Gereja Anglikan memanas: Tanggapan dua Uskup Agung Afrika terhadap surat edaran Uskup Agung Canterbury dan York

Archbishop Eliud Wabukala

Uskup Agung Kenya Eliud Wabukala, ketua GAFCON dan National Anti-Corruption Campaign Steering Committee Republik Kenya.

Dua Uskup Agung Gereja Anglikan di Afrika menanggapi surat edaran 29 Januari 2014 dari Uskup Agung Canterbury Justin Welby, dan Uskup Agung York John Sentamu, yang mengingatkan para pemimpin Gereja Anglikan mengenai “komitmen untuk [menyediakan] pelayanan pastoral dan persahabatan bagi semua, tanpa melihat orientasi seksual.”

“Orang Kristen harus selalu menunjukkan kepedulian yang khusus terhadap mereka yang vulnerabel, akan tetapi hal ini tidak dapat dipisahkan dari seluruh tatanan ajaran moral alkitabiah di mana hakikat perkawinan dan keluarga menempati tempat yang sentral,” tulis Uskup Agung Kenya Eliud Wabakula dalam pernyataannya 31 Januari lalu.

Ia mengingatkan bahwa keputusan resmi di Dromantine yang dikutip dalam edaran tersebut, turut memuat (Pasal 17) Konferensi Lambeth 1998 Resolusi 1.10 yang mengatakan bahwa “praktek homoseksual tidak sesuai dengan Kitab Suci” dan bahwa konferensi tidak bisa memrekomendasi pelegitimasian atau pemberkatan hubungan sesama jenis atau menahbiskan jabatan gerejawi bagi mereka yang terlibat dalam hubungan sesama jenis.

Menurut ketua Global Anglican Future Conference (GAFCON) ini, surat edaran yang turut dialamatkan kepada Presiden Nigeria dan Uganda tersebut “telah berfungsi untuk mendorong mereka yang ingin melegalisasi gaya hidup homoseksual di Afrika dan telah mendorong prasangka buruk terhadap [Gereja] Anglikan Afrika.”

Surat edaran Uskup Agung Canterbury dan York muncul sebagai sikap terhadap legislasi di Nigeria dan Uganda baru-baru ini yang dinilai “menghukum orang dengan ketertarikan sesama jenis.” Sedang komuni Gereja Anglikan di Afrika terus menekankan penolakan terhadap praktek atau gaya hidup.

“Kami berkomitmen terhadap moralitas seksual yang alkitabiah dan pelayanan pastoral yang alkitabiah, karena itu kami dengan segenap hati mengikuti jaminan yang diberikan dalam Konferensi Lambeth 1998 bahwa mereka yang mengalami ketertarikan sesama jenis ‘dikasihi Allah dan bahwa semua yang dibaptis, yang percaya dan yang setia, tanpa melihat orientasi seksualnya, adalah anggota penuh Tubuh Kristus’.”

Uskup Agung Uganda Stanley Ntagali dalam pernyataannya pada 30 Januari 2014 memuji Parlemen Uganda yang merevisi, antara lain, mengenai aturan melaporkan perilaku homoseksual, yang memberi kebebasan pada para pelayan dan pimpinan gereja “untuk memberikan konseling, penyembuhan, dan doa bagi orang-orang dengan disorientasi homoseksual, lebih khusus di sekolah-sekolah kami dan institusi pendidikan lainnya.”

Dalam pernyataan yang kembali mengingatkan keputusan Konferensi Lambeth 1998 itu, Uskup Agung Ntagali menyebut bahwa gereja adalah tempat yang aman bagi pribadi-pribadi yang bergumul dengan keadaan seksualitas mereka untuk mencari pertolongan dan kesembuhan.

Ketegangan kembali meningkat di komuni Gereja Anglikan setelah Badan Keuskupan (College of Bishops) Gereja Inggris di London pada minggu lalu menyetujui dua tahun dialog dalam lingkungan gereja itu mengenai Alkitab dan orang dengan praktek/gaya hidup homoseksual.

Manurut Uskup Agung Wabakula, hal itu terjadi karena “ada uskup-uskup yang tidak bisa menerima ajaran historis Gereja [tentang seksualitas] seperti yang kembali ditegaskan pada Resolusi Lambeth.”