Pimpinan Tertinggi Islam Arab Saudi sebut ISIS “musuh nomor satu Islam”; Paus Fransiskus: menghentikan mereka adalah “sah”

“Muslim adalah korban-korban utama dari ekstrimisme ini, seperti ditunjukkan oleh kejahatan yang dilakukan oleh apa yang disebut Negara Islam, al-Qaida dan kelompok-kelompok yang terkait mereka.”

1408447345039581000.jpg

Mufti Besar Arab Saudi, Sheikh Abdul Aziz Al-Asheikh (Foto: via ArabNews).

Pimpinan tertinggi umat Islam di Arab Saudi, Sheikh Abdul Aziz al-Sheikh, mengatakan pada hari Selasa, bahwa eksrimisme dan ideologi kelompok Negara Islam Irak dan Levant (NIIL, dikenal dengan sebutan ISIL/ISIS/IS) dan al-Qaida adalah “musuh nomor satu” Islam, dan bahwa umat Muslim adalah “korban pertama.”

“Gagasan ekstrimisme dan radikalisme dan terorisme yang menyebar kerusakan di Bumi, menghancurkan peradaban manusia, sama sekali bukan bagian dari Islam dan (pendukung) mereka adalah musuh nomor satu Islam, dan umat Muslim adalah korban pertama mereka,” ungkapnya seperti dikutip RT.com lewat Reuters.

“Muslim adalah korban-korban utama dari ekstrimisme ini, seperti ditunjukkan oleh kejahatan yang dilakukan oleh apa yang disebut Negara Islam, al-Qaida dan kelompok-kelompok yang terkait mereka,” ungkapnya. Ia mengecam tindakan kelompok-kelompok yang memecah-belah Islam.

Mufti Besar Arab Saudi itu juga mengingatkan bahwa toleransi merupakan dasar pertumbuhan dan kesinambungan Islam, demikian ditulis ArabNews.com.

 

PAUS FRANSISKUS: PENYERANG YANG TIDAK ADIL HARUS DIHENTIKAN

“Dalam kasus ini, di mana ada penyerangan yang tidak adil, saya hanya bisa mengatakan bahwa adalah sah untuk menghentikan penyerang yang tidak adil.”

Pope Francis gestures while aboard a flight

Paus Fransiskus ketika berbicara dengan para wartawan di pesawat setelah kunjungannya ke Korea (Foto: Daniel Dal Zennaro/EPA via The Telegraph).

Pemimpin agama lainnya, Paus Fransiskus, telah turut menimbang situasi kemanusiaan yang diakibatkan kejahatan kelompok NIIL di Irak dan Suriah.

Dalam penerbangan selepas kunjungannya ke Korea (bagian Selatan), pemimpin sekitar 1, 2 miliar umat Katolik itu mengatakan bahwa NIIL harus dihentikan dan itu tidak boleh hanya satu negara yang melakukan.

“Dalam kasus ini, di mana ada penyerangan yang tidak adil, saya hanya bisa mengatakan bahwa adalah sah untuk menghentikan penyerang yang tidak adil,” kata Paus seperti dikutip The Telegraph.

“Saya menggarisbawahi kata ‘menghentikan’. Saya tidak mengatakan ‘bom’ atau ‘perangi’, tapi menghentikannya (pelaku penyerangan). Cara untuk dapat menghentikannya harus dievaluasi. Menghentikan penyerang yang tidak adil adalah sah,” katanya.

Menurut Paus satu negara tidak bisa menilai bagaimana penyerang yang tidak adil ini harus dihentikan. Dia mengatakan PBB adalah forum yang tepat untuk mempertimbangkan apakah ada penyerangan yang tidak adil dan bagaimana untuk menghentikannya.

Dalam kesempatan itu Paus mengungkapkan bahwa ia telah mempertimbangkan untuk berkunjung ke Irak setelah kembali dari Korea, tetapi memutuskan untuk tidak mengunjungi untuk sementara waktu. “Pada saat ini, itu tidak akan menjadi hal terbaik untuk dilakukan, tapi saya bersedia untuk melakukannya,” katanya.

Paus telah mengutus seorang kardinal senior ke Irak untuk mengunjungi pengungsi dan menyalurkan dana amal Vatikan dan mengirim surat kepada Sekjen PBB Ban Ki-moon tentang perlunya untuk menghentikan pertumpahan darah.