Bangkit bersama di tengah bencana: Belajar dari masyarakat Karo

Seorang ibu warga masyarakat Karo sedang membuat sumpit, keranjang tradisional (Foto: Deva Alvina)

Indonesia yang terletak di Pacific Ring of Fire (lingkaran api di Pasifik) terdapat hampir 130 gunung berapi. Merapi, Kelud, Krakatau, Lokon, Rokatenda, dan sederet nama gunung lainnya telah dekat di telinga kita, termasuk Sinabung yang terletak di Kabupaten Karo, Sumatera Utara.

Tak hanya menyemburkan partikel debu yang tak terhitung, Gunung Sinabung juga menghadirkan pelajaran yang tak ternilai.

Bulan September 2013 Gunung Sinabung kembali beraktivitas, mengirim ribuan masyarakat Karo ke tempat pengungsian. Sampai Februari tahun ini mereka dipaksa menunggu karena Sinabung masih belum reda amarahnya.

Masyarakat Karo bersabar, tapi mereka tak tinggal diam. Di tempat pengungsian mereka menunjukkan bahwa semangat mereka tak kalah hangat awan panas Gunung Sinabung.

Deva Alvina Br Sebayan mengerti benar kebiasaan masyarakatnya. Mengutip seorang dosen yang pernah datang berkunjung ke Tanah Karo ia menulis, “…Orang Karo meski rumah gubug tapi anaknya sarjana.”

Masyarakat Karo bekerja keras mengolah tanah untuk menyekolahkan anak-anak mereka. Sekarang abu vulkanik sedang memupuki ladang-ladang entah untuk berapa lama. Namun semangat dan cita-cita Orang Karo memang lebih tinggi dari Gunung Sinabung.

Bencana Sinabung memang memaksa warga Tanah Karo mengistirahatkan tanah, tapi seperti yang diungkapkan Deva, itu “mulai membangkitkan kesadaran pentingnya mengerjakan pekerjaan di luar bidang pertanian.”

Masyarakat Karo tak tinggal diam menanti bantuan yang memang sangat diperlukan. Di tempat pengungsian mereka berkreasi dengan membuat kerajinan tangan. Kerajinan tradisional serta pernak-pernik kristiani yang menunjukkan kesaksian iman yang ditanam ketika Sinabung masih lelap tertidur.

Tapi upaya mereka perlu tenaga seperti yang mendorong lava, debu dan batu ke angkasa. Inilah yang dilakukan Deva, yang bekerja sebagai seorang pegawai kementerian agama.

Bermula dari sebuah foto yang menggambarkan suasana pengungsian; sebuah gedung Gereja Kristen Batak Protestan dipadati oleh para pengungsi yang mungkin sedang mengkhayalkan kehangatan dan keakraban sebuah rumah.

Deva pun mengusik ketidak-tahuan banyak orang tentang saudara-saudari mereka yang beradu hangat semangat dengan sebuah gunung vulkanik aktif.

Upayanya tak sia-sia. Berbagai pertanyaan dan tanggapan berdatangan dari berbagai tempat yang terkoneksi dengan jaringan internet.

“Teman teman yang akan mengadakan perayaan Paskah, bisa menolong dengan mengorder hasil kerajinan ini sebagai merchandise Paskah atau sebagai merchandise pencarian dana,” demikian salah satu ide yang ditetasnya untuk membantu masyarakat Karo.

Dalam hitungan hari ia menjawab lewat akun Facebooknya, “pesanan sudah banyak.”

Tak berhenti di situ, bersama rekan berkepedulian lainnya ia turut mempromosikan lelang foto untuk korban bencana Sinabung. Hasilnya adalah bakti sosial yang disertai dana yang terkumpul lebih dari Rp 17.000.000.

Di awal tahun 2014 Indonesia diuji dengan berbagai bencana yang tak hanya menelan harta, tapi juga korban jiwa.

M. Busyroh Muqqodas, wakil ketua KPK, sampai berfleksi, “Jika habis musibah ini masih terus maling, menipu rakyat dan mendustai agama, memang pejabat bebal dan tuna moral.”

Tentu kita berharap supaya umat beragama diberi kekuatan dan ketabahan, sekaligus hati nurani supaya tindak korupsi yang mengorbankan rakyat itu benar-benar dihapuskan dari bumi Indonesia.

Sementara itu, kita butuh semangat masyarakat Karo dalam menghadapi musibah, yang tidak menyerah pada alam, dan yang mau mengusik ketidak-tahuan banyak orang tentang seperti apa gambar sebuah gereja Kristus di tengah dunia ini.