Anak 8 tahun disetrum; Polisi akan menindak tegas penyerang pertemuan Doa Rosario di Yogyakarta

Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta menyatakan akan menindak tegas pelaku penyerangan terhadap umat Katolik yang sedang mengadakan ibadah Doa Rosario di rumah milik Direktur Penerbitan Galang Press Julius Felicianus di Kompleks Perumahan STIE YKPN, Desa Tanjungsari, Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, DIY, Kamis malam 29 Mei 2014.

“Kami sudah mengetahui beberapa orang yang melakukan penganiayaan dan perusakan rumah milik Julius. Nama-nama beberapa pelaku sudah kami peroleh. Poli[si] sedang mengejar mereka,” kata Kabid Humas Polda DIY AKBP Any Pudjiastuti kepada VIVAnews, Jumat 30 Mei 2014.

Sejumlah pria (saksi mata menyebut delapan orang) dengan membawa pentungan menyerbu, merusak dan melakukan penganiayaan terhadap jemaat yang sedang beribadah, termasuk pemilik rumah yang datang setelah menerima telpon dari anaknya.

Salah satu korban seorang anak perempuan berumur delapan tahun yang dirumah-sakitkan diberitakan telah dibolehkan pulang. Menurut VIVAnews, siswi kelas 2 SD yang sedang trauma tersebut “mengalami lebam di telapak kiri akibat disetrum oleh salah satu pelaku penyerang…”

Dua korban lainnya masih sedang dirawat intensif di rumah sakit Panti Rapih Yogyakarta, yakni pemilik rumah, Bpk. Julius Felicianus dan Bpk. Nur Wahid, ayah dari korban anak-anak. Keluarga dan teman terus membezuk mereka.

Sabtu 31 Mei waktu setempat VIVAnews melaporkan bahwa pihak polisi telah menciduk KH, yang menurut keterangan saksi adalah salah satu dari para penyerang.

Pihak berwenang masih terus menyelidiki motif tindakan tidak manusiawi itu.

Ada indikasi bahwa para pelaku telah diprovokasi terlebih dahulu. Menurut keterangan Bpk. Julius yand dihimpun VIVAnews, setelah memukuli dia, kelompok tersebut berteriak, “Saya suruhan ustaz JUT,” lalu mereka pergi meninggalkan rumahnya.

Pemerintah Kabupaten Sleman memberikan dukungan pada pihak berwenang dalam mengurus kasus ini. “Kami minta pelakunya diusut tuntas,” kata Wakil Bupati Sleman Yuni Satia Rahayu seperti dikutip VIVAnews. Jajaran pemerintah dari kabupaten sampai tingkat desa telah melakukan koordinasi untuk menindak-lanjuti penyerangan dan penganiayaan tersebut.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Din Syamsuddin, mengatakan aksi kekerasan itu tidak bisa ditoleransi. “Saya mendorong kepolisian untuk mengusut terus, jangan sampai terulang-ulang kembali,” katanya Jumat, 30 Mei, seperti dikutip Kompas. Ia berharap masyarakat tidak membesar-besarkan perbedaan.

Menurutnya, penyerangan pada kelompok yang tengah beribadah bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Berita lainnya:

Polri mesti hukum pelaku kekerasan Gilang Press, AntaraNews.com (1 Juni 2014).

Sultan diminta desak aparat ungkap kekerasanAntaraNews.com (30 Mei 2014).