Hati-hati berita hoax tentang Paus

hoaxKata benda “hoax” tidak hanya sekedar berarti “lelucon” atau “tipuan.” Kata ini juga mengandung makna “penyesatan yang berbahaya” (malicious deception). Itu sebabnya, setiap orang perlu berhati-hati ketika menghadapi informasi hoax, atau yang dikatakan hoax tapi sebenarnya betul.

Korban berita hoax bisa siapa saja. Tak terkecuali tokoh seperti Paus Fransiskus.

Yang harus menjadi keprihatinan setiap orang bukanlah Paus Fransiskus atau Gereja Roma Katolik, melainkan penggunaan cara-cara yang tidak jujur, yang menipu, dan yang menyesatkan publik.

MENYESATKAN ADA KONSEKUENSINYA

Sejumlah website, seperti entertainment.vacancynigerians menyebar cerita satir tentang Paus seolah-olah merupakan berita faktual. Mereka yang terlibat di belakang praktek ini mungkin senang situsnya mendapat hits yang banyak, namun perlu diingat bahwa tindakan menyesatkan ada konsekuensinya.

Isu penyesatan disikapi dengan sangat serius dalam Alkitab. Kepada murid-murid-Nya Yesus mengatakan, “Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut” (Mat. 18:6).

St. Agustinus, salah seorang Bapa Gereja, melihat kaitan antara dusta, penyesatan, dan ketidak-adilan.

Memahami bahwa pemahaman Alkitab hanya bisa benar bila membangun kasih dua arah, yaitu kasih kepada sesama dan kasih kepada Allah, ia menulis:

Dalam diri seorang pendusta terdapat keinginan untuk mengatakan apa yang salah, dan kerena itu kita mendapati banyak orang yang berdusta, tapi tidak seorang pun yang ingin disesatkan.

Oleh karena seseorang sadar ketika berdusta tetapi tidak demikian ketika disesatkan, maka cukup jelaslah bahwa dalam hal ini orang yang disesatkan masih lebih baik daripada orang yang berdusta, karena lebih baik menderita ketidak-adilan daripada melakukannya.

Setiap orang yang berdusta, melakukan ketidak-adilan; itu sebabnya ia yang percaya bahwa sebuah dusta kadang-kala berguna, demikianlah juga ia percaya dengan ketidak-adilan.

Tidak seorang pun yang berdusta menjaga iman ketika berdusta – ia tentu saja berharap agar orang yang ia dustai menaruh percaya padanya, tapi ketika ia berdusta ia tidak menjaga iman – dan setiap orang yang merusak iman adalah orang yang tidak benar.

Seorang yang secara sadar menyebarkan informasi hoax dengan sendirinya menjadi pendusta, penyesat, dan pelaku ketidak adilan.

Pages: 1 2 3