Paus Fransiskus: Penganiayaan orang Kristen saat ini “lebih parah,” serukan jaminan kebebasan beragama

Religious Persecution Kenya Tanzania Alan Boswell resized 600Pemimpin umat Gereja Katolik, Paus Fransiskus, menyayangkan penganiayaan yang terus berlanjut terhadap orang Kristen dan penganut agama lainnya, dan mendorong dunia akademik dan pemerintah untuk membela kebebasan beragama.

“Saat ini, penganiayaan terhadap orang Kristen lebih parah daripada abad-abad pertama Gereja, dan ada lebih banyak martir Kristen [sekarang ini] daripada waktu itu,” kata Paus pada Jumat, 20 Juni 2014, di ruang konsistori Vatikan di hadapan peserta konferensi “International Religious Liberty and the Global Clash of Values” (kebebasan beragama internasional dan benturan global nilai-nilai).

Konferensi 20-21 Juni yang diselenggarakan di Roma itu disponsori bersama oleh Fakultas Hukum di Universitas St John di New York dan departemen hukum Università Maria SS. Assunta.

Paus Fransiskus mengatakan diskriminasi dan pembatasan hak yang terus terjadi karena pengakuan agama seseorang adalah hal yang “tidak bisa dimengerti dan mengkhawatirkan.” Menurutnya, tindakan itu “tidak bisa diterima.”

“Hal ini membawa rasa sakit yang hebat kepada saya melihat bahwa orang-orang Kristen di seluruh dunia adalah yang paling menderita dari diskriminasi tersebut.”

“Setiap manusia adalah ‘pencari’ kebenaran tentang asal-usul dan takdirnya,” kata Paus mengutip deklarasi Konsili Vatikan Kedua tentang kebebasan beragama, Dignitatis Humanae. “Dalam pikirannya dan dalam ‘hatinya’, pertanyaan dan pikiran muncul yang tidak boleh ditekan atau dibungkam, karena semua itu muncul dari kedalaman diri orang tersebut dan merupakan bagian dari esensi mendalam dari orang tersebut. Itu semua adalah pertanyaan agama, dan kebebasan beragama perlu bagi mereka untuk mewujudkan diri sepenuhnya.”

Paus Fransiskus menyebut kebebasan beragama sebagai “hak dasar manusia.” Ini “bukan sekedar kebebasan berpikir atau beribadah secara pribadi,” tetapi “kebebasan untuk hidup sesuai dengan prinsip-prinsip etika, baik secara pribadi maupun publik, sesuai dengan kebenaran yang telah ditemukannya.”

“Karena itu, sistem hukum, baik pada tingkat nasional maupun internasional, diperlukan untuk mengenali, menjamin dan melindungi kebebasan beragama, yang merupakan hak intrinsik yang melekat dalam sifat manusia.”

Kebebasan beragama juga “indikator demokrasi yang sehat” dan “salah satu sumber utama legitimasi negara,” lanjut Paus.

Paus Fransiskus turut mengatakan bahwa dunia global saat ini juga menghadapi “tantangan besar” dan “penyakit” dengan “pemikiran lemah bahkan mengurangi level etika secara umum, atas nama sebuah konsep palsu toleransi yang berakhir pada penganiayaan orang-orang yang membela kebenaran mengenai kemanusiaan dan konsekuensi etika.”

Paus mengatakan kepada para peserta konferensi kebebasan beragama bahwa ia berharap mereka akan menunjukkan dengan kedalaman dan kecermatan alasan bahwa kebebasan beragama harus dihormati dan dipertahankan.

Paus mengatakan kepada para peserta konferensi kebebasan beragama bahwa ia berharap mereka akan menunjukkan dengan kedalaman dan kecermatan alasan-alasan mengapa kebebasan beragama harus dihormati dan dipertahankan.

 

CNA

 

 

Ralat judul, 4 Juli 2014, dari Paus Fransiskus: Penganiayaan orang Kristen saat ini lebih “hebat,” serukan jaminan kebebasan beragama menjadi Paus Fransiskus: Penganiayaan orang Kristen saat ini “lebih hebat,” serukan jaminan kebebasan beragama.
Ralat judul, 15 Maret 2015, “lebih hebat” menjadi “lebih parah.” Isi menyusul perubahan pada judul.