Vahid Hakkani mogok makan minta pembebasan tahanan Kristen di Iran

Vahid Hakkani, seorang tahanan karena iman di penjara Shiraz, Iran, kembali melakukan protes terhadap penolakan pihak berwenang, yang menolak pembebasan bersyarat bagi dirinya dan dua orang lainnya yang ditahan karena iman Kristen, dengan melakukan mogok makan.

Menurut kantor berita Kristen Iran, MohabatNews, cara itu adalah pilihan terakhir tawanan untuk mengekspresikan keberatan mereka terhadap masalah tertentu.

Vahid Hakkani melanjutkan aksi mogok makannya pada Senin, 23 Juni setelah pengadilan menolak permohonan untuk pembebasan bersyarat dirinya dan dua rekan Kristen lainnya.

Sebelumnya Vahid telah melakukan protes dengan mogok makan pada tanggal 20 Maret 2014 untuk alasan yang sama, yang berlangsung selama lebih dari 7 minggu, meskipun diperhadapkan dengan beberapa masalah fisik. Ia berhenti setelah tahanan Kristen Mohammad-Reza Partoei (Kourosh) diberikan bebas bersyarat.

Pengadilan Revolusioner Shiraz telah menjatuhkan hukuman tiga tahun dan delapan bulan kepada Kourosh, juga seorang mualaf Kristen, bersama dengan Vahid Hakkani dan dua lainnya, untuk masuk Kristen dan menolak untuk menyangkal iman mereka kepada Kristus. Pengadilan Revolusioner memberi Kourosh bebas bersyarat pada tanggal 13 Mei 2014.

Pada akhir aksi mogok makan pertamanya, Vahid harus dibawa ke klinik penjara karena kesehatannya berada pada titik kritis. Bahkan sebelum terjadi aksi mogok makan, ia telah menderita perdarahan internal dan masalah sistem pencernaan sampai satu kali ia harus dipindahkan ke rumah sakit untuk operasi.

Menurut laporan, karena melakukan mogok makan lagi, otoritas penjara menambah tekanan, bahkan menyita barang-barang pribadi di selnya, dan tidak memberi haknya untuk membuat panggilan telepon.

Vahid ditangkap di Shiraz pada tanggal 8 Februari 2012, bersama dengan Homayoun Shokouhi, Mojtaba Seyyed Hossein Ala’adin, Mohammad-Reza Partoei (Kourosh) dan enam orang Kristen lainnya. Enam dibebaskan satu per satu dengan jaminan. Empat lainnya didakwa di Pengadilan Revolusioner pada tanggal 10 Juni 2013, dinilai bersalah “menghadiri gereja rumah, penginjilan, propaganda melawan rezim Islam dan membahayakan keamanan nasional.”

Di Iran, mereka yang dari agama-agama lain dan masuk Kristen tidak diperbolehkan untuk pergi ke gereja-gereja resmi di Iran, demikian laporan MohabatNews. Sementera, gereja-gereja resmi secara ketat diawasi oleh pemerintah, sehingga orang-orang yang baru menjadi Kristen memilih untuk berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil di rumah mereka untuk beribadah dan mempelajari Alkitab. Mereka menyebut rumah mereka “gereja rumah,” di mana mereka berkumpul untuk menyembah Allah tanpa tujuan politik.

 

Paus Fransiskus di hadapan peserta konferensi “International Religious Liberty and the Global Clash of Values” (kebebasan beragama internasional dan benturan global nilai-nilai) baru-baru ini mengatakan kebebasan beragama sebagai “hak dasar manusia.” Ini “bukan sekedar kebebasan berpikir atau beribadah secara pribadi,” tetapi “kebebasan untuk hidup sesuai dengan prinsip-prinsip etika, baik secara pribadi maupun publik, sesuai dengan kebenaran yang telah ditemukannya.” (Lih. Paus Fransiskus: Penganiayaan orang Kristen saat ini “lebih hebat,” serukan jaminan kebebasan beragama.)

Ia menyesalkan tingkat penganiayaan orang Kristen yang telah “lebih hebat dari abad-abad pertama gereja.” Penganiayaan orang Kristen tidak hanya di Timur Tengah dan Afrika, tetapi juga di Eropa dan Amerika.