekalipun adalah baik mengingatkan dia akan kebenaran, mengecam dia kemungkinan hanya akan membuatnya lebih jauh dari salib. Lagipula Vicky sepertinya tahu sejumlah tanggapan alkitabiah yang diberikan padanya di media sosial dan blog, dan karena itu adalah lebih penting untuk berdoa supaya Roh Kudus bekerja menunjukkan kekeliruannya.

2. Dunia Barat dalam badai rohani.

Mengacu pada situasi di dunia Barat saat ini, Dr Brown mengingatkan bahwa Vicky bukan yang terakhir. Dapat diprediksi akan ada pemimpin gereja/pendeta dan artis Kristen yang akan membuat hal yang sama.

“Saat ini kita hidup dalam badai rohani penuh yang dalamnya ketidak tahuan akan Alkitab, kompromisasi moral, perubahan sosial telah menyatu dan menghasilkan penyesatan rohani yang dalam,” tulisnya.

Ada orang-orang yang mengaku Kristen namun mempertanyakan kebenaran alkitabiah mendasar tentang moralitas. Hal seperti ini tidak ada dalam sejarah Gereja sebelumnya. Karena itu, ia mengingatkan bahwa pada akhirnya pemisahan itu akan terjadi, sekalipun pahit, antara mereka yang ingin merubah Firman dan mereka yang menaruh diri di bawah Firman.

3. Firman Tuhan tidak berubah.

Apapun yang dilakukan oleh pendeta dan artis Kristen tidak dapat merubah firman Tuhan. Berapa pun yang mengatakan bahwa Tuhan menciptakan mereka sebagai penyuka sesama jenis, itu tidak akan mengubah kebenaran Alkitab.

Menafsirkan Alkitab dari sudut pandang seksualitas seseorang, dan bukan menafsirkan seksualitasnya dari sudut pandang Alkitab, adalah kesalahan yang mendasar.

4. Apakah menggunakan atau tidak karya musik Vicky dikembalikan kepada masing-masing pribadi. 

Ada orang yang merasa perhatiannya teralih dari Tuhan dan pujian kepadanya. Jika tidak menggunakan karya musik Vicky tujuannya bukan sebagai ‘hukuman’.

Ada yang merasa kebenaran dan melodi lagu pujian favorit mereka itu membantu mendekatkan diri pada hadirat Tuhan, dan tidak peduli, atau tidak tahu, siapa penulis atau pengarangnya.

Antara berhenti menggunakan atau terus menggunakan musik Vicky, itu dikembalikan kepada masing-masing, dan karena ia telah menyentuh banyak hati sebelumnya, maka banyak juga yang harus berdoa bagi dia.

5. Masalah yang sebenarnya adalah memilih identitas sebagai seorang penyuka sesama jenis.

Dalam wawancara ketika Vicky mengumumkan ketertarikannya terhadap sesama jenis, ia berkata, “Apa yang [Tuhan] Yesus ajarkan adalah sebuah pesan radikal tentang penyambutan, penerimaan, dan cinta-kasih. Saya merasa yakin Allah mengasihi saya sebagaimana adanya, dan saya merasa keterpanggilan yang besar untuk mengkomunikasikan itu kepada orang-orang muda.”

Tetapi, hal radikal yang dilakukan Tuhan Yesus yang sebenarnya adalah mengulurkan tangan kepada orang-orang paling berdosa di sekitar-Nya dan mengubah mereka lewat kehadiran dan perkataan-Nya. Ia tidak menetapkan mereka dalam dosa-dosa mereka.

Dalam pembicaraan dengan Dr Scott Lively, pengacara dan aktivis Kristen, Vicky mengatakan bahwa menyangkal identitasnya sebagai seorang penyuka sesama jenis telah menyebabkan penderitaan yang besar bertahun-tahun, dan bahwa seseorang perlu menerima orientasi seksualnya sebagai pemberian Tuhan, daripada bergumul dengan diri sendiri.

Tetapi, Pastor Kris Valloten menunjukkan dalam sebuah posting panjang di Facebook (yang dikutip dalam buku Can You Be Gay and Christian?) yang memuat pengalamannya memberi konseling pastoral bertahun-tahun:

“Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa ketika seseorang mendefinisikan dirinya dari sudut pencobaan atau hawa nafsu yang dialaminya (bukan dari mengontrol nafsu dan melawan pencobaannya), tidak ada pijakan di kubangan itu! Adalah benar bahwa kita semua memiliki cobaan dan nafsu yang tidak sehat dan harus dikontrol. Jika tidak kita akan hidup dengan rasa malu yang dalam, tidak peduli nilai-nilai apa saja yang coba dibenarkan oleh budaya kita, karena Allah telah menuliskan nilai-nilai-Nya di dalam hati kita.”

Dr Brown juga memberi pandangannya untuk Vicky.

“Jika kau tak keberatan saya berbicara padamu secara pribadi, kau telah mengatakan kepada dunia bahwa kau merasa tertarik pada sesama jenis, akan tetapi ketertarikan itu tidak mendenfinisikan siapa dirimu, dan ada banyak orang Kristen yang memiliki ketertarikan seksual mendalam yang mereka alami sepanjang hidup mereka dan yang lebih memalukan dari apa yang telah kau ungkapkan.

“Dan sekalipun itu benar bahwa Allah mengasihimu sekalipun kau bergumul dengan ketertarikan sesama jenis, Ia tidak menciptakan kau untuk hidup dengan perempuan. Jika Tuhan tidak memberimu anugerah untuk mengubah ketertarikan romantis dan hasrat seksual dalam dirimu, maka Ia akan memenuhimu dengan cinta-kasih, kebaikan dan hadirat-Nya sehingga rangkulan-Nya akan lebih berarti bagimu lebih dari rangkulan manusia manapun.

“Saya meminta dengan sangat padamu Vicky untuk kembali kepada Tuhan sekali lagi, memahami bahwa firman-Nya tentang praktek hubungan sesama jenis adalah jelas, dan kau dapat menyebarkan kemerdekaan dan kepenuhan dirimu dalam Yesus [Kristus], tanpa mendukung praktek hubungan sejenis. (Kenyataannya, jika kau menyebarkan praktek hubungan sejenis, kau akan membawa orang pada belenggu, bukan kemerdekaan.)

“Mungkin Tuhan ingin memakai kamu untuk membawa kelepasan kepada orang lain lebih dari apa yang kau bayangkan saat ini?

“Saya mengerti bahwa kau merasa sebuah beban besar terangkat, tapi pada akhirnya, akan terbukti bahwa itu hanyalah euforia alami dan bukan rohani. Karena itu, sekali lagi saya meminta dengan sangat padamu: Kembali pada salib; kembali ke tempat rahasia penyembahan; kembali pada Firman yang tak berubah; rendahkan dirimu di hadapan-Nya, dan Ia akan memberimu anugerah.”

Tanggapan Dr Brown hadir di tengah pergumulan Gereja menyangkut praktek hubungan sejenis yang tidak hanya terjadi di dunia Barat yang semakin permisif, namun juga mulai dibawa ke berbagai belahan dunia lewat para aktivis pendukungnya yang secara agresif menyebarkan pandangan mereka lewat berbagai media dan organisasi.