Ketua KNPA: Meningkatnya kasus pelecehan terhadap anak-anak menunjukkan kegagalan dalam sistem hukum Indonesia

Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (KNPA) Arist Merdeka Sirait mengatakan telah terjadi peningkatan yang mengkhawatirkan jumlah kasus pelecehan seksual terhadap anak di Indonesia.

Pada tahun 2010, KNPA menerima 2.046 laporan kekerasan terhadap anak, dengan 42% merupakan kasus pelecehan seksual.
Pada tahun 2012, angka itu meningkat menjadi 2.637, dengan 62 persen di antaranya pelecehan seksual.

Meningkatnya kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak menunjukkan kegagalan dalam sistem hukum Indonesia, ungkap Ketua KNPA seperti dilansir Jakarta Globe (24/2).

Keprihatinan ini mengemuka di tengah marak pemberitaan kasus Deden Martakusumah, 28, yang menjalankan bisnis haram video cabul online, di dalamnya turut melibatkan anak-anak.

Deden diciduk pada Senin (24/2) pukul 03.00 WIB di Jalan Haji Akbar Nomor 46, Kelurahan pasir Kaliki, Kecamatan Cicendo, Bandung.

Menurut keterangan pihak berwenang sejak 2012 ia menjalankan beberapa situs yang memuat ribuan video cabul.

Ia menawarkan akses dengan permintaan uang antara Rp 30.000-800.000 rupiah. Kepolisian mengungkapkan sekitar 500 pelanggan sedang dalam tahap identifikasi.

Hukum Indonesia saat ini memungkinkan Deden menerima 12 tahun penjara, hukuman maksimal untuk produksi dan distribusi material cabul, kemungkinan ditambah karena ia juga melibatkan anak-anak.

Menurut Ketua KNPA meningkatnya penggunaan Internet dan media sosial di Indonesia telah memainkan peran dalam meningkatnya kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak.

Dalam Undang-Undang Perlindungan Anak Tahun 2002, siapapun yang melakukan pelecehan terhadap anak di bawah umur diancam dengan hukuman penjara maksimal 15 tahun dan denda maksimal Rp 60 juta.

Ketua KNPA menilai hukum tersebut harus segera direvisi.

Dia mengatakan hukuman minimum untuk kasus pelecehan anak harus minimal 15 tahun sedangkan sanksi maksimum harus hukuman seumur hidup dan harus ada hukuman tambahan jika pelaku merupakan orang yang dipercaya, seperti orangtua anak, guru, atau polisi.

 

Berita lainnya:

70.000 Pasukan Jarik Siap Hadapi Kejahatan Seksual Pada Anak, Bergelora.com (28 April 2014).