Para suster Suriah korban penculikan kembali dengan selamat: Tuhan tidak meninggalkan kami

St. Thekla convent, whence the nuns were abducted, in Ma'loula, Syria. Credit: Bernard Gagnon via Wikimedia (CC BY-SA 3.0).

Biara St. Thekla di Ma’loula, Syria. Ma’loula merupakan kota tua di mana bahasa yang dipakai Kristus masih digunakan (Foto: Bernard Gagnon).

Para suster dari Gereja Ortodoks Yunani di Suriah yang diculik bersama para perempuan yang bekerja untuk panti asuhan di biara mereka, kembali dengan selamat Minggu, 9 Maret 2014.

“Tuhan tidak meninggalkan kami,” kata Bunda Pelagia Sayyaf salah seorang suster St. Thekla ketika tiba di Damaskus, Senin, 10 Maret, CNA melaporkan.

Mereka dibawa melalui titik penyeberangan perbatasan yang dikuasai oposisi bersenjata ke Arsal, sebuah kota perbatasan Libanon, di mana mereka diserahkan kepada pejabat Libanon, dan kemudian dibawa ke patriarkat Ortodoks Yunani di Damaskus.

12 suster dan tiga pekerja diculik dari biara St. Thekla di Ma’loula, 35 km sebelah utara Damaskus, ketika kota itu direbut oleh Front al-Nusra, salah satu kelompok oposisi bersenjata di Suriah pada 2 Desember tahun lalu. Mereka semua ditahan selama tiga bulan di kota Yabrud.

“Allah kiranya adalah saksiku, saya katakan kepada Anda Front al-Nusra memperlakukan kami dengan baik,” kata salah seorang suster kepada pers.

Mereka menjelaskan bahwa mereka tidak dipaksa untuk menanggalkan kalung salib mereka, melainkan menurut Bunda Sayyaf mereka melakukannya karena bukan pada tempatnya untuk memakai kalung tersebut.

Penculikan para suster tersebut telah mengundang keberatan dan keprihatinan dari seluruh dunia.

Dalam pidatonya kepada khalayak umum pada 4 Desember lalu Paus Fransiskus menyerukan doa bagi para suster tersebut.

Patriark Antiokhia Gereja Melkit Yunani, Gregorios III, mengatakan bahwa pembebasan para suster itu merupakan “tanda harapan di masa krisis ini.”

Sekarang ini Yabrud merupakan fokus kampanye militer besar-besaran tentara Suriah dan para pejuang gerakan Islam Libanon, Hizbullah.

Uskup Gereja Ortodoks Yunani Louka al-Khoury mengatakan “apa yang dicapai tentara Suriah di Yabrud memfasilitasi proses (pembebasan para suster).”

Patriark Gregorios mengatakan bahwa Patriark Antiokhia Gereja Ortodoks Yunani John X turut campur tangan dalam menyukseskan pembebasan para suster. Ia menambahkan bahwa dinas rahasia Qatar dan Libanon turut membantu memediasi negosiasi.

BBC melaporkan bahwa para pejabat dari Qatar dan Libanon menegosiasikan kesepakatan tersebut, mengutip seorang jenderal Libanon, Abbas Ibrahim, yang terlibat dalam pembicaraan dengan pihak penculik. Laporan itu mengungkapkan bahwa pembebasan para suster adalah bagian dari kesepakatan dengan pemerintah Suriah, yang setuju untuk melepaskan sekitar 150 tahanan perempuan.

Kantor berita pemerintah Suriah, SANA, mengutip Menteri Informasi, Omron al-Zoubi, mengatakan bahwa hanya 25 tahanan yang dibebaskan dalam pertukaran untuk kebebasan para suster, dan bahwa Qatar tidak terlibat. SANA mengakui peran Libanon.

Para pejabat Suriah mengatakan para suster itu diculik untuk mengintimidasi orang-orang Kristen Suriah, sementara Front al-Nusra mengatakan mereka melindungi para suster dari serangan pemerintah.

Kelompok oposisi bersenjata pertama kali menguasai Ma’loula selama tiga hari pada bulan September. Dua belas orang tewas waktu itu, termasuk tiga pria yang menolak untuk menyangkal iman Kristen mereka.

Menurut SANA, patriark Antiokhia Gereja Orthodoks Suriah, mengatakan bahwa kembalinya para suster “adalah pesan ilahi bagi orang-orang Kristen untuk berpegang kokoh di tanah ini dalam persaudaraan dengan umat Islam.”

SANA menambahkan, “Patriarkat menyatakan dalam sebuah pernyataan harapan bahwa pembebasan para suster merupakan langkah maju di jalan menuju rekonsiliasi nasional yang sejati dan kembalinya semua orang yang diculik dan yang hilang ke rumah mereka, termasuk Uskup (Agung) Boulous Yazigi dan Uskup Yohanna Ibrahim.”

Uskup Agung Gereja Ortodoks Yunani di Aleppo Boulous Yaziji dan Uskup Gereja Ortodoks Suriah di Aleppo Yohanna Ibrahim diculik pada bulan April 2013. Nasib mereka belum diketahui, meskipun ada rumor bahwa hanya satu uskup yang masih hidup dan ditahan di Suriah atau Turki.

Mendekati tahun ketiga, konflik Suriah telah menewaskan antara 100.000-130.000 orang.

Konflik ini berawal pada 15 Maret 2011 ketika demonstrasi memprotes pemerintahan Presiden Bashar al-Assad dan Partai Ba’ath bermunculan. Pada bulan April tahun itu, tentara Suriah mulai dikerahkan untuk menyelesaikan situasi yang bergolak, menembaki para demonstran.

Perang saudara di Suriah dilakoni oleh pemerintahan Presiden al-Assad dengan sejumlah kelompok oposisi bersenjata yang secara terang-terangan mendapat dukungan Arab Saudi dan Amerika Serikat.

Sekitar 40 persen dari populasi Suriah telah meninggalkan rumah mereka karena perang saudara. Sekitar 2, 4 juta rakyat Suriah menjadi pengungsi di negara-negara terdekat, sebagian besar berada di Libanon, Yordania, dan Turki. Sejumlah 6, 5 juta rakyat Suriah diyakini telah terlantar akibat perang ini.

 

CNA | Y.

%d bloggers like this: