Child Theology: Dasar Partisipasi Gereja Bagi Pembelaan Hak-Hak Anak

Tulisan ini merupakan ekstrak dari “Kabar Baik Untuk Anak-Anak Menurut Injil Matius” (Skripsi, Fakultas Teologi UKIT, 2004) dan pertamakali dipublikasikan di harian Manado Post 2007; sejumlah penulisan kata telah mengalami penyesuaian.

Banyaknya gerakan kepedulian yang memperjuangkan hak-hak anak saat ini tidak hanya mengindikasikan bahwa perhatian terhadap anak-anak telah semakin meningkat, namun juga menunjukkan bahwa anak-anak masih sedang menghadapi tantangan yang sulit dan mereka perlu dibela.

Dari tahun ke tahun, fakta-fakta tragis yang memiriskan hati mengenai tindakan-tindakan tidak manusiawi terhadap anak-anak terus bertambah. Komisi Nasional Perlindungan Anak (KNPA) mencatat 441 kasus kekerasan terhadap anak terjadi di tahun 2004, di tahun 2005 angka itu meningkat drastis menjadi 736 kasus, dan di tahun 2006 angka itu menjadi 871 kasus yang meliputi kekerasan fisik, psikis, dan seksual.

Contoh kasus adalah Ismi, anak perempuan berusia 10 tahun, tidak hanya wajah dan sekujur tubuhnya yang penuh lebam dan luka akibat sundutan rokok oleh ibu asuhnya, kedua matanya juga nyaris buta akibat banyak dijejali bahan-bahan kimia berbahaya dari deterjen, sabun dan sebagainya. Ceritanya, semua ini dilakukan oleh Ibu Suri, yang merawatnya sejak bayi, sebagai hukuman karena Ismi nakal dan terlalu aktif.

Lebih menggenaskan, nasib Eka Suryana, gadis kecil yang tewas akibat dicekik ibu tirinya. Alasannya, Eka tidak mau tidur dan terus menangis. Tragisnya, menurut visum dokter, Eka telah beberapa kali diperkosa oleh adik dari ibu tirinya atau pamannya sendiri (Children Indonesia). Belum lagi kasus-kasus gizi buruk, buruh anak, aborsi, tindak kekerasan aparat keamanan, pekerja seks anak, pendidikan anak dan sederet masalah anak lainnya yang kebanyakan mengendap dalam keluarga dan masyarakat (hidden case). Entah berapa digit angka yang akan mewakilinya di kertas data kuantitatif.

Indonesia telah meratifikasi Konvensi Hak Anak (The Convention on the Rights of the Child) yang dirumuskan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa melalui Keputusan Presiden No. 36 Tahun 1990. Dalam Konvensi itu dikatakan bahwa anak-anak berhak memperoleh perlindungan dari pelecehan, diskriminasi, tindak kekerasan, perