Manado berduka: Banjir bandang dan tanah longsor menelan korban jiwa

 

2hari sesudah banjir bandang masyarakat harus menghadapi lumpur yang memenuhi rumah dan halaman (foto: Ostry)

Dua hari sesudah banjir bandang masyarakat harus menghadapi lumpur yang memenuhi rumah dan halaman (foto: Ostry)

Up-date 18 Januari 2014.

Jumlah korban jiwa akibat banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi di wilayah Manado, Sulawesi Utara, menjadi 18 orang.

“Hingga saat ini data sementara terdapat 18 orang tewas, 2 orang hilang, 101 rumah hanyut, dan ribuan warga mengungsi,” demikian keterangan dari Kepala Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo pada Jumat 17/1  seperti dilansir Detiknews.com.

Keterangan ini meralat pemberitaan Yubelium sebelumnya yang mengutip informasi yang beredar di Facebook bahwa terdapat puluhan orang yang hilang.

Perincian wilayah korban menurut Humas BNPB adalah Kota Manado (6 tewas, 1 hilang), Kabupaten Minahasa (6 tewas), Kota Tomohon (5 tewas, 1 hilang), dan Kab. Minahasa Utara (1 tewas).

Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono turut memantau perkembangan wilayah yang terkena bencana alam termasuk DKI Jakarta dan Sumatera Utara lewat para Gubernur. Dalam pesan Facebook Presiden, Wakil Presiden akan meninjau Manado.

Sementara itu, Koordinator Tim Penanggulangan Bencana Sinode GMIM, Pdt. Renata Ticonuwu dalam pesan Facebook mengatakan bahwa bantuan tenaga saat ini masih sangat diperlukan. Ia mengapresiasi Tim Gereja Kristen Indonesia (GKI) yang turun ke lapangan membawa sumbangan dan terlibat langsung dengan tim penanggulangan bencana dari GMIM, yang posko induknya berada di Jemaat Imanuel Wanea, Manado. 

 

 

17 Januari 2014

INDONESIA, Sulawesi Utara (Yubelium) — Curah hujan tinggi di provinsi Sulawesi Utara, terlebih khusus di wilayah Manado-Minahasa membawa bencana bagi masyarakat.

Sekurangnya 16 orang dilaporkan meninggal dunia akibat banjir bandang dan tanah longsor, sementara puluhan lainnya dinyatakan hilang pada Rabu 15 Januari. (up-date: informasi resmi dari BNPB menyatakan dua orang yang hilang, sementara korban jiwa menjadi 18 orang).

Instansi pemerintah daerah, gereja-gereja dan masyarakat terus memantau dan mengupayakan bantuan bagi mereka yang terkena musibah ini lewat posko inisiatif.

Menurut informasi yang beredar di Facebook, kebutuhan mendesak warga masyarakat korban bencana adalah bahan makanan, obat-obatan, selimut, tikar, air bersih, popok, makanan bayi, termasuk masker.

Antara lain Kerukunan Keluarga Kawanua (KKK), Brigade Manguni (BM), dan Kawanua Se-Dunia (KSD) telah merespon upaya penyaluran bantuan.

Dinas Kesehatan Provinsi Sulut juga telah mendirikan sejumlah posko-posko bantuan. Dari gereja-gereja di antaranya Tim Layanan Bencana Keuskupan Manado, yang diketuai Pst. Joy Clemens Derry pr (nomor kontak 081245108988) dan Tim Penanggulangan Bencana Sinode GMIM yang diketuai Pdt. Renata Ticonuwu (nomor kontak 08124408625).

Wilayah yang terkena dampak paling parah adalah yang terletak di sekitar bentaran sungai Danau Tondano bagian hilir, termasuk rumah-rumah yang terletak di perbukitan.

Dalam dialog dengan anggota masyarakat ketika mengunjungi lokasi bencana, Gubernur Sulut Dr. Sinyo H. Sarundajang meminta masyarakat tetap tenang dan bersabar serta mendorong warga supaya tidak lupa berdoa meminta kekuatan dan kesehatan dalam menghadapi pergumulan yang disebabkan bencana alam ini.

Penanganan Pemprov terhadap bencana ini dilakukan langsung oleh Gubernur yang menilai bencana awal tahun ini lebih besar dibanding yang sebelumnya.

Banjir sudah merupakan masalah klasik di wilayah Manado-Minahasa. Namun berbeda dari bahaya banjir menahun di seputar wilayah Danau Tondano, limpahan banjir kiriman ke wilayah Manado selalu merupakan ancaman yang membayangi kota yang sarat dengan gedung gereja ini. [+]