Kembali pada Kitab Suci: Teolog ingatkan Gereja AS

Photo: The Assembly gathered in small groups to discuss marriage and Middle East issues earlier today. Please pray for energy and discernment! #GA221

Pembahasan tentang pernikahan dalam Sidang Umum Majelis GP-USA di Detroit, Michigan (foto: Facebook).

Sidang Umum gereja Presbyterian ChurchUSA (PCUSA), sebuah denominasi Protestan di Amerika Serikat, menetapkan keputusan pada Kamis, 19 Juni 2014, yang memungkinkan pendeta yang melayani di gereja itu untuk bertugas dalam ‘pernikahan’ sesama jenis di negara-negara bagian yang telah melegalkan hal tersebut.

Keputusan itu ditetapkan dengan 76% menyetujui dengan 24% menentang. Para utusan juga menetapkan untuk merubah definisi pernikahan dalam tata gerejanya yang menyebut antara “seorang perempuan dan seorang laki-laki” menjadi antara “dua orang.”

Lolosnya keputusan ini turut dipengaruhi oleh hengkangnya sejumlah jemaat PCUSA, terutama yang besar seperti Gereja Menlo Park di San Francisco Bay Area.

[TERKAIT: Salah satu jemaat terbesar di PC (USA) putuskan pindah, sekalipun membayar 101 milyar]

Menurut laporan Christiannews.net sejak 1992, PCUSA telah kehilangan 37% jemaatnya.

Sebelum ditetapkan menjadi peraturan, keputusan tersebut masih harus disetujui oleh mayoritas dari 172 Presbitery (sebanding dengan wilayah). Namun, hasil keputusan di Detroit, Michigan, itu telah menimbulkan keraguan apakah peraturan itu tidak akan ditetapkan.

Alan Wisdom, yang membidangi isu pernikahan di Theology Matters, sebuah publikasi teologi, menyesali bahwa sebuah perubahan yang sangat signifikan dilakukan dengan tanpa bertitik tolak dari Alkitab atau pengakuan iman gereja.

Ia mengingatkan supaya PCUSA kembali pada tradisi Gereja Reformasi yang “berurat akar” pada Alkitab.

“Sungguh mengherankan bahwa para pendukung redefinisi pernikahan tidak repot-repot untuk membenarkan inovasi mereka dari Kitab Suci atau pengakuan-pengakuan iman. Betapa jauh kita telah beranjak dari sebuah denominasi [gereja] yang menegaskan bahwa “semua keputusan harus didasarkan pada kehendak Allah yang telah diwahyukan” dalam Alkitab! Penegasan ini masih ada dalam Tata Gereja PCUSA, tapi sepertinya telah secara luas dilupakan. Di tengah kebingungan seksual dan kejatuhan masyarakat kita, kita [anggota gereja Presbiterian] sangat membutuhkan untuk kembali menemukan visi Alkitab tentang pernikahan. Lebih lagi, kita perlu mengembalikan keyakinan [Gereja] Reformasi yang berurat akar bahwa kepada Kitab Suci kita harus kembali untuk menemukan visi itu – dan semua hal lainnya untuk praktek dan iman Kristen. Kalau tidak demikian, kita hilang di tengah lautan,” tulisnya seperti dikutip Layman.org.

 

[TERKAIT: Hasil voting PCUSA atas definisi pernikahan: Penolakan terhadap Alkitab]

PROTES DAN DUKUNGAN

The Presbyterian Lay Committee  (PLC) meratapi keputusan ini dan menyerukan protes.

The Presbyterian Lay Committee meratapi tindakan-tindakan ini dan menyerukan kepada semua [anggota Gereja] Presbiterian untuk menolak dan memprotes mereka,” demikian pernyataan kelompok itu seperti dilansir Christiannews.net.

PLC menyerukan jemaat-jemaat untuk tidak mendukung badan-badan PCUSA “jika badan-badan ini belum secara eksplisit dan publik menolak tindakan-tindakan yang tidak alkitabiah itu.”

“Allah tidak bisa dipermainkan,” lanjut pernyataan itu, “dan mereka yang menggantikan Kebenaran Allah yang tidak tergantikan dengan keinginan mereka sendiri akan didapati bersalah di hadapan Allah yang kudus.”

Di pihak lain, para aktivis homoseksualisme dalam gereja bergembira dengan keputusan itu.

“Hasil [pemungutan suara] ini adalah jawaban terhadap banyak doa supaya gereja mengakui [hubungan] cinta antara pasangan sesama jenis yang saling setia,” ungkap Alex McNeill, pimpinan sebuah kelompok pendukung dalam PCUSA.

Debat yang emosional namun santun mengawali pengambilan suara dengan para penentang memperingatkan bahwa mosi tersebut bertentangan dengan firman Tuhan dan akan mengakibatkan gereja-gereja Presbyterian di luar negeri memutuskan hubungan dengan PCUSA.

The Presbyterian Church in America (Gereja Presbiterian Amerika, denominasi Presbyterian lainnya di AS) mengambil kesempatan itu untuk menjelaskan komitmen mereka terhadap tradisi teologi Reformasi, dan menegaskan bahwa pernikahan adalah institusi yang ditetapkan Allah sejak penciptaan, antara seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan itu adalah apa yang selalu dipercaya, diajarkan dan diakui oleh Gereja.

 

ALABAMA

Keputusan yang diambil dalam Sidang Umum PCUSA ini mengemuka tak lama setelah umat Kristen, yang tetap setia pada dua milenium tradisi apostolik mengenai kekudusan pernikahan dan seks, meratapi keputusan hakim “Kristen” yang menganulir peraturan yang melarang praktek sodomi di Alabama.

Menanggapi hal ini pengacara Michael Peroutka menyatakan bahwa keputusan yang dibuat oleh mereka yang mengaku sebagai wakil Kristus, adalah “refleksi atas kondisi kekristenan Amerika,” demikian Christiannews.net.

 

AMERIKA LATIN

Sebuah pernyataan bersama (joint statement) antara Konferensi Waligereja Paraguay, Asosiasi Pendeta Injili Paraguay, dan Asosiasi Gereja Injili Paraguay meminta Organization of American States (OAS, organisasi negara-negara Amerika) untuk “melestarikan pernikahan antara seorang pria dan seorang wanita sebagai satu-satunya yang disetujui oleh Allah,” dan keluarga sebagai “inti dasar dari masyarakat.”

Hal tersebut diungkapkan menanggapi usulan yang mengarah pada diterimanya ‘pernikahan’ sejenis di negara-negara anggota.

Alfonso Aguilar, direktur eksekutif Latino Partnership (Kemitraan Latino) dari American Principles Project, mengecam Duta Besar AS untuk OAS untuk terfokus pada agenda homoseksual.

“Tidak ada yang membenarkan perilaku homofobik di mana saja; tetapi apa yang didorong oleh pemerintah ini melalui OAS merupakan agenda agresif yang merusak nilai-nilai budaya dan agama dari mayoritas orang di Amerika Latin,” katanya dalam siaran pers, seperti dikutip LSN.

 

Terakhir diperbarui 28 Mei 2015.