Perang agama (baca: media), kemiskinan dan kejahatan kemanusiaan di Republik Afrika Tengah

Uskup Agung Dieudonne Nzapalainga bersama Imam Omour Kobine di Bangui berdoa bersama dalam sebuah tur untuk mendorong toleransi dan rekonsiliasi di Republik Afrika Tengah (Foto CRS/Sam Phelps).

Ini adalah cerita sedih di negeri yang dilanda kemiskinan.

Setelah tadinya “Muslim” merampoki dan membunuhi orang Kristen di Republik Afrika Tengah (RAT), sekarang giliran “orang Kristen” membunuhi dan mengusir umat Islam di negara yang pendapatan perkapitanya disebut salah satu yang paling rendah di dunia (USD 300 per tahun) ini.

Sebuah artikel di NewYorkDailyNews.com diberi judul berikut ini:

Muslims run for their lives in the Central African Republic; Christians lynch, dismember man

(Orang-orang Muslim melarikan diri untuk menyelamatkan nyawa di Republik Afrika Tengah; orang Kristen membunuhi dan memenggal-menggal seorang pria).

Jadi sekarang kedengarannya betul ada “perang agama” di RAT antara Islam dan Kristen, dengan masing-masing kelompok melakukan tindak kejahatan kemanusiaan, sebuah ‘bukti baru’ bahwa dunia memang sudah lebih baik tanpa agama.

Tapi mungkin apa yang sedang terjadi di RAT tidak sesederhana sebuah “perang agama.”

Sejak kelompok Seleka mengambil alih pemerintah RAT, media-media tertentu terus memberitakan berbagai kejahatan dan kekejaman yang dilakukan oleh pemberontak “Muslim” terhadap penduduk “Kristen.”

Memang kenyataannya anggota kelompok Seleka datang dari latar belakang Muslim. Itu sebabnya, kekeliruan yang entah sengaja atau tidak dibuat oleh media dengan generalisasi seperti yang nampak pada contoh artikel di atas menjadi tak kentara.

Saking tak kentara, orang-orang yang karena kemiskinan dan berbagai faktor lainnya tidak memiliki akses pada pendidikan yang mungkin dijual mahal, tenggelam dalam anggapan bahwa Muslim sedang merampok, memperkosa, dan membunuhi orang Kristen di RAT.

Anggapan itulah yang menyerap dalam pemikiran masyarakat terutama yang mengkategorikan diri sebagai Kristen untuk alasan tertentu.

Ketika situasi berubah, Michel Djotodia telah membubarkan Seleka yang membawanya pada kursi kepresidenan. 10 Januari lalu ia dikabarkan telah mengundurkan diri, dan Perancis, mantan pemerintah kolonial, secara tak terduga meningkatkan secara drastis pasukan kiriman dengan alasan kemanusiaan.

RAT belum akan aman, karena sekarang kelompok militia Kristen Anti-Baleka mungkin akan menghiasi media-media tertentu oleh karena tindakan barbarik mereka membunuhi “umat Islam.” Nantinya mungkin “Muslim” pun akan membalas dan membunuhi “orang Kristen.” Siapa saja yang masuk dalam dua kategori itu akan menjadi sasaran kebencian dan tindakan kekejaman.

Inilah cerita sedih di sebuah republik yang dilanda kemiskinan. Memang di mana tidak ada kesatuan dan toleransi beragama, di situ orang lain akan memerintah. Semoga Tuhan menghindarkan malapetaka lebih besar terjadi di antara rakyat Republik Afrika Tengah.