Uskup Agung Bangui kuatirkan komunitas Muslim di Republik Afrika Tengah

Uskup Agung Dieudonne Nzapalainga bersama Imam Omour Kobine di Bangui berdoa bersama dalam sebuah tur untuk mendorong toleransi dan rekonsiliasi di Republik Afrika Tengah (Foto CRS/Sam Phelps).

REPUBLIK AFRIKA TENGAH (Yubelium) — Uskup Agung Dieudonne Nzapalainga C. S. Sp di Bangui, menguatirkan keberadaan komunitas Muslim menyusul maraknya sentimen anti-Muslim setelah mundurnya kekuatan kelompok Seleka dan munculnya kelompok militia Anti-Balaka.

“Jika tidak ada yang menahan gerakan iblis di sini, ia akan mencapai tujuannya. Banyak orang akan diburu dan dibunuh,” kata uskup Gereja Katolik ini kepada Aid to the Church in Need 12 Februari 2014.

Ia mengatakan ia telah mengunjungi Bodango, sebuah kota sekitar 125 kilometer dari ibukota Bangui, di mana semua umat Islam – yang sekarang menjadi target dalam konflik di RAT – telah menghilang. Anggota milisi Anti-Balaka mengatakan bahwa Muslim telah diusir, tapi Uskup Agung Nzapalainga meragukannya, takut bahwa sebaliknya mereka semua telah tewas.

“Adalah tidak mungkin lebih dari 200 Muslim, bersama dengan semua anak-anak mereka dan orang-orang tua bisa berjalan 125 mil [kira-kira 201 km],” kata uskup agung itu.

Kekacauan di RAT dimulai pada bulan Desember 2012 ketika Seleka, yang merupakan gabungan dari berbagai kelompok dan menarik banyak pejuang Muslim dari negara lain, menggulingkan presiden RAT, dan menggantikannnya dengan pemimpin mereka dalam kudeta Maret 2013.

Setelah tekanan internasional dan perlawanan dari kelompok militia Anti-Balaka, pemimpin Seleka mengundurkan diri dari kursi kepresidenan pada Januari 2014. Segera setelah itu, sebuah dewan nasional memilih sebagai presiden sementara Catherine Samba Panza, yang tidak memiliki hubungan dengan kedua kelompok.

Milisi Anti-Balaka sekarang mengaku akan membalas dendam atas kekejaman yang dilakukan kelompok Seleka tahun lalu, meskipun presiden sementara Samba Panza telah berjanji untuk menangkap mereka .

Amnesty International mengatakan serangan milisi ini telah menyebabkan umat Muslim dalam jumlah yang besar mengungsi. Puluhan ribu orang melarikan diri ke Kamerun dan Chad dan banyak lagi yang terlantar. Situasi ini berpotensi menambah krisis pangan, karena banyak toko-toko dan grosir dijalankan oleh umat Islam, BBC melaporkan.

Kelompok Seleka juga telah menyerang penduduk Kristen di kota kecil Bohong, sekitar 10 km dari kota barat Bouar.

“Ketika saya tiba di sana, bagian dari salah satu wilayah kota telah sepenuhnya terbakar. Saya juga melihat bahwa orang-orang telah dibakar hidup-hidup. Saya melihat tulang manusia dan kepala manusia,” kata Uskup Agung Nzapalainga. “Sebelumnya saya hanya pernah melihat hal semacam itu di film-film tentang Rwanda, tetapi tidak pernah di sini di tengah-tengah kami.

“Saya pikir bahwa kejahatan ada di sana. Sekarang si jahat telah menyentuh kami. Ia menunjukkan dirinya dalam keinginan untuk membunuh, menghancurkan. Ini adalah setan.”

Saat ini ada 1,25 juta orang yang membutuhkan bantuan pangan.

Sementar itu, Uskup Agung Nzapalainga menolak penggambaran media tentang pasukan Anti-Balaka sebagai “milisi Kristen.” Dia mengatakan bahwa milisi ini merupakan “gerakan pertahanan diri yang kini telah meninggalkan para politikus di belakang.”

Uskup-uskup lain telah menolak penggambaran bahwa kelompok-kelompok yang bertikai merupakan kelompok-kelompok agama, dengan menunjuk bahwa tidak semua pasukan Anti-Balaka beragama Kristen dan tidak semua orang Kristen adalah Anti-Balaka. Hal yang sama mereka katakan berlaku untuk pasukan Seleka dan Muslim.

Di tengah kekerasan yang sedang terjadi, di barat daya kota Boali, Pastor Xavier Fagba di Gereja Paroki Santo Petrus telah menampung sekitar 650 Muslim sejak pertengahan Januari.

“Sekarang adalah saatnya bagi mereka yang memiliki niat baik untuk berdiri dan membuktikan kekuatan dan kualitas iman mereka,” kata imam itu kepada BBC.

Dia mengatakan bahwa ketika ia menampung para pengungsi Muslim tak seorang pun di masyarakat memahaminya. “Mereka menyerang dan mengancam saya.”

Di dinding gereja terdapat lubang-lubang peluru dari mereka yang menentang kehadiran Muslim di gereja. Para pengungsi itu kuatir jika mereka meninggalkan gereja mereka akan dibunuh.

Serangan terhadap umat Muslim di Boali, termasuk dengan menggunakan parang, telah mengakibatkan sejumlah orang tewas, termasuk 22 anak-anak. Kelompok orang juga telah merobohkan dua masjid di kota itu.

Pastor Fagba mengatakan ia yakin bahwa beberapa pengungsi di gerejanya terlibat dalam serangan terhadap keluarga Kristen, meskipun ia tidak menyebutkan ini ketika ia berbicara kepada mereka .

“Ketika saya berbicara dengan mereka itu panggilan bagi mereka untuk mengubah hidup mereka dan perilaku mereka,” katanya, menambahkan bahwa umat Islam harus dianggap “sebagai saudara-saudara kita.”

Beberapa warga turut membantu para pengungsi, tapi mereka sendiri mendapat serangan dari pasukan Anti-Balaka.

Tentara dari Chad telah mengawal Muslim dari Boali ke negara mereka. Pasukan ini bersimpati dengan pasukan Seleka dan beberapa telah dilaporkan menembaki beberapa warga sipil Boali.

PBB telah menugaskan sekitar 7.000 tentara penjaga perdamaian ke negara itu. Namun, uskup itu mengatakan menciptakan perdamaian adalah “tidak mungkin” dengan kekuatan hanya beberapa ribu.

Menurut Uskup Agung Nzapalainga pemulihan keamanan adalah “prioritas dari prioritas lainnya.”

Ia mendesak Gereja untuk menjadi “jantung yang berdetak dalam irama cinta kasih, tanpa membedakan sebagai agama atau identitas etnis.”

CNA