Siapa “Isteri” Yesus Kristus? Belajar dari Papirus Koptik “abad 8 M”

Potongan papirus dalam bahasa Koptik yang diberi tahun 741 Masehi. Pada bagian bawah analisis Prof. Leo Depuydt tentang kesamaan-kesamaan antara potongan kalimat pada fragmen itu dan ungkapan-ungkapan dalam tulisan gnostik  Logia Thomas.

Potongan papirus dalam bahasa Koptik yang diberi tahun 741 Masehi. Pada bagian bawah analisis Prof. Leo Depuydt tentang kesamaan-kesamaan antara potongan kalimat pada fragmen itu dan ungkapan-ungkapan dalam tulisan gnostik Logia Thomas.

Sebuah potongan kertas yang dibuat dari tanaman air yang disebut papirus telah menarik perhatian banyak orang.

Menurut penjelasan Prof. Karen King yang mengajar di Harvard Divinity School, seorang “donor,” yang tetap dirahasiakan, menyumbangkan potongan papirus seukuran kartu nama itu pada tahun 2011, dipercaya merupakan bagian dari potongan papirus yang lebih besar.

Dari terjemahan bahasa Koptik potongan papirus itu terdapat ungkapan “Yesus mengatakan pada mereka, isteriku…” (baris keempat). Pada baris berikutnya “Ia (feminin) akan bisa menjadi murid-Ku.”

Dengan dua kalimat itu, Prof. King mempopulerkan sebutan tendensius “Injil Isteri Yesus” yang saat itu ia perkirakan ditulis pada abad ke-4 Masehi. Laporan tes radiokarbon kedua pada bulan Maret lalu memberi tahun 741 sesudah kelahiran Kristus (400 tahun lebih awal dari perkiraan Prof. King).  

Sejumlah ahli telah meragukan keaslian dokumen itu – mulanya hanya menilai dari tampilan digital yang terkesan memiliki noda tinta. Namun, sekalipun noda tinta itu tidak terdapat pada papirus itu sendiri, dugaan pemalsuan masih belum surut.

Prof. Leo Depuydt dari Brown University “yakin” bahwa potongan papirus itu merupakan hasil pemalsuan, karena ungkapan-ungkapan dalam papirus Koptik itu mirip dengan tulisan gnostik Logia Thomas (“Injil Thomas”). Tulisannya: The Alleged Gospel of Jesus’s Wife: Assessment and Evaluation of Authenticity dipublikasikan dalam Journal Harvard Theological Review.

Dengan jarak waktu yang terlampau jauh dari masa awal kekristenan, menjadi sulit untuk menggunakan papirus itu untuk mendebat pemahaman tradisional dan historis Kristen bahwa Kristus tidak menikah. Catatan biografi Injil menunjukkan Ia menguduskan pernikahan, namun hidup yang dijalani-Nya adalah yang penuh pelayanan dan pengorbanan.

Dalam tulisannya Prof. King sendiri mengakui bahwa potongan tersebut “bukan merupakan bukti bahwa Yesus pernah menikah,” namun menurutnya nampak potongan itu mendukung pernikahan dan prokreasi (dihadapkan pada praktek selibat), serta peran penting perempuan.

Induksi teologi ini turut pula mewarnai anggapan pemalsuan yang dikemukakan Prof. Depuydt. Pemalsu menggunakan kertas papirus kuno, menggunakan campuran tinta kuno, yang pada efeknya untuk memicu debat teologi.

Tidak diketahui, dalam konteks tulisannya yang lebih besar, apa yang sebenarnya pesan dari potongan (fragmen) tersebut. Kata-kata dalam papirus itu memang telah lebih sering didorong oleh media ke arah yang bertentangan dengan ortodoksi Kristen. Tapi perenungan tentang “Isteri” Yesus dapat memberi manfaat bagi umat percaya saat ini.

Sekalipun pada 215 M, Clement dari Alexandria secara khusus menyebut bahwa Yesus tidak menikah, penggunaan istilah “isteri” secara metaforis dalam tradisi kekristenan bukan hal yang baru. Hubungan Kristus dengan jemaat digambarkan oleh Rasul Paulus sebagai hubungan seorang suami dan seorang isteri (Efesus 5:22-33).

Yang memang lebih luas dipergunakan adalah metafora Yesus sebagai “mempelai laki-laki” dan Gereja sebagai “mempelai perempuan.”

Dari metafora ini, pertanyaan pada umat percaya tentang siapa yang bakal menjadi “Isteri” Yesus Kristus adalah hal yang penting.

Anggaplah di masa-masa penantian ini Gereja adalah “pacar,” maka kesetiaan Gereja adalah jawaban terhadap janji Tuhan untuk datang menjemput orang-orang yang percaya padanya. Supaya Gereja dan Kepalanya menjadi satu, sama seperti Bapa dan Anak adalah satu.

Jikalau kamu menuruti perintah-Ku,  kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. (Yohanes 15:10)

——

Diskusi di Evangelical Textual Criticism tentang potongan papirus “Isteri” Yesus memperkuat dugaan pemalsuan; disertai beberapa tautan ke pembahasan para ahli.

http://alinsuciu.com/2014/04/24/christian-askeland-finds-the-smoking-gun/

http://evangelicaltextualcriticism.blogspot.de/2014/04/jesus-had-ugly-sister-in-law.html

http://papyrology.blogspot.de/2014/04/christian-askeland-jesus-had-ugly.html

 

Diperbarui 28 April 2014: Tambahan informasi.