Memahami “mitos” Injil dalam perayaan Paskah Kristen

PaskahEKKLESIASTIKA — Mitos dalam penggunaan populer. Kata “mitos” adalah istilah yang digunakan dalam studi sosial-antropologi untuk mewakili narasi-narasi dalam kelompok masyarakat tertentu yang dinilai (terutama oleh antropolog Barat) sebagai yang unik (“eksotis”).

Pada perkembangannya, para antropolog sering menyatukan saja legenda, fabel, kodifikasi pengetahuan, bahkan narasi sejarah kelompok masyarakat (etnik) tertentu dalam kata “mitos,” sekalipun pada saat yang sama mereka yang berusaha untuk tampil kreatif selalu menyediakan definisi mereka sendiri.

Masalah muncul tidak hanya karena narasi-narasi itu mempunyai fungsi dan genre berbeda, tapi juga karena istilah “mitos” telah secara populer dipahami dalam arti “tidak historis,” “rekaan,” bahkan “dusta.”

Etimologi mitos hanya menambah problematika yang ada. Thayer’s Greek Lexicon mendefinisikan kata Yunani mythos: 1) pidato, kata, ungkapan; 2) narasi, cerita: a. cerita yang betul. b. fiksi, fabel; rekaan, dusta.

Mitos dalam teologi. Dalam studi teologi, istilah “mitos” menjadi populer dengan munculnya istilah “demythologizing.” Istilah “mitos” dalam “demythologizing” mempunyai arti sendiri, dan untuk mengerti penggunaannya kita perlu melihat konteks sejarah.

Pada abad ke-5 Masehi agama Kristen telah mendominasi Kekaisaran Romawi. Dalam perkembangannya pos terdepan di wilayah Barat (Eropa) pun menjadi pusat kekristenan, dan dikendalikan di bawah kekuasaan Gereja yang nantinya dalam penilaian umum semakin jauh dari semangat Injil Yesus Kristus. Korupsi dan kemewahan para rohaniawan menjadi sorotan utama.

Sejak abad ke-12, dunia akademik mulai mempertanyakan otoritas Gereja atas kehidupan masyarakat, seiring peralihan institusi pendidikan dari gereja/biara ke universitas-universitas. Sementara itu, di kalangan elit mulai muncul semangat separatisme. Para penguasa lokal mulai gerah harus mendapat legitimasi dari Roma.

Munculnya gerakan Reformasi dan akibatnya yang tragis menggemburkan tanah subur bagi munculnya gerakan sekularisme di Eropa. Penganiayaan dan perang agama antara Katolik dan Protestan (contoh, Perang 30 tahun) menyengsarakan banyak orang.

Gerakan sekularisme menawarkan pemisahan antara gereja dan negara, alasannya supaya negara tidak menggunakan kekuasaannya untuk menindas kelompok agama yang dinilai sebagai bidat. Namun, pada ekstrimnya, sekularisme berusaha memarginalisasi agama Kristen dalam masyarakat Eropa (dan kemudian Amerika Utara) lewat skema pemisahan antara spritual dan material, publik dan privat. Agama adalah “spiritual” karena itu tidak memiliki tempat dalam ruang “publik.”

Istilah rasio dan sains didaulat sebagai otoritatif, dan Gereja ditempatkan sebagai lawan dari pencapaian ilmu pengetahuan, dan dengan sendirinya mulai kehilangan signifikansi dalam dunia pendidikan yang didaulat sebagai “publik.”

“Pietisme,” gerakan tandingan sekularisme yang awalnya menyapu Jerman tidak bertahan begitu lama, sekalipun tradisinya bertahan di kantong-kantong penginjilan di wilayah kolonial Eropa.

Kolonialisme telah mempercepat pernyebaran kekristenan ke wilayah-wilayah non-Kristen di seluruh dunia, namun pada saat yang sama, oleh gerakan sekularisme terjadi de-kristenisasi di pusat-pusat kekristenan di Eropa dan Amerika Utara. De-kristenisasi ini juga terjadi di wilayah-wilayah kolonial di mana pemimpinnya adalah seorang penganut sekularisme.

Sementara itu, Kritik Historis mengambil alih sekolah-sekolah teologi Protestan. Metode pendekatan terhadap Alkitab ini, sekalipun mempunyai banyak sumbangan positif, dikembangkan dengan spirit sekularisme. Oleh teolog-teolog sekular metode ini dipakai untuk melemahkan otoritas Gereja Katolik dan peran Kitab Suci dalam iman orang percaya.

Di penghujung abad ke-18 gerakan sekularisme berhasil menguasai banyak institusi pendidikan tinggi, tak terkecuali pendidikan teologi, dan dengan semangat rasionalisme, abad ke-19 dan 20 menjadi masa keemasan sekularisme.

Hal-hal yang bersifat spiritual ditentang. Mujizat dianggap sebagai hal yang bertentangan dengan rasio.

Di balik semua retorika ini adalah penyangkalan terhadap Yang Mahakuasa. Atau dalam bahasa seorang filsuf Jerman, “God is dead,” yang maksud sebenarnya adalah Allah tidak ada.

