Mengacu pada keterangan tim ilmuwan Presiden Uganda akan menanda-tangani UU anti-praktek hubungan sejenis

HE Yoweri Kaguta Museveni

Presiden Uganda Yoweri Kaguta Museveni (Foto: gov.ug).

Presiden Uganda Yoweri Museveni mengungkapkan bahwa ia akan menanda tangani rancangan undang-undang (RUU) yang melarang praktek hubungan sejenis di negara itu, setelah menerima laporan dari tim ilmuwan dari Kementerian Kesehatan dan Makarere Univeristy.

Keterangan pers tim ilmuwan yang mempelajari homoseksualitas dan genetika itu menyebut antara lain bahwa tidak ada gen yang secara definitif menyebabkan ketertarikan sesama jenis.

Homoseksualitas dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan, antara lain budaya, agama, dan tekanan kelompok sebaya.

Praktek hubungan sejenis perlu diregulasi sama seperti tingkah laku manusia lainnya untuk melindungi mereka yang riskan (vulnerable).

Keputusan tersebut disambut oleh anggota dewan partai pemimpin NRM sebagai “upaya untuk melindungi masyarakat Uganda dari penyimpangan sosial,” demikian diungkapkan jurubicara pemerintah Uganda, Ofwono Opondo, dalam pesan Twitternya, seperti dilaporkan media lokal NewVision.co.ug.

REAKSI PRESIDEN OBAMA

Keputusan Presiden Uganda tersebut mendapat reaksi dari Presiden Amerika Serikat (AS), Barack Obama, yang mengatakan bahwa menanda-tangani RUU itu “akan membuat hubungan berharga kita [Uganda dan AS] rumit” (complicate our valued relationship).

“Kami tidak bisa diintimidasi,” ungkap Justine Lumumba, kepala Kaukus Parlementari NRM, menanggapi peringatan Presiden Obama. “Kami memiliki pandangan ilmuwan dalam isu ini, dan jika bantuan dari AS disertai dengan homoseksualitas, kami tidak menginginkannya.”

Lumumba mengecam “mental pemalak” (bullying mentality) Presiden Obama yang mengancam akan memotong bantuan AS kepada Uganda sekiranya RUU itu ditanda tangani.

File:Coat of arms of the Republic of Uganda.svg

Lambang negara Uganda (Sodacan/CC)

TANGGAPAN PRESIDEN MUSEVENI

Dalam sebuah pernyataan sebagai tanggapan terhadap keberatan Presiden AS itu, Presiden Uganda menjelaskan latar belakang pengambilan keputusan, serta memberikan sudut pandang bahwa hal tersebut tak harus membuat hubungan Uganda dan AS rumit.

“Negara-negara dan masyarakat semestinya berhubungan satu dengan yang lain atas dasar saling menghormati dan kemerdekaan dalam pengambilan keputusan,” tulis Presiden Museveni pada 18 Februari.

“’Hubungan berharga’ tidak dapat dipertahankan secara berkelanjutan oleh satu masyarakat yang tunduk kepada masyarakat lain. Ada segudang tindakan yang dilakukan masyarakat di Barat yang membuat kening kami mengerut atau bahkan jijik. Namun demikian, kami tidak pernah mengomentari tindakan-tindakan itu atau membuatnya menjadi prasyarat untuk bekerja sama dengan Barat.

Masyarakat Afrika tidak berusaha untuk memaksakan pandangan mereka pada siapa pun. Kami tidak ingin ada yang memaksakan pandangan mereka pada kami. Perdebatan ini diprovokasi oleh kelompok-kelompok Barat yang datang ke sekolah-sekolah kami dan mencoba untuk merekrut anak-anak ke dalam homoseksualitas. Lebih baik untuk membatasi kerusakan ini daripada memperburuknya,” demikian pernyataan itu sebelum ditutup dengan ucapan terima kasih.

Laporan Associated Press menyebut bahwa aktivis praktek hubungan sejenis di Uganda menuduh beberapa pemimpin politik dan agama di negara itu telah dipengaruhi oleh “American Evangelicals” (orang Kristen Injili dari Amerika) yang ingin menyebarkan kampanye “anti-gay” di Afrika.

UNDANGAN KERJA SAMA PENELITIAN

RUU yang akan ditanda tangani Presiden Uganda memungkinkan hukuman penjara seumur hidup untuk tindakan “homoseksualitas parah,” yang didefinisikan sebagai tindakan seks dimana salah seorang telah terinfeksi HIV, seks dengan anak di bawah umur atau penyandang disabilitas, dan kejahatan seksual berulang. Melakukan upacara ‘pernikahan’ sesama jenis diancam hukuman tujuh tahun penjara.

Dalam pernyataannya Presiden Uganda juga menyebut bahwa mereka yang menjadi pelaku hubungan sejenis untuk alasan prostitusi dan yang membayar mereka untuk menjadi PSK harus dihukum berat.

Ia mengajak pemerintah AS untuk bekerja sama dengan para ilmuwan Uganda untuk mempelajari apakah betul-betul ada orang yang dilahirkan sebagai homoseks, dan mengungkapkan keterbukaannya untuk meninjau peraturan itu sekiranya terbukti.

Penelitian yang dilakukan ilmuwan Amerika Serikat menunjukkan bahwa faktor genetik bukan definitif terhadap perilaku homoseksual, melainkan lebih pada faktor lingkungan.