Gereja Ortodoks Ukraina serukan penghentian pertumpahan darah: “Ini bukan waktu untuk sebuah ambisi politik”

Metropolitan Borispol dan Brovar Anthony dari Gereja Kristen Ortodoks Ukraina (Foto: Pravoslavie).

Pimpinan Gereja Ortodoks Ukraina, Metropolitan Borispol dan Brovar Anthony, menyerukan penghentian kekerasan antara pihak keamanan dan para pengunjuk rasa, menyusul tragedi berdarah di Kiev, ibukota Ukraina, 18-19 Februari 2014, yang telah menggiring Ukraina dekat pada perang sipil.

“Segera hentikan kekerasan dan lanjutkan dialog! Negara kita telah di ambang bencana nasional selama tiga bulan sekarang. Setiap orang, pemerintah, oposisi, dan masing-masing dari kita harus menyadari tanggung jawab kita kepada Tuhan atas tindakan kita. Adalah hal yang disayangnya, ancaman perang sipil dan keruntuhan ekonomi menjadi semakin nyata di Ukraina,” tulis Metropolitan Anthony dalam sebuah pernyataan yang dikutip Interfax-religion.com.

Surat kabar lokal KyivPost.com melaporkan 25 orang (laporan terbaru menyebut 26) tewas dalam bentrokan antara polisi dan pengunjuk rasa pada tanggal 18. Sembilan di antara para korban adalah polisi, sementara korban yang dirumah-sakitkan adalah 144 menurut keterangan dari Kementerian Dalam Negeri. Interfax turut menyebut yang menderita luka-luka diperkirakan antara ratusan sampai seribu orang.

“Sejak awal krisis politik ini dan dalam perjalanannya, Gereja Ortodoks Ukraina telah lebih dari sekali menyerukan penghentian kekerasan dan solusi damai atas konflik tersebut. Sangat disesali, suara Gereja belum mendengar,” tulis Metropolitan Anthony dalam pernyataannya.

Pada tanggal 19 Kepala Dinas Keamanan Ukraina Oleksandr Yakymenko mengumumkan operasi anti-teroris, mengutip di antaranya serangan terhadap gedung-gedung milik pemerintah, penyimpanan amunisi dan warga sipil.

“1500 senjata api dan 100.000 butir amunisi berada di tangan penjahat,” demikian pengumuman itu.

Operasi ini kemungkinan tertahan menyusul kabar terbaru bahwa Presiden Viktor Yanukovich telah mencapai kata sepakat dengan pimpinan pendukung aspirasi integrasi dengan Uni-Eropa untuk sebuah masa tenang.

Dalam pernyataan yang dikutip EuroNews.com, Presiden Ukraina telah setuju untuk “memulai negosiasi demi mengakhiri pertumpahan darah, dan menstabilisasi situasi dalam negeri untuk maksud kedamaian sosial.”

Kericuhan di Ukraina dipicu oleh keputusan Presiden Yanukovich yang memilih bailout dan insentif ekonomi dari Rusia ketimbang masuk Uni-Eropa yang cenderung semakin sekular.

Para pendukung integrasi dengan UE mengkritik keputusan itu sebagai upaya Rusia untuk kembali menguasai Ukraina yang merdeka setelah keruntuhan Uni Soviet pada 1991.

Para imam Gereja Ortodoks Ukraina berdiri antara pengunjuk rasa dan pihak penjaga keamanan (Foto: Provoslavie).

Mayoritas masyarakat beragama di Ukraina berafiliasi dengan Gereja Kristen Ortodoks. Para imam Gereja Ortodoks telah beberapa kali meredam ketegangan antara pihak penjaga keamanan dan para pengunjuk rasa dengan berdiri di antara kedua pihak memegang salib.

Pernyataan Metropolitan Anthony di atas kembali menegaskan posisi Gereja Ortodoks Ukraina yang disampaikannya pada 22 Januari lalu:

“Gereja Ortodoks Ukraina terus-menerus menyerukan kepada semua pihak untuk menghentikan kekerasan dan untuk duduk bersama di meja perundingan. Ini bukan waktu untuk sebuah ambisi politik. Kita harus berusaha sekuat tenaga untuk menjaga perdamaian di negeri ini, untuk pelestarian tanah kelahiran kita Ukraina. Kami memanjatkan doa untuk Ukraina dan bagi rakyatnya. Semoga Tuhan membantu kita menemukan jalan keluar dari situasi yang sulit ini.”