Meriam Yehya Ibrahim menolak meninggalkan iman: Saya adalah seorang Kristen; Petisi untuk membebaskan seorang ibu Kristen di Sudan yang dijatuhi hukuman mati karena tak mau menyangkal imannya

Meriam Petition Pic

Sebuah petisi yang diprakarsai International Christian Concern untuk pembebasan Meriam Yehya Ibrahim (Grafis: ICC).

Meriam Yehya Ibrahim, 27, ibu dari seorang anak berumur 20 bulan dan saat ini sementara mengandung delapan bulan, dijatuhi hukuman 100 kali cambuk karena dianggap melakukan zinah dalam pernikahannya dengan Daniel Wani, seorang Kristen dari Sudan Selatan, yang telah menjadi warga negara Amerika Serikat.

Pengadilan juga menjatuhkan hukuman gantung atas tuduhan meninggalkan agama Islam. Ayah Meriam adalah seorang Muslim Sudan yang meninggalkan dia ketika dia baru berusia 6 tahun. Ibunya, yang adalah seorang Kristen Ortodoks Etiopia, membesarkannya.

Menurut pengadilan Meriam adalah seorang Muslim karena ayahnya adalah seorang Muslim. Ia diberikan kesempatan untuk menyangkal iman Kristennya, namun ia menolak. 

“Saya seorang Kristen,” katanya seperti dikutip CNN, “Saya akan tetap seorang Kristen.”

Meriam secara teratur menghadiri gereja Katolik St. Matius di ibukota Sudan, Khartoum, sebelum ia ditahan bersama anaknya yang masih kecil. Ia adalah lulusan sekolah kedokteran Universitas Khartoum.

Meriam telah ditahan di Penjara Federal Wanita Omdurman bersama dengan anaknya sejak 17 Februari waktu lalu, menyusul laporan dari salah seorang kerabat bahwa ia telah meninggalkan Islam dan menikahi seorang Kristen.

Menurut hukum di Sudan, pelaksanaan hukuman adalah setelah melahirkan dan dua tahun menyusui.

Pemerintah Republik Sudan semakin ketat terhadap orang Kristen setelah Sudan Selatan dengan komunitas Kristen yang signifikan memisahkan diri dari negara itu setelah melalui perang sipil yang panjang.

Keputusan pengadilan Sudan terhadap Meriam mendapat kecaman keras dari berbagai pihak, termasuk PBB.

Sebuah petisi yang diprakarsai oleh Emily Clarke dari Inggris di change.com (#SaveMeriam) telah mendapat hampir 350.000 tanda tangan, termasuk dari sejumlah umat Muslim.

Tia Faisal di Cucamonga, California, menulis pada 24 Mei: As a Muslim, I am aghast at how my religion is being twisted by ignorant men (govt) to enact injustice and oppression. (Sebagai seorang Muslim, saya tercengang dengan bagaimana agama saya disalah-gunakan oleh orang-orang bodoh (pemerintah) untuk melakukan ketidak-adilan dan penindasan.)

Petisi lainnya telah dimulai oleh International Christian Concern.