Dua Uskup Gereja Ortodoks yang diculik di Suriah dikabarkan “dalam keadaan baik”

Uskup Yohanna Ibrahim dan Uskup Boulos Yaziji.

Penculikan dua uskup Gereja Ortodoks di Suriah yang diratapi oleh umat dan para pemimpin dunia, termasuk pemimpin Muslim, mendapat titik terang.

Uskup Yohanna Ibrahim dan Uskup Boulos Yaziji yang diculik di Suriah pada April 2013 saat ini laporkan berada di kota utara Raqqa dan ditahan oleh kelompok Negara Islam Irak dan Levant (NIIL).

Media Libanon, Naharnet, pada tujuh hari lalu mengutip sebuah laporan yang diterbitkan di surat kabar al-Akhbar pada hari Sabtu sebelumnya yang menyebutkan bahwa kedua uskup “dalam keadaan baik” dan saat ini ditahan di wilayah Tal Abyad, yang terletak di utara Raqqa, dekat perbatasan Turki.

Keduanya diculik, menurut laporan, dekat kota Kafr Dael, dekat Aleppo di Suriah utara, yang dikuasai oposisi bersenjata.

Kelompok Asbat al-Ansar yang berafiliasi dengan Al-Qaida diduga berada di balik penculikan dua uskup tersebut.

Para penculik dikatakan tidak menyadari gejolak yang akan ditimbulkan oleh operasi penculikan itu, membuat mereka meminta bantuan pada pimpinan NIIL, yang menerima kemudian memindahkan mereka ke al-Raqqa.

Naharnet menyebut bahwa belum ada kelompok yang secara resmi mengaku bertanggung jawab atas penculikan kedua petinggi Gereja Ortodoks Suriah dan Yunani itu, namun sumber yang dekat dengan Gereja Ortodoks Yunani dan pemerintah Suriah mengklaim para penculik itu adalah “jihadis Chechnya.”

Fides.org melaporkan pada April 2013 Organization for Islamic Cooperation (OIC, organisasi kerja sama Islam) di Jedah mengutuk penculikan itu. Sekretaris Jenderal Pan-Islam Ekmeleddin Ihsanoglu menyerukan “pembebasan segera” kedua uskup tersebut, mengatakan tindakan “tersebut bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam sejati, dan status tinggi yang diberikan untuk rohaniawan Kristen dalam Islam.”

Umat Kristen, sekitar 5-10% dari total populasi, menjadi sasaran yang sangat rentan dalam konflik yang melanda Suriah sejak Maret 2011.

Dalam konferensi Kristen dan Islam di Yordania tahun lalu Patriakat Antiokia dan Seluruh Wilayah Timur Gereja Ortodoks Yunani menanggapi situasi di Suriah dan wilayah Timur Tengah dengan menyatakan:

“Kami mendengar masyarakat internasional ini sering berlagak menangisi orang-orang Kristen di Timur dan menunjukan rasa sedih untuk apa yang ia sebut situasi buruk mereka [orang-orang Kristen]. Akan tetapi, kami tidak membutuhkan penghiburan ini karena nasib kami di negeri-negeri kami adalah sama dengan saudara-saudara sebangsa kami, yang telah lama hidup bersama-sama dalam kasih dan harmoni.”

Selain umat Kristen, anak-anak adalah yang paling menderita dalam konflik yang diperkirakan telah menewaskan sekitar 90.000-150.000 orang itu.

Menurut laporan Aljazeera, organisasi PBB yang menangani anak-anak, UNICEF, memperkirakan sekitar 350.000 anak-anak pengungsi Suriah tidak bersekolah, dan ribuan di antara mereka terpaksa bekerja di ladang-ladang dan pabrik untuk menunjang keluarga.

 

Pernyataan keuskupan Gereja Ortodoks Yunani dan Suriah, Aleppo, Mei 2013.