Cintakasih Allah dan Penderitaan Manusia

e5170-berdoa_growinginhisglory“Saya menderita diabetes,” ungkap seorang pendeta yang datang belajar di sebuah sekolah teologi di Amerika Serikat.

“Saya berpuasa 40 hari mohon Tuhan menyembuhkan saya. Setelah puasa itu saya memeriksakan diri ke dokter. Penyakit itu masih ada di dalam tubuh saya,” ceritanya mengenang.

“Tapi Tuhan memberikan cara melihat yang baru pada saya. Penyakit ini tidak boleh mengontrol saya. Saya harus mengontrolnya.” Pemimpin jemaat sebuah gereja Protestan di Zambia ini secara teratur memakai obat pengontrol tingkat gula darah.

Seorang perempuan paroh baya sedang duduk menunggu bus di Richmond, California. Ia memperkenalkan namanya Coin. “Allah itu tidak ada,” ungkap Coin yang mengaku sebelumnya adalah seorang diaken. “Saya tidak henti-hentinya berdoa supaya suami saya tidak menceraikan saya, tapi apa yang terjadi?”

Dua cerita ini adalah gambaran tentang bagaimana manusia menyikapi penderitaan; hal-hal yang mendatangkan rasa sakit, sengsara dan air mata.

Seperti yang ditunjukkan Pdt. Tim Keller, pemimpin dan pendiri Redeemer Presbyterian Church di New York, penderitaan tak hanya bisa membawa orang semakin dekat pada Tuhan, tapi juga dapat membuat ia menjauh dari pada-Nya.

Dalam bukunya Walking with God through Pain and Suffering (berjalan bersama Allah melewati rasa sakit dan penderitaan, New York: Datton, 2013), Pdt. Keller memberikan pemikiran berharga tentang penderitaan, tapi terutama lagi tentang cinta kasih Allah kepada manusia, dari sudut pandang Alkitab.

Menurutnya penderitaan itu datang dalam situasi yang berbeda-beda, itu sebabnya kita perlu bertindak bijaksana dalam menghadapinya.

Penderitaan dapat merupakan akibat dari kesalahan sendiri, bisa diakibatkan oleh orang lain, ada pula yang secara misterius terjadi dalam hidup manusia. Satu hal yang dapat diketahui secara pasti adalah semua manusia harus menghadapi penderitaan, tapi Allah telah memberikan sebuah jawaban definitif terhadap penderitaan, yaitu Yesus Kristus.

Tiga kerangka acuan yang ditawarkan Pdt. Keller adalah dalam memahami penderitaan adalah 1) penciptaan dan kejatuhan manusia ke dalam dosa; 2) penghakiman dan dunia baru; 3) inkarnasi (Allah menjadi manusia) dan karya pernebusan dosa.

Pdt. Keller menentang pemahaman yang menurutnya muncul di dunia Barat pada dua abad terakhir ini, bahwa penderitaan merupakan tanda bahwa Allah tidak adil (atau bukan kasih) atau bahwa Ia tidak ada sama sekali. Pemikiran ini didasarkan pada asumsi bahwa jika Allah ada maka Ia ada untuk membuat manusia senang (mirip jin pada lampu ajaib).

Namun, penderitaan, jauh dari sebuah bukti akan ketidak-adilan Allah atau ketidak-adaan Allah, justru merupakan petunjuk bahwa Allah ada, dan Ia adalah kasih. Penderitaan menunjukkan objektivitas moral dan kejahatan.

Dosa adalah akar dari segala penderitaan yang harus dihadapi oleh manusia, dan jauh dari menelantarkan manusia, Allah telah berinisiatif untuk melakukan karya selamat lewat Yesus Kristus.

Allah bukan Ia yang memandang dari jendela surga kepada manusia yang menangis dalam penderitaan, melainkan Ia bersolidaritas datang dan menanggung penderitaan itu, sekalipun Ia bersih dari dosa.

Alkitab memberi ekspresi pada penderitaan manusia. Kitab Mazmur dan Kitab Ratapan banyak memuat rintihan jiwa manusia yang mengalami penderitaan. Kitab Ayub memberi perenungan tentang penderitaan dan kemahakuasaan Allah.

Tuhan Yesus mengutip Mazmur 22:1 “Allahku, Allahku, mengapa Kau tinggalkan aku?” sebagai ungkapan derita yang dipikul-Nya di atas kayu salib.

Penderitaan yang dialami-Nya memberi sebuah akhir pada penderitaan manusia. Pada waktu yang ditetapkan Allah, takkan ada lagi tangis dan airmata.

Mengetahui dan menyadari betapa besar kasih Allah bagi kita, kita memiliki jaminan bahwa sekalipun kita tak memahami berbagai hal yang harus kita lalui, satu hal yang pasti bahwa Allah ada bersama kita, Ia mengasihi kita, dan Ia yang menopang dan menguatkan kita dalam menjalani kehidupan di dunia ini.

Tungku perapian adalah kiasan yang ditawarkan Pdt. Keller tentang bagaimana kita melihat penderitaan itu. Penderitaan akan memurnikan umat percaya untuk menjadi sama seperti Tuhan Gereja. Ia adalah Victor and Victim (Pemenang dan Korban), Lord and Servant “Tuhan dan Hamba (yang menderita).”