Sepak bola dan Marxisme

Paus Fransiskus di tengah kerumunan orang di alun-alun St. Petrus, Vatikan (Foto: Edgar Jiménez).

Paus Fransiskus di tengah kerumunan orang di alun-alun St. Petrus, Vatikan (Foto: Edgar Jiménez).

Karl Marx adalah seorang yang mempunyai pengaruh besar dalam sejarah. Pemikirannya menginspirasi munculnya sejumlah rezim komunis di abad ke-20. Tapi apa hubungannya dengan sepak bola?

Jawaban di sini adalah Paus Fransiskus, sekalipun kaitannya tentu secara tidak langsung.

AGAMA BUKAN LAWAN KEMANUSIAAN

Lahir di Trier 1818, tak banyak yang tahu bahwa Karl Marx datang dari sebuah keluarga Yahudi yang kemudian masuk Kristen; ada yang bilang supaya sang ayah dapat berpraktek sebagai pengacara di negeri yang sedang dilanda sentimen anti-Yahudi.

Pengenalan populer tentang pemikiran Marx cenderung dipahami sebagai anti-agama. “Agama…adalah candu masyarakat,” tulisnya.

Bagi Karl Marx, agama adalah penyebab penderitaan, dimanipulasi dan digunakan oleh kaum borjuis untuk mengeksploitasi rakyat miskin.

Tapi apakah Karl Marx ingin mengangkat kehidupan masyarakat kecil yang dari sudutpandangnya dieksploitasi? Ataukah ia ingin menganihilisasi (menghapus) agama?

Apapun yang ia bayangkan, menempatkan agama sebagai lawan dari pencapaian kemanusiaan adalah sebuah pemikiran yang keliru.

Ada begitu banyak prestasi kemanusiaan yang telah lahir dari semangat keagamaan (ada juga di luar itu). Dan dalam prakteknya kebengisan telah dilakukan orang, baik atas nama agama maupun untuk menghapus agama.

Tapi pada akhirnya, seperti ungkapan para filsuf, kebenaran sebuah worldview (pandangan dunia) yang mempengaruhi seantero praktek hidup sehari-hari “harus diukur dari argumen pro dan kontra terhadap worldview itu sendiri, lepas dari dampak sosialnya, apakah baik atau buruk.” (Lihat tautan video di bawah.)

Pages: 1 2 3 4