KWI tolak PP No 61/2014 tentang aborsi: “Nilai hidup manusia adalah nilai intrinsik”

cegah aborsi_heroicmedia

Sebuah kampanye melawan praktek pembunuhan bayi dalam kandungan yang diprakarsai oleh Heroic Media untuk mendukung peraturan pelarangan aborsi di AS terhadap bayi usia 20 minggu ke atas yang oleh para ilmuwan mengatakan telah dapat merasakan sakit. “Anak ini tak memiliki suara, itu sebabnya mengapa ia bergantung pada suara Anda. Angkat suara,” demikian ajak Heroic Media.

Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) menyatakan menolak Peraturan Pemerintah (PP) No 61/2014 yang membolehkan pengguguran janin dalam kasus perkosaan.

“Hidup itu berharga dan bernilai, maka harus dijaga, dipelihara dan dibela. Sejak awal kehidupan, Allah sendirilah yang menciptakan manusia, ‘Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku’ (Mazmur 139:13),” demikian awal dari Pernyataan Sikap KWI (5/9/14) terhadap PP yang mencatut nama “Kesehatan Reproduksi” itu. 

“Karena Allah sendiri yang menghendaki karya penciptaan ini, manusia tidak berhak untuk menghentikan Karya Agung Allah ini dengan menyingkirkannya. Apalagi, perintah Allah begitu tegas: Jangan membunuh! (Keluaran 2,30) yang tidak hanya berlaku bagi manusia yang sudah lahir namun juga mereka yang masih berada dalam kandungan,” lanjut pernyataan itu menekankan sikap Gereja Katolik yang “mengakui bahwa hidup manusia dimulai sejak pembuahan dan hidup itu harus dibela dan dihormati. Segala bentuk tindakan yang mengancam sejak awal kehidupan ini secara langsung, tidak dibenarkan.”

Pernyataan sikap itu juga menegaskan bahwa “[n]ilai hidup manusia adalah nilai intrinsik yang ada dalam dirinya, dia bernilai oleh karena dirinya sendiri tanpa ada relasinya dengan pihak lain.” 

Mengakui bahwa “[t]indak pemerkosaan dapat menyebabkan trauma psikologis, spiritual dan sosial bagi korbannya,” KWI menunjukkan bahwa “[y]ang diperlukan adalah sikap belarasa terhadap korban dan memberi bantuan dalam pelbagai hal agar yang bersangkutan bisa bangkit dari penderitaannya dan menghilangkan traumanya sehingga bisa kembali hidup bahagia.”

“Namun keinginan untuk bahagia tidak memberikan hak kepadanya untuk membunuh orang lain. Melakukan aborsi demi mencapai kebahagiaan ibu yang mengandung akibat perkosaan sama artinya dengan menggunakan orang lain (janin) sebagai alat dan tidak menghormatinya sebagai subyek. Hal ini merupakan pelanggaran berat terhadap martabat manusia yang adalah Gambar dan Citra Allah.”

Mengutip ensiklikal Paus Paulus II, Evangelium Vitae No. 58, KWI menyatakan bahwa “[j]anin adalah makluk yang “lemah, tidak dapat membela diri, bahkan sampai tidak memiliki bentuk minimal pembelaan, yakni dengan kekuatan tangis dan air mata bayi yang dimiliki oleh bayi yang baru lahir, yang menyentuh hati…” 

Isi lengkap Pernyataan Sikap KWI ini dapat dilihat di situs Mirifica.net.