Dewan Gereja-Gereja Sedunia kutuk penggunaan drone; tuntut keadilan bagi para korban

https://i2.wp.com/upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/b/b0/MQ-9_Reaper_in_flight_%282007%29.jpg/320px-MQ-9_Reaper_in_flight_%282007%29.jpg?resize=320%2C229

U.S. Air Force photo/Staff Sgt. Brian Ferguson

Dewan Gereja-gereja Sedunia mengutuk penggunaan drone atau pesawat tanpa awak (unmanned aerial vehicles) sebagai “ancaman serius bagi kemanusiaan” dan “hak hidup.”

Pernyataan yang dikeluarkan oleh Komite Eksekutif DGD pada 12 Februari di Bossey, Swiss, memperingatkan arah perkembangan teknologi drone di sejumlah negara, seperti Amerika Serikat, Israel, Rusia dan Inggris, “yang akan memberikan otonomi tempur penuh pada mesin.”

Drone “dapat membunuh orang-orang yang tidak bersalah,” demikian ditulis dalam pernyataan yang menekankan bahwa setiap orang diciptakan menurut gambar Allah, dan karena itu setiap hidup manusia adalah sakral dan bermartabat.

Pernyataan itu menyerukan masyarakat internasional untuk “menentang kebijakan dan praktek yang melanggar hukum, terutama serangan pesawat tak berawak AS di Pakistan.”

Setiap negara wajib “menghormati dan mengakui kewajiban untuk melindungi hak hidup rakyatnya dan menentang pelanggaran hak asasi manusia.”

Pernyataan itu juga mendesak “pemerintah AS untuk menjamin keadilan bagi korban serangan pesawat tak berawak yang melanggar hukum, termasuk anggota keluarga korban pembunuhan di luar hukum” dan untuk menyediakan akses yang efektif untuk pengobatan, terutama ganti rugi, kompensasi kepada keluarga korban yang tewas atau terluka dan perlindungan yang memadai bagi pemulihan mereka.

 

Oikoumene | Pernyataan DGD