Para pendeta Afrika-Amerika: Menyamakan homoseksualitas dan Gerakan Hak Sipil adalah distorsi sejarah

RallyLebih dari 100 pendeta berlatar-belakang Afrika-Amerika mengajukan peninjauan kembali terhadap keputusan pengadilan di negara bagian Michigan, Amerika Serikat, yang menjatuhkan sebuah hasil voting bahwa pernikahan adalah antara satu orang laki-laki dan satu orang perempuan.

“Fakta bahwa media Amerika dan pihak lainnya secara keliru mengartikan ‘pernikahan’ tradisional sebagai hal yang sama dengan perampasan hak-hak sipil warga Hitam Amerika tidak membuat hal itu demikian,” demikian pernyataan mereka seperti dikutip oleh ChNN.

“Membandingkan dilema pasangan sesama jenis dengan diskriminasi yang dihadapi oleh orang kulit hitam Amerika selama berabad-abad adalah distorsi sejarah budaya dan hukum negara kita.”

Para pendeta mengatakan bahwa latar belakang etnis (ras) seseorang adalah masalah yang sama sekali berbeda dari aktivitas seksual seseorang.

Sebuah pengadilan tingkat rendah memutuskan Maret lalu bahwa amendemen pernikahan Michigan pada tahun 2004 tidak konstitusional.

Keputusan yang disahkan dengan 59 persen suara, atau hampir 2,7 juta kertas suara itu menetapkan definisi pernikahan sebagai persatuan antara seorang laki-laki dan perempuan.

“Untuk menjaga dan melestarikan manfaat dari pernikahan bagi masyarakat kita dan untuk masa depan generasi anak-anak kita, persatuan antara seorang pria dan seorang wanita dalam pernikahan akan menjadi satu-satunya perjanjian yang diakui sebagai pernikahan atau persatuan yang serupa untuk tujuan apapun,” demikian isi amandemen itu.

Lembaga hukum The Thomas More Law Center mengajukan peninjauan atas nama 110 pendeta Afrika Amerika di Michigan dan Ohio, yang mewakili jutaan orang Kristen.

Christian News Newtwork