Gereja-gereja Ortodoks Timur bersiap untuk Konsili Ekumenis 2016 di Konstantinopel

Suasana pertemuan para pemimpin Gereja-gereja Ortodoks Timur di Istambul, Turki (Foto: Patriachate/N. Manginas).

Para pemimpin gereja-gereja Kristen Ortodoks Timur yang bertemu di Istambul, Turki (6-9 Maret 2014), sepakat untuk mengadakan konsili ekumenis para uskup pada tahun 2016 bertempat di Konstantinopel.

Sebuah pertemuan pra-Sinode direncanakan akan dilaksanakan sebelum pertengahan tahun 2015.

Gereja-gereja Ortodoks Timur merupakan denominasi Kristen terbesar kedua setelah Gereja Katolik dan diperkirakan memiliki sekitar 250-300 juta anggota di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Masing-masing gereja sekalipun berada dalam satu persekutuan tetap memiliki pemerintahan sendiri.

Dalam pertemuan itu para pemimpin Gereja-gereja Ortodoks mengeluarkan sebuah pesan yang mengingatkan peran serta dan tanggung jawab Gereja menyikapi perkembangan zaman saat ini.

Mereka menyerukan penyelesaian persoalan Ukraina dengan cara damai dan memberi dukungan terhadap umat Kristen yang sedang menghadapi penganiayaan.

“Kami mengingatkan dua hal dalam kemartiran mereka: dalam iman mereka dan dalam menjaga hubungan historis mereka dengan orang-orang dari keyakinan agama yang berbeda,” ungkap pesan itu menunjuk pada umat Kristen di Timur Tengah, Afrika, dan di bagian dunia lainnya.

Rasa simpati khusus disampaikan untuk orang-orang Kristen di Suriah, termasuk mengutuk segala bentuk terorisme dan penghinaan agama, dan seruan untuk membebaskan Metropolitan Boulos dan Yohanna serta semua imam, termasuk para biarawati dari biara Santa Tecla yang diculik. (Para biarawati ini telah dibebaskan 9 Maret lalu.)

Menyikapi masalah krisis ekonomi global, pesan itu menilai bahwa asal dari krisis ekonomi bukan hanya finansial, melainkan juga moral dan spritual, dan merupakan “[a]ncaman fundamental terhadap keadilan dan perdamaian.” Panggilan Gereja adalah mentransformasi dunia dengan mengaplikasikan prinsip keadilan, perdamaian, dan cintakasih; dan menolak ilah-ilah kekuasaan, keserakahan dan hedonisme.

Pementingan diri sendiri membuat orang tak lagi bisa melihat wajah Allah dalam diri mereka yang terkecil. “Banyak yang bersikap acuh-tak-acuh terhadap kemiskinan, penderitaan dan kekerasan yang mewabahi kemanusiaan.”

Situasi ini memanggil Gereja untuk berbicara dengan suara kenabian, mengungkapkan keprihatinan terhadap trend yang meremehkan dan mengikis prinsip-prinsip iman, martabat kemanusiaan, institusi pernikahan, dan karunia ciptaan.

Pesan itu menegaskan kembali kesucian hidup manusia dari awal sampai akhir, dan pernikahan sebagai persatuan antara seorang pria dan seorang wanita, sebagai ungkapan persatuan Kristus dengan Gereja-Nya.

Bagian akhir pesan itu menegaskan persatuan dan kerja sama antar Gereja, pentingnya dialog dalam menghadapi perbedaan-perbedaan, dan di atas semuanya untuk memproklamasikan kabar baik Allah.

Wakil dari Gereja Antiokia tidak menandatangani pesan ini karena pertemuan tidak membahas perselisihan antara Patriakat Antiokia dan Yerusalem menyangkut Gereja Ortodoks di Qatar. Yang bertanda adalah Bartholomew dari Konstantinopel, Theodoros dari Alexandria, Theophilos dari Yerusalem, Kirill dari Moskow, Irinej dari Serbia, Daniel dari Rumania, Neofite dari Bulgaria, Ilia dari Georgia, Chrysostomos dari Siprus, Ieronymos dari Athena, Sawa dari Warsawa, dan Anastasios dari Tirana.

Message of the Primates of the Orthodox Churches (Phanar, March 6-9, 2014).

Synaxis of the Primates of the Orthodox Churches

Berita terkait:

Eastern Orthodox churches to hold pan-Orthodox council in 2016 (CatholicCulture.org, 10 Maret 2014).

Pan-Orthodox Assembly issues final communiqué (AsiaNews.it, 10 Maret 2014).