Ini surat Dr Kent Brantly, dokter misionaris dari AS yang terjangkit virus Ebola

Tuhan mengingatkan saya tentang apa yang telah Dia ajarkan kepada saya tahun lalu, bahwa Dia akan memberikan saya semua yang saya butuhkan untuk setia kepada-Nya. — Dr Kent Brantly

brantly

Dr Kent Brantly (Foto via myfox8).

Dr Kent Brantly, 33, tenaga misionaris medis dari Amerika Serikat yang terjangkit virus Ebola di Liberia, negara Afrika Barat, menuliskan keadaannya saat ini dari ruang isolasi Emory Univeristy Hospital, Atlanta, tempat ia sedang menerima perawatan intensif, pada hari Jumat (8/8) waktu setempat:

 

Saya menulis kabar terbaru ini dari ruang isolasi saya di Emory University Hospital, di mana para dokter dan perawat memberikan perawatan terbaik yang mungkin. Saya semakin kuat setiap hari, dan saya berterima kasih kepada Tuhan untuk karunia-Nya di tengah saya bergumul dengan penyakit yang mengerikan ini. Saya juga ingin menyampaikan ucapan terima kasih mendalam dan tulus kepada Anda semua yang telah berdoa untuk pemulihan saya dan juga untuk Nancy [Writebol, seorang misionaris AS lainnya yang terjangkit Ebola] dan untuk rakyat Liberia dan Afrika Barat.

Istri saya, Amber, dan saya, bersama dengan dua anak kami, tidak pindah ke Liberia untuk tujuan khusus memerangi Ebola. Kami pergi ke Liberia karena kami percaya Tuhan memanggil kami untuk melayani Dia di Rumah Sakit ELWA.

Satu hal yang saya pelajari adalah bahwa mengikut Tuhan sering membawa kita ke tempat-tempat yang tak terduga. Ketika Ebola menyebar ke Liberia, pekerjaan rumah sakit saya yang biasa berubah menjadi lebih ke arah mengobati pasien Ebola yang terus meningkat. Saya memegang tangan entah berapa banyak orang ketika penyakit yang mengerikan ini mengambil kehidupan mereka. Saya menyaksikan kengerian secara langsung, dan saya masih ingat setiap wajah dan nama.

Ketika saya mulai merasa sakit pada Rabu pagi, saya langsung mengisolasi sendiri sampai tes menegaskan diagnosis saya tiga hari kemudian. Ketika hasilnya positif, saya ingat merasakan kedamaian mendalam yang melampaui segala akal. Tuhan mengingatkan saya tentang apa yang telah Dia ajarkan kepada saya tahun lalu, bahwa Dia akan memberikan saya semua yang saya butuhkan untuk setia kepada-Nya.

Sekarang dua minggu kemudian, dan saya berada di situasi yang sama sekali berbeda. Bagaimanapun, fokus saya tetap sama:  mau mengikut Tuhan. Ketika Anda terus berdoa untuk Nancy dan saya, ya, tolong berdoa untuk pemulihan kami. Lebih penting lagi, berdoa agar kami akan setia kepada panggilan Tuhan atas hidup kami dalam keadaan baru ini.”

 

KEPEDULIAN TERHADAP YANG MISKIN

Dr Kent berangkat ke Liberia tahun lalu bersama isteri dan dua anak untuk program 2 tahun bersama Samaritan’s Purse, organisasi kemanusiaan Kristen yang dipimpin oleh Franklin Graham

Tugasnya sebagai dokter umum berubah ketika muncul wabah virus Ebola. Ia menjadi pengarah pusat penanganan pasien Ebola dari organisasi yang mengirimnya di Monrovia, ibukota Liberia.

Dr Kent sejak muda telah berniat untuk menjadi seorang misionaris. Sebelumnya ia telah berpartisipasi dalam perjalanan misi ke Uganda, Honduras, Nikaragua, Tanzania, dan Haiti.

Seorang rekannya di sekolah kedokteran, Dr Matthew Locker, mengungkapkan penilaiannya, bahwa ada sesuatu yang melebihi keduniawian yang mendorong Dr Kent. Ketika ia bertemu dengan pasien, ia melihat lebih dari kondisi medis mereka untuk mengenal mereka secara pribadi, ungkapnya seperti dilaporkan IndyStar.

“Menurut saya ia sedang melakukan tepat apa yang ingin ia lakukan lewat kepedulian terhadap yang miskin,” ungkap Dr Jordan Huskins, seorang rekan misionaris medis di Kenya, yang sekarang asisten dosen pediatrik di Indiana University School of Medicine, tulis IndyStar.

Ketika kedua pasien Ebola tersebut sampai ke Atlanta, ternyata serum percobaan untuk mengatasi virus itu baru cukup untuk satu orang. Dr Kent meminta supaya Nancy menerimanya.

Dr Kent menerima satu unit darah dari seorang anak remaja umur 14 tahun yang ia rawat karena Ebola. Anak remaja tersebut mengatakan bahwa ia mau melakukan apa yang bisa membantu dokter yang telah menyelamatkan nyawanya, ungkap Franklin Graham, seperti ditulis IndyStar.

“Kami mempercayakan hidupnya kepada Tuhan,” kata Jan, ibu dari Dr Kent. “Kami berdoa, dan kami ditopang oleh iman kami.”

 

DARURAT KESEHATAN MASYARAKAT INTERNASIONAL

Pada pernyataan 8 Agustus 2014, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan wabah Ebola sebagai darurat kesehatan masyarakat internasional.

Tanda-tanda serangan virus ini adalah demam dan gangguan pencernaan. Pada tahap lanjut virus ini akan menyebabkan pendarahan akut, sampai mengeluarkan darah dari mata, mulut, hidung, telinga, dan merah-merah di seluruh tubuh.

Wabah Ebola saat ini dimulai di Guinea pada bulan Desember 2013. Wabah tersebut telah menyebar ke Guinea, Liberia, Nigeria, dan Sierra Leone. Terakhir ini di Nigeria.

Pada 4 Agustus 2014, sebanyak 1.711 kasus telah dilaporkan (1.070 dikonfirmasi, 436 kemungkinan, 205 diduga). Angka kematian menurut laporan WHO adalah 932 dan merupakan wabah Ebola terbesar yang pernah tercatat.

Nigeria telah meminta serum percobaan yang diterapkan pada kedua misionaris di Liberia itu kepada Presiden AS, Barack Obama, namun ia menyebutnya “prematur” untuk memberikan obat yang sementara dalam uji coba kepada Afrika.

  1. saya..bermimpi penyakit..ebola.. obatnya…adalah 11.3(sebelas.tiga) tapi saya engak tau apa artinya…trima kasih..

Comments are closed.