Korban perang: Gaza lebih dari 1.300, Irak lebih dari 5000 dan Ukraina 1.100; Paus mengajak doa untuk perdamaian

AFP3421521_LancioGrande

Paus Fransiskus (Foto: AFP).

Sebanyak 239 anak-anak dan 130 perempuan termasuk dalam korban tewas di pihak Palestina yang menurut data yang dilansir Washington Post per 30 Juli 2014 telah mencapai lebih dari 1.300 orang, sedang 7000 orang dilaporkan mengalami luka-luka.

Dari data yang diambil dari Kantor PBB untuk koordinasi urusan kemanusiaan dan lembaga ketahanan Israel, 852 orang korban Palestina disebut berasal dari kalangan sipil, sementara 181 adalah militan bersenjata (dua di antaranya dikatakan adalah anak-anak, tanpa rincian usia).

Sementara di pihak Israel korban militer mencapai 57 orang dan tiga dari kalangan sipil.

Situasi di Gaza telah menyebabkan keprihatinan yang luar biasa dari dunia internasional dengan banyaknya masyarakat sipil, terutama anak-anak, yang harus menjadi korban jahatnya perang.

Sementara itu, data PBB yang dikutip RT memperkirakan lebih dari 1.100 orang terbunuh dan 3.500 orang terluka di Ukraina yang telah merosot ke dalam perang saudara setelah penurunan paksa Presiden Viktor Yanukovich. Para pengungsi Ukraina di Rusia mencapai 110.000 sedang 54.400 lainnya mengungsi di dalam negeri.  Anak-anak turut menjadi korban serangan militer, namun total anak-anak yang menjadi korban belum diketahui.

Korban masyarakat sipil di Irak adalah yang paling menyedihkan. Menurut laporan The Telegraph mengutip data PBB lebih dari 5.500 korban jiwa dan lebih dari 11.600 luka-luka pada paroh pertama tahun 2014 (Januari-Juni). 1, 2 juta lainnya kehilangan tempat tinggal akibat kekerasan. Tahun lalu PBB melaporkan lebih dari 7.800 korban jiwa sipil di negara yang dililit konflik sejak invasi Amerika Serikat tahun 2003. Data tentang korban anak-anak belum ada.

Dalam pesannya pada hari Minggu (28 Juli 2014), Paus Fransiskus memohon dengan sangat penghentian konflik di Timur Tengah, Irak dan Ukraina, dengan mengingatkan nasib anak-anak yang terjebak dalam konflik.

Terlebih khusus bagi anak-anak yang harapan untuk sebuah masa depan yang bermartabat diambil dari padanya, anak-anak yang mati, anak-anak yang terluka dan kehilangan anggota tubuhnya, anak-anak yatim piatu dan anak-anak dengan bagian senjata sebagai mainan, anak-anak yang tak tahu bagaimana tersenyum. Tolonglah berhenti, saya meminta dengan segenap hati, demikian diutarakan pemimpin umat Katolik itu seperti dilaporkan kantor berita Vatikan.

Paus Fransiskus mendesak para pendengar untuk bergabung bersamanya dalam doa bahwa Allah akan memberikan kepada masyarakat dan pemimpin di Timur Tengah, di Irak dan di Ukraina kebijaksanaan dan kekuatan untuk mengejar jalur damai dengan tekad dan menghadapi setiap sengketa dengan kekuatan dialog dan rekonsiliasi.

Menurut Paus setiap keputusan harus tidak boleh didasarkan pada kepentingan tertentu, tetapi pada kepentingan bersama dan menghormati setiap orang.

Ia mengingatkan bahwa semua hilang dengan perang, namun tidak ada yang hilang dengan perdamaian.

Memperhatikan kejadian Perang Dunia I yang merenggut jutaan jiwa pada 100 tahun lalu, Paus mengungkapkan harapannya bahwa kesalahan di masa lalu takkan terulang, tapi pelajaran dari sejarah itu akan diperhatikan, sehingga perdamaian dapat terjaga lewat kesabaran dan dialog yang berani.

Dalam kesempatan berbicara kepada ribuan orang di alun-alun St. Petrus itu, Paus mengingatkan tentang perumpamaan tentang Kerajaan Allah yang seperti biji sesawi, harta yang tersembunyi, dan mutiara yang sangat berharga.  Kerajaan Allah itu adalah harta yang paling berharga yang mengubah hidup dan memberi arti pada semua yang kita lakukan. Ia mengajak para pendengar dekat dengan Injil dan membacanya setiap hari.

Sukacita seorang Kristen yang telah menemukan harta ini tampak ketika dalam setiap kata dan perbuatan menunjukkan kasih yang telah Allah berikan kepada kita melalui Anak-Nya, Yesus Kristus, kata Paus.