Olimpiade Musim Dingin di Sochi: Pertandingan ideologi

File:Парад спортсменов.jpeg

Suasana penutupan Olimpiade Musim Dingin ke-22 di Sochi, Rusia, 23 Februari 2014 (Foto: kremlin.ru.)

Dentuman dan warna-warni kembang api pada Minggu, 23 Februari 2014, menandai berakhirnya Olimpiade Musim Dingin ke-22 di Sochi, Rusia.

Kantor berita Associated Press (AP) menutup serangkaian pemberitaan negatif pelaksanaan Olimpiade itu dengan kata “Successful” (berhasil/sukses), meskipun tetap dengan nada kritik terhadap kebijakan perlindungan anak pemerintah Rusia yang ditulis “intoleran.”

Peraturan yang melarang penyebaran gaya hidup homoseks terhadap anak-anak termasuk pelecehan anak di Negeri Beruang membuat marah para pendukung homoseksualisme yang kemudian menyerukan boikot.

Namun keberhasilan iven olahraga empat-tahunan itu menunjukkan bahwa sikap sportif perlu juga dibawa dalam gelanggang politik ideologi.

“Kami memiliki tradisi dan budaya kami,” ungkap Presiden Rusia Vladimir Putin. “Kami memperlakukan semua rekan kami dengan hormat, tapi kami minta supaya tradisi dan budaya kami juga diperlakukan dengan hormat.”

Hal senada diungkapkan oleh salah seorang Olimpian tuan rumah, Yelena Isinbaeva, atlit lompat galah perempuan “terbesar sepanjang masa.”

“Kami memiliki peraturan kami yang harus dihormati semua orang. Ketika kami berkunjung ke negara lain, kami mengikuti peraturan mereka. Kami tidak mencoba memaksakan peraturan kami di sana. Kami mencoba untuk menghormati,” ungkap pemenang dua medali emas Olimpiade ini (2004 dan 2008) memberi dukungan pada peraturan yang ditetapkan di negaranya itu.

Human Right Watch, salah satu organisasi pendukung praktek homoseks, telah sebelumnya menyebut rancangan undang-undang dari peraturan tersebut sebagai “kemunduran dan diskriminatif” di samping sebagai “ancaman terhadap standar hak asasi manusia di Rusia dan secara internasional.”

Tanggapan di Barat sendiri menunjukkan bahwa pertandingan ideologi tak hanya terjadi di Sochi, musim dingin ini.

Di Amerika Serikat, LifeSiteNews.com melaporkan bahwa lebih dari 25 organisasi pro-keluarga domestik dan internasional mengumumkan peluncuran sebuah organisasi gabungan Coalition of Family Values (kualisi nilai-nilai keluarga).

Anggotanya kualisi ini didorong untuk “melobi pemerintah mereka supaya mencontoh Rusia” untuk mencegah “yang disebut elit kekuasaan Barat” dari “memaksakan moralitas terbalik mereka terhadap semua orang dengan cara memanipulasi hukum internasional.”

Tindakan Rusia telah menciptakan preseden internasional dalam menyikapi isu hubungan sejenis.

Namun Rusia bukan satu-satunya negara yang telah mengambil sikap resmi dalam masalah ini. Kelebihan Rusia adalah tidak ada yang bisa mengancam untuk mengurangi bantuan terhadap negara itu.