Jaga kepentingan anak-anak Fahira Fahmi Idris akan buat jera penerbit Elex Media

fahira fahmi idris

Fahira Fahmi Idris (Foto: via ROL).

Ketua Yayasan Anak Bangsa Mandiri dan Berdaya sekaligus anggota DPD, Fahira Fahmi Idris, mengungkapkan bahwa ia sedang menempuh langkah-langkah, termasuk kemungkinan tuntutan pidana, terhadap penerbit Elex Media yang menerbitkan buku-buku berisi propaganda praktek hubungan sejenis.

“Bersama teman-teman saya sedang memikirkan langkah apa yang harus diambil, apakah pidana atau yang lainnya,” ungkapnya seperti dikutip ROL (11/8).

Hal tersebut diungkapkannya setelah ia mendapat kabar bahwa ada lagi komik dari Elex Media yang berisi “dialog doktrinasi” seputar ketertarikan atau identitas seksual menyimpang. “Dialog doktrinasinya lebih bahaya daripada komik Why? Puberty Pubertas, anak-anak tidak semestinya dicecoki hal seperti itu,” katanya.

Ia mengaku telah menghubungi pihak Elex Media dan meminta mereka untuk menarik komik yang ditulis dalam bahasa Inggris My Wondering Body itu dari peredaran. Ia juga memikirkan langkah-langkah serius agar pihak Elex Media tidak mengulangi hal yang sama, tulis ROL.

“Saya menghargai eksistensi mereka tapi saya menolak propoganda LGBT.”

Sebelumnya Elex Media Komputindo, penerbit buku anggota group Kompas Gramedia, telah menarik dari peredaran Why? Puberty Pubertas. Hal yang diapresiasi oleh ibu dari Nabila Zahra dan Nazira Auliya ini. Namun, mengetahui ada buku yang beredar terbitan Elex Media yang lebih parah, ia berucap “Ini kabar buruk lagi.”

Wanita pengusaha ini telah mengkritik pihak kementrian pendidikan dan kebudayaan serta kementrian agama yang dinilainya “kurang dalam hal pengawasan,” demikian ROL.

Ia juga dikenal berani karena mengkritik Front Pembela Islam tahun 2010 lalu.

Tindakannya sebagai aktivis pembela anak-anak mendapat keluhan dari para aktivis pendukung praktek hubungan sesama jenis.

Menanggapi hal tersebut ia mengaku “tidak membenci atau memusuhi LGBT,” singkatan dari Lesbian, Gay, Bisexual, dan Transgender, yaitu perempuan dan laki-laki yang memiliki ketertarikan terhadap sesama jenis, terhadap dua jenis, dan yang waria (wanita-pria). 

“Saya menghargai eksistensi mereka tapi saya menolak propoganda LGBT,” ujar Fahira kepada ROL, Senin (11/8). 

“Kaum LGBT juga seharusnya sadar kalau hak-hak kita juga dirampas dengan beredarnya komik-komik tersebut di toko buku, intinya kita harus sama-sama toleransi,” katanya menanggapi tuduhan bahwa ia merampas hak orang-orang tersebut.

Ia menambahkan bahwa masyarakat hanya tidak ingin propaganda LGBT terus terjadi, karena dapat merusak ideologi Indonesia dan juga merusak tumbuh kembang anak-anak Indonesia. Menurutnya, ia akan terus melakukan penolakan hingga terbentuknya UU yang melarang bentuk propaganda semua hal yang tidak sesuai dengan Pancasila, termasuk propaganda LGBT, di media apapun, tulis ROL (11/8). 

Dewan Perpustakaan Nasional Singapura baru-baru ini juga menarik buku-buku anak yang mendorong praktek hubungan sejenis setelah keluhan masyarakat.

 

 

  1. terima kasih utk postingan ini…

  2. harus diberikan sangsi lah

  3. Ini tandanya Indonesia juga harus lebih hati-hati dengan aktivitas organisasi-organisasi dari luar yang juga membawa agenda yang bertentangan dengan budaya Indonesia.

Comments are closed.