Memangkas masyarakat religius dengan gunting radikalisme

Jadi mereka sedang mencoba untuk membawa umat gembalaannya untuk tidak terjebak masuk dalam arena ‘ayam jago’, di mana mereka akan saling merusak wajah dan saling menumpahkan darah di depan para penonton yang mungkin sedang berharap-harap supaya jika satu tidak ‘menang’ dan lain ‘kalah’, kedua-duanya akan mati.

radikalisme agama

(Ilustrasi: gifsgallery)

EKKLESIASTIKA — Radikalisme agama sering menjadi berita utama akhir-akhir ini.

Berita-berita sensasional seperti penyaliban, pemenggalan, pajak perlindungan, penculikan anak-anak gadis, sampai pembongkaran makam religius, bahkan hampir-hampir meminggirkan berita-berita sadis lainnya, seperti pembunuhan ribuan rakyat sipil di Irak, Suriah, Palestina dan Ukraina.

Kekejaman, kejahatan, dan kebiadaban yang berbau agama terus disuguhkan sedemikian rupa sehingga para konsumen berita seakan mulai kurang merasa ngeri, jijik, atau terusik rasa keadilannya.

Ada orang yang bahkan menjadi  tidak peduli lagi, sementara sejumlah lainnya mengangkat jari telunjuk dan menyalahkan “agama” dari kelompok-kelompok radikal yang menggunakan nama agama itu dalam melakukan pembunuhan, perampokan, dan ketidak-adilan.

Karena tindakan-tindakan mereka ini agama tertentu kemudian diidentikkan oleh sebagian orang dengan “kekerasan.” Dan pikiran banyak orang menyebut Islam.

Ini membenarkan ungkapan Patriark Antiokia dan Timur Raya Gereja Katolik Melkit-Yunani, Gregorius III Laham, pada sambutan perayaan Ramadhan baru-baru ini, bahwa tindakan kelompok radikal dengan atribut Islamnya “merusak wajah” Islam.

 

WAJAH ISLAM DAN NASRANI

Dan jika wajah Islam rusak dengan tindakan brutal dan tidak berprikemanusiaan kelompok radikal, wajah-wajah Nasrani dihiasi oleh air mata, darah, dan tanah.

Dua wajah ini yang sering kita lihat akhir-akhir ini di berbagai media berita: wajah yang rusak dan wajah yang berlumur darah dan mati.

Telah muncul pertanyaan, Bagaimana jika umat Kristen membalas?

Jika demikian halnya maka yang akan muncul adalah dua wajah yang sama: yang rusak dan yang mati.

Kedua wajah ini yang kita lihat di Republik Afrika Tengah (RAT), ketika kelompok militia yang disebut media sebagai “Kristen” membantai umat Muslim sebagai balas dendam atas tindakan kelompok Seleka, yang disebut media sebagai “Islam.”

Di negara miskin RAT itu ada dua wajah yang sama: rusak dan mati; rusak wajah agama dan kematian orang-orang tak bersalah, laki-laki dan perempuan, anak-anak dan para lansia, apa pun agama mereka.

 

KASUS NIGERIA

Nigeria masih belum sampai se tragis itu.

Di tengah-tengah tragedi kemanusiaan yang dilakoni oleh “Boko Haram,” wajah Nigeria saat ini masih berupa “yang rusak” dan “yang berdarah dan mati.”

Masih sedikit lebih baik.

Ini juga bukan tanpa usaha atau sebuah kebetulan yang menguntungkan.

Ketika MEND (Movement for the Emancipation of Delta Niger), sebuah kelompok yang mengidentifikasi diri “Kristen” hendak “membalas” (melakukan serangan terhadap mesjid dan umat Islam), para pemimpin Kristen melayangkan surat permohonan untuk tidak melakukan tindakan demikian. MEND memberi tanggapan positif.

Para pemimpin Kristen dan Muslim di Nigeria sepertinya sadar ada dalang di balik gerakan sensasional “Boko Haram.”

Ada yang ingin memangkas masyarakat religius dengan gunting radikalisme.

Jadi mereka sedang mencoba untuk membawa umat gembalaannya untuk tidak terjebak masuk dalam arena ‘ayam jago’, di mana mereka akan saling merusak wajah dan saling menumpahkan darah di depan para penonton yang mungkin sedang berharap-harap supaya jika satu tidak ‘menang’ dan lain ‘kalah’, kedua-duanya akan mati.

 

PENCURAHAN DIRI

Bagi saudara-saudari kami yang wajahnya berlumuran darah dan bertabur tanah, yang hatinya hancur dan sangat menderita. Tidak ada kata-kata penghiburan yang dapat mengurangi beban yang kalian pikul. Kami pun sedang datang pada kalian, karena adalah kehormatan untuk menderita aniaya sama seperti Kristus.

Bagi kalian yang mati, kami juga sedang datang pada kalian. Karena memang benar mati dalam Tuhan adalah keuntungan.

Bagi kita yang dibenci dunia, karena kita bukan dari dunia. Dunia adalah tempat persinggahan kita, dan kita tidak akan membawa apa-apa keluar darinya. Biarlah mata kita tertuju pada sebuah rumah yang baka, di mana harta kita yang termulia adalah bersama-sama dengan Allah.

Kesedihan kami adalah untuk saudara-saudari kami yang wajahmu dirusak oleh para pembenci perdamaian.

Kami kembalikan kepada kalian ucapan bijak seorang menteri muslimah di Inggris, bahwa orang Kristen (di Inggris) perlu menjadi “lebih percaya diri dan merasa leluasa” dengan identitas kekristenan mereka.

Didorong pada rasa bersalah, disudutkan pada penyesalan ekstrim atas sejarah Perang Salib dan sejarah kekristenan Eropa, serta diasingkan dari berbagai sumbangan iman Kristen bagi peradaban mereka, banyak di antara penduduk Eropa yang merasa malu mengaku bahwa ia adalah seorang Kristen, seorang Nasrani.

Nasihat ini kami ambil bagi diri kami sendiri. Belajar dari pengalaman-pengalaman pahit di masa lalu untuk menghasilkan buah-buah yang manis di masa depan.

Nasihat ini kami kembalikan kepada kalian yang merasa wajah kalian telah dirusak. Jadilah “lebih percaya diri dan merasa leluasa” dengan identitas agamamu, sepanjang kalian memahami tuntutan Dia yang disembah sekalian alam, bahwa Ia mencintai perdamaian dan keadilan.

Kita memang harus merasa malu dengan tindakan manusia yang tidak adil, apalagi jika diatas-namakan Tuhan yang mencintai perdamaian dan keadilan.

Untuk alasan itulah mengapa semua orang beragama harus bersama-sama menangkis gunting radikalisme agama yang dimainkan oleh orang-orang tak beragama.