Organisasi kemanusiaan World Vision merevisi kebijakan: Kembali pada prinsip Alkitab

Organisasi kemanusiaan Kristen World Vision (WV) di Amerika Serikat menyatakan menyesal dengan keputusan kontroversialnya baru-baru ini, dan menyatakan kembali pada “pernyataan iman kami dan komitmen kami pada kesucian pernikahan.”

Presiden WV Amerika Serikat Richard Stearns Senin lalu mengungkapkan pada Christianity Today kebijakan baru organisasi yang akan mempekerjakan pelaku praktek hubungan sejenis yang “menikah.”

Menurut  Richard kebijakan ini tidak berarti mendukung “perkawinan sejenis,” menambahkan bahwa organisasi itu terus “menegaskan dan mendukung” pernikahan tradisional. Alasannya adalah untuk menciptakan “kesatuan” dengan tidak fokus pada isu-isu non-esensial.

Langkah WV itu mendapat kritik luas dan dinilai oleh sejumlah pemimpin Kristen sebagai hal yang mendukung perbuatan dosa.

World Vision [AS] menyatakan bahwa keputusan mereka didasarkan pada mempersatukan gereja – hal yang menurut saya membuat tersinggung – karena seolah-olah mendukung dosa dan perilaku dosa bisa menyatukan gereja,” ujar Franklin Graham, presiden Samaritan Purse dan pemimpin Organisasi Penginjilan Billy Graham.

“Teman saya, Bob Pierce, pendiri World Vision dan Samaritan Purse, akan hancur hatinya,” kata Franklin. “Dia adalah seorang penginjil yang percaya Firman Allah diinspirasikan.”

Tim Wildmon, ketua American Family Association, mengatakan, “World Vision telah mengabaikan peringatan [Rasul] Paulus dan membahayakan integritas sebuah pelayanan yang didukung secara finansial oleh orang-orang Kristen yang menganggap Alkitab sebagai otoritas final atas masalah ini.”

“Orang Kristen yang mendukung World Vision harus berhenti [mendukung], demikian juga seharusnya semua seniman dan penulis yang mengumpulkan dana untuk mereka,” tegasnya. “Ada banyak organisasi lain yang mensponsori anak-anak di seluruh dunia yang tetap setia pada Injil.”

“Bersedia mengakui pernikahan sesama jenis dan memvalidasi karyawan dengan ketertarikan sesama jenis yang secara terbuka mempraktekkan homoseksualitas mereka adalah tindakan serius dan tragis yang mendukung orang berdosa dalam dosa mereka” serta “akan menyesatkan dunia tentang realitas dosa dan kebutuhan mendesak akan keselamatan,” demikian kritik Albert Mohler, presiden Southern Baptist Theological Seminary.

Dua hari setelah pengumuman itu, pada Rabu, 26 Maret waktu setempat, WV mengirimkan sebuah surat kepada para pendukungnya menyampaikan permohonan maaf dan membatalkan kebijakan tersebut.

“Hari ini dewan direksi World Vision AS membatalkan keputusan baru-baru ini untuk mengubah kebijakan nasional bagi para karyawan,” demikian awal surat yang memuat nama Richard sebagai presiden dan Jim Beré, ketua dewan direksi.

“Dewan direksi mengakui mereka melakukan sebuah kesalahan dan memilih untuk kembali pada kebijakan yang telah lama ada yang mensyarakatkan pekerja lajang untuk tidak terlibat dalam hubungan seksual dan kesetiaan pada janji pernikahan menurut Alkitab antara seorang laki-laki dan seorang perempuan.”

Surat itu juga menyebutkan bahwa dengan berpegang teguh pada pandangan alkitabiah tentang pernikahan, WV menegaskan bahwa semua orang, “lepas dari orientasi seksual mereka” adalah ciptaan Allah sehingga perlu dikasihi dan diperlakukan dengan terhormat dan bermartabat.

Dalam mengakui kekeliruan yang telah terjadi, WV juga menegaskan komitmen mereka terhadap otoritas firman Allah, dan kembali konsisten dengan Pernyataan Iman serta komitmen mereka untuk kesucian pernikahan.

 

ChristianPost | Christianity Today | LifeSiteNews