Buah apel dari Taman Eden

adam dan hawa di taman edenEKKLESIASTIKA — Menurut kisah kejatuhan manusia yang direkam Kejadian 3, setelah manusia mengulurkan tangan dan memakan buah dari pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat, mereka mendapati diri mereka telanjang.

Dengan kata lain dosa telah masuk dan salah satu konsekuensinya adalah Adam dan Hawa kehilangan jubah kekudusan mereka.

Dalam kisah itu kita baca bahwa Allah mengusir manusia dari Taman Eden dan menempatkan malaikat-malaikat yang menjaga pohon kehidupan.

Manusia yang berdosa tak bisa makan dari pohon kehidupan, karena harus manusia yang tak berdosa yang membawa mereka kembali kepada kehidupan.

Ada yang mengatakan bahwa Taman Eden secara geografis terletak di wilayah negara Irak sekarang ini, sementara para seniman telah dengan mengagumkan menggambarkan kisah kejatuhan manusia itu. Lukisan dari Titian (c. 1550) menunjukkan Adam yang gugup dan Hawa yang mengambil buah dari tangan sosok yang berwujud setengah manusia setengah ular yang melingkar di pohon buah.

Mereka memilih untuk mencari kebenaran dari perkataan Iblis, dan bukan dari perkataan Allah. Dan selagi keduanya merupakan pencarian akan kebenaran, yang satu selalu akan berakhir dengan kekecewaan.

Buah yang sering digambarkan sebagai buah apel ini adalah perlambangan keangkuhan, sebuah ide pemberontakan yang lahir dari kesombongan. Memang iblis pintar menaruh kesombongan dan keangkuhan dalam hati laki-laki dan perempuan tanpa kita semua menyadarinya.

Bukan cara Iblis jika tak licin dan licik. Ia menawarkan 80% kebenaran dengan campuran 20% dusta yang mematikan. Meminum campuran ini efeknya bukan kantuk atau kadang mual, melainkan keangkuhan atau kesombongan yang memimpin pada kematian.

“Tuhan Allah mengatakan demikian, bukan? Oh, bukan ya? Ah, kamu tidak akan mati. Tuhan hanya tidak mau kalian jadi sama seperti Dia tahu yang baik dan yang jahat.”

Kisah Adam dan Hawa menunjukkan manusia tidak punya cara lain untuk membuktikan perkataan Iblis, dan keinginan untuk setara dengan yang bukan setaranya itu menyebabkan mereka makan buah terlarang.

Mereka mengambil resiko karena ingin up-grade “menjadi seperti Allah.” Tidak mau kalah, istilahnya.

Mereka memilih untuk mencari kebenaran dari perkataan Iblis, dan bukan dari perkataan Allah. Dan selagi keduanya merupakan pencarian akan kebenaran, yang satu selalu akan berakhir dengan kekecewaan.

Kisah Taman Eden memberi referensi tentang awal dari segala duka dan airmata kepedihan di dunia.

Sampai sekarang pun keangkuhan dan kesombongan adalah penyebab berbagai kejahatan yang tak hanya memakan korban banyak orang lain, tetapi juga diri sendiri.

Tak heran dari ketujuh dosa mematikan, mata yang sombong adalah yang pertama (disusul kemudian lidah dusta, tangan yang menumpahkan darah orang tidak bersalah, hati yang membuat rencana-rencana yang jahat, kaki yang segera lari menuju kejahatan, seorang saksi dusta yang menyembur-nyemburkan kebohongan dan yang menimbulkan pertengkaran saudara [Amsal 6:16-19]).

Iman adalah menaruh kepercayaan pada perkataan Allah.

Kepercayaan demikian itu (iman) bukan berarti tanpa pemikiran dan refleksi, tanpa pertanyaan dan tanpa upaya mencari jawaban.

Para pemikir Kristen sejak awal mula gereja berpikir dan berefleksi, bertanya dan menemukan jawaban. Dalam perenungan selanjutnya ziarah iman itu disebut “faith seeking understanding” atau iman yang mencari pengertian.*

Karena itu, ada yang membedakan antara mencari kebenaran iman dan mengidam buah terlarang: kerendahan hati.

* “Faith seeking understanding” atau “fides quaerens intellectum” (iman yang mencari pengertian) adalah moto dari St. Anselmo.
Dimuat pertama kali di Menara Penjaga. Artikel ini terakhir diperbarui 16 Desember 2013.