Pdt. Franklin Graham serukan pendeta angkat suara menentang aborsi dan homoseksualitas; mengatakan “Allah benci penakut”

 

Pdt. Franklin Graham

Pdt. Franklin Graham.

Pendeta Franklin Graham, anak dari penginjil terkenal Billy Graham, dalam sambutannya di hadapan para pendeta yang menghadiri konferensi The Watchmen on the Wall National Briefing 2014 di Washington, DC, Amerika Serikat, mengatakan bahwa “Tuhan membenci penakut.”

Pdt. Graham mendasarkan sambutannya pada Wahyu 21:8.

Presiden organisasi kemanusiaan Samaritan Purse dan direktur Asosiasi Penginjilan Billy Graham ini menekankan bahwa dari kelompok-kelompok yang “akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang” itu yang pertama disebut adalah “penakut.”

“Definisi penakut: seorang penakut tidak akan menghadapi suatu persoalan yang perlu dihadapi karena takut,” ungkapnya.

“Allah benci penakut. Dan para penakut yang dirujuk Tuhan adalah perempuan dan laki-laki yang tahu kebenaran tetapi menolak untuk mengatakannya.”

Pdt. Graham menyoroti tekanan yang dihadapi ketika menentang dosa. Ia mengatakan “kalian tidak bisa membungkam saya.”

“Kita memiliki tanggung jawab untuk berbicara tentang isu-isu moral. Aborsi, homoseksualitas, ini adalah masalah moral. Ini [AS] adalah negara bebas, Anda dapat melakukan apa yang ingin Anda lakukan tapi saya ingin Anda tahu bahwa ini adalah dosa terhadap Allah. Ini adalah dosa,” kata Pdt. Graham.

Konferensi yang dilaksanakan pada 21-23 Mei lalu itu ditujukan untuk mendorong para pendeta dan gereja-gereja untuk lebih terlibat dalam politik, masalah-masalah sosial, dan kebijakan publik.

Pdt. Graham adalah salah satu penerima penghargaan The Watchman Award 2014 dari Family Research Council (FRC), organisasi yang mendukung nilai-nilai Yudeo-Kristen seperti hak kehidupan dan pernikahan Kristen.

Tahun 2012 lalu kantor pusat FRC di Washington, DC, pernah menjadi sasaran pembunuhan masal oleh seorang aktivis penentang. Beruntung seorang pekerja berhasil merebut senjata dari pelaku sekalipun tangannya tertembak.

 

The Christian Post | Yubelium.com