Profesor Muslim dibunuh karena membela umat Kristen di Irak

iraqi-man-carrying-cross-koran-attends-mass-mar-girgis-church-baghdad-july-20-2014

Seorang pria Irak memegang sebuah salib dan Al-Qur’an pada sebuah misa di Gereja Mar Girgis, Baghdad, 20 Juli 2014 (Foto: Reuters/Ahmed Malik).

Situs berita Kristen Kaldea (Kasdim), Ankawa.com, mengutip sumber dari Mosul, Irak, melaporkan (21 Juli) bahwa Dr. Mahmoud Al-Asali, yang membidangi hukum dan mengajar di Universitas Mosul, telah dibunuh oleh kelompok radikal karena memprotes tindakan mereka menjarah dan membakar milik orang Kristen di kota itu.

Kelompok yang menyebut diri Negara Islam di Irak dan Levant (wilayah Timur Mediterania yang di dalamnya juga Palestina, Israel dan Suriah), NIIL, telah mengambil alih kota terbesar kedua di Irak itu, dan memaksa umat Kristen untuk meninggalkan iman mereka, diusir dari tempat tinggal mereka, bahkan dibunuh.

Sejumlah gereja kuno di Mosul terhitung merupakan gereja tertua.

“Dunia harus mengambil tindakan, menyuarakan, mengingat hak asasi manusia,” kata Uskup Shlemon Wardooni dari Patriark Katolik Kaldea (Kasdim) pada hari Minggu. Ia menambahkan bahwa negara Irak sedang lemah dan terpecah-pecah, dan para pemimpin Muslim tetap diam. “Kami belum mendengar dari ulama dari semua aliran atau dari pemerintah,” katanya kepada Reuters. “Orang Kristen dikorbankan bagi Irak.”

Perdana Menteri Irak Nuri al-Maliki, Minggu, mengutuk perlakuan terhadap umat Kristen di Mosul, mengatakan itu menunjukkan “kriminalitas ekstrim dan sifat teroris [NIIL].”

Konflik berkepanjangan di Irak terus berlangsung antara kelompok Sunni dan Syiah, yang dalam pengamatan akan membawa sejarah Islam di negara itu dan di Timur Tengah menjadi seperti kekristenan di Eropa (perang berkepanjangan antara Katolik dan Protestan yang menyebabkan pengaruh agama Kristen memudar). Dalam situasi demikian, umat Kristen Timur Tengah terlindas di tengah-tengah.

 

DUKUNGAN UMAT MUSLIM DI BAGHDAD

Pada hari Minggu, sekitar 200 Muslim menghadiri unjuk rasa di Baghdad dengan beberapa di antaranya memakai tanda huruf Arab “N” untuk “Nasrani” sebutan untuk Kristen.

Para pemimpin Kristen mengucapkan terima kasih untuk dukungan mereka terhadap hak umat Kristen untuk hidup di Irak.

“Apa yang memberi kami harapan adalah sekelompok warga – saya tidak ingin mengatakan Muslim tapi mereka Muslim – dari Baghdad yang membawa slogan-slogan yang mengatakan ‘Saya orang Irak, saya Kristen,'” kata imam Maysar Bahnam dari Gereja Katolik Mar Korkis di Baghdad kepada Al Arabiya. “Mereka berdoa dalam solidaritas dengan kami, mengatakan bahwa kita adalah orang-orang dari negeri ini.”