Yogyakarta: Polisi dan tentara menonton aksi perusakan tempat ibadah dan rumah pendeta

Puluhan orang melakukan pelemparan dan perusakan terhadap sebuah bangunan tempat ibadah dan rumah milik seorang pendeta di Dusun Pangukan, Desa Tridadi, Kecamatan Sleman, menambah rentetan kasus kekerasan bernuansa agama di Daerah Istimewa Yogyakarta. 

Pada Minggu pagi 1 Juni 2014, bertepatan dengan peringatan hari lahirnya Pancasila, sekelompok orang datang memprotes jemaat yang sedang beribadah di bangunan samping rumah pendeta. Jemaat pun membubarkan diri. Menjelang siang sekelompok orang melakukan pelemparan terhadap bangunan tempat ibadah itu. Setelah Azan Zuhur kelompok tersebut kembali melempari bangunan itu dan memukuli dengan menggunakan palu. Menurut seorang saksi mata para pelaku perusakan bukan warga Pangukan, demikian dirangkum dari laporan Kompas.

Rumah Pdt. NL yang berdampingan dengan bangunan itu turut mengalami kerusakan yang parah.

Hal yang sangat disayangkan adalah kejadian tersebut disaksikan oleh puluhan polisi dan tentara yang berjaga-jaga di lokasi kejadian. Menurut laporan Kompas, para penegak keamanan “hanya berupaya menghimbau massa untuk menghentikan perusakan.”

“Seharusnya, ketika ada pelanggaran, aparat harus bertindak tegas. Setidaknya, polisi harus menghalangi agar tidak terjadi perusakan,” kata Esti Wijayanti, politisi PDIP, di lokasi kejadian, Minggu sore, seperti dikutip Kompas.

Dikatakan ia mengaku sangat miris karena tindakan kekerasan demikian tidak dicegah. Menurut penilaiannya aparat kurang tegas sehingga perusakan terjadi.

Di sisi lain ia juga mendorong Pemkab Sleman untuk menegakkan peraturan yang melarang rumah tinggal difungsikan sebagai rumah ibadah.

Bangunan yang dipakai jemaat untuk beribadah menurut Darojat, 34, seorang saksi mata, “tidak mendapat izin sebagai gereja. Sejak tahun 2012, bangunan itu juga disegel oleh Pemerintah Kabupaten Sleman,” katanya seperti dikutip KompasUmat Kristen seringkali menghadapi dilema karena syarat untuk mendapat izin membangun rumah ibadah sulit diperoleh.

Kepala Kepolisian Resor Sleman Ajun Komisaris Besar Ihsan Amin menyatakan untuk menyelesaikan masalah yang mencoreng toleransi beragama itu dengan mengutamakan musyawarah lewat Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). “FKUB dan jajaran pemerintah nanti akan mencari solusi bersama yang menguntungkan semua pihak,” kata dia.

Ia juga berharap “tidak ada yang ‘bermain di air keruh’ dalam masalah ini.” 

Beberapa hari sebelumnya, sekelompok orang juga menyerang jemaat Gereja Katolik yang sedang beribadah di Dusun Tanjungsari, Desa Sukoharjo, Kecamatan Ngaglik, Yogyakarta. Tiga orang dirumah-sakitkan, termasuk seorang anak perempuan berumur 8 tahun.