Berusaha mengakomodasi trend ini, maka muncullah istilah “demythologizing,” yang ditawarkan sebagai upaya untuk menjelaskan Allah kepada “manusia modern” lewat kosakata sekular sains yang menolak Allah dan menolak mujizat.

Kisah-kisah mujizat disebut sebagai “mitos” sekalipun kata ini diberi nuansa baru, yaitu diartikan sebagai laporan peristiwa yang mengandung elemen supranatural, mujizat. Dengan “demythologizing” Allah ditaruh dalam kotak di mana Ia tidak bisa menunjukkan kemahakuasaan-Nya.

Hal yang sama dilakukan para pendukung dan pegagas Yesus Sejarah (Historical Jesus), termasuk mereka yang memisahkan kerigma Yesus dan kerigma Kristus. Mereka pada akhirnya harus menciptakan Yesus mereka sendiri, karena “Yesus historis” yang didamba-dambakan para sekularis tak pernah ada. Terutama jika mereka mencarinya dalam Kitab Injil.

Sementara itu, di belakang layar ada dua perang dunia yang mengklaim lebih dari 100 juta jiwa umat manusia dan memporak-porandakan Eropa dan Asia. Sisanya adalah kemiskinan akut yang menjerat negara-negara yang disebut Dunia Ketiga, dan kerusakan alam ciptaan telah mencapai tingkat yang sangat kristis.

Sampai sejauh ini, status quo sekularisme di institusi pendidikan telah mendapat tantangannya yang terberat.

Sains dan rasio ternyata tak harus bertentangan dengan iman, dan lebih jauh lagi, pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan justru semakin menunjukkan bahwa iman dan ilmu pengetahuan saling berkaitan, bahkan saling membutuhkan. Contoh klaim iman yang mendasar dalam Kejadian 1 tentang penciptaan sejalan dengan penemuan sains bahwa alam semesta memiliki awal yang finit.

Para ilmuwan terkesima dengan konstanta fisika yang sedemikian persis sehingga memungkinkan kehidupan di alam semesta. Istilah “fine-tuned universe” memaksa ilmuwan sekular mencari penjelasan alternatif atas ketidak-nyamanan bahwa Allah yang menciptakan segala sesuatu dari yang tidak ada menjadi ada. Creatio ex nihilo. Sebuah mujizat.

Ketika kita melihat dengan bijaksana, keteraturan di alam semesta adalah mujizat, keajaiban, tulis St. Agustinus. Lebih besar dari keajaiban yang paling jarang. Dan seorang manusia adalah keajaiban yang lebih besar dari keajaiban yang dilakukan oleh seorang manusia (Kota Allah, 10:13).

Teologi yang menempatkan Allah sebagai Allah kembali menempatkan manusia sebagai manusia, yaitu yang diciptakan menurut gambar dan rupa Khaliknya, yang diberikan tugas untuk mengolah dan memelihara alam ciptaan Tuhan.

Untuk umat manusia yang telah jatuh ke dalam dosa ini, serta seluruh ciptaan yang mengeluh menantikan waktu yang ditentukan Allah untuk menghukum Bapa para pendusta, Allah telah berinkarnasi menjadi manusia. Sebuah mujizat.

Dengan cara ini Allah menunjukkan kasih-setia-Nya, sekaligus menaruh Iblis di bawah penghukuman, dan memastikan bahwa manusia tetap memiliki kehendak bebas untuk memilih.

Di waktu antara ini (the in-between time) Ia menganugerahkan Roh Kudus, Sang Penghibur, yang memberi kekuatan dan memelihara iman.

Karena Allah ada. Yesus bangkit dari antara orang mati.

Klaim iman Kristen adalah “Allah membangkitkan Yesus dari orang mati,” supaya siapa yang percaya pada-Nya beroleh hidup yang sejati (Yohanes 3:16).

Peristiwa kebangkitan Kristus bukan sebuah legenda, mitos, atau rekaan para pengikut Kristus.

Karena itu, selamat Paskah saudara-saudara. Haleluya!

 

 

 

Saran bacaan:

  • Augustine and R. W. Dyson, The City of God against the Pagans (New York: Cambridge University Press, 1998).
  • Greg Gossett, Rudolf Bultmann and the Theory of Demythologization, JfoxOnline, April 5, 1993, http://jfoxonline.com/WUMC/BULTMANN.htm
  • Paul G. Hiebert, Transforming Worldviews: An Anthropological Understanding of How People Change (Grand Rapids, Michigan: Baker Academic, 2008).
  • Fakta sejarah kebangkitan Kristus, Yubelium.Magazine, 9 Maret 2014, http://yubelium.com/2014/03/09/fakta-sejarah-peristiwa-kebangkitan-kristus/

Film/Video:

  • God’s Not Dead, based on God’s Not Dead oleh Rice Broocks, Pure Flix Entertainment.
  • Life, the Universe and Nothing: Has science buried God? Debate Dr. William Lane Craig and Prof. Lawrence Krauss, http://multimedia.yubelium.com/2014/03/05/life-the-universe-and-nothing-has-science-buried-god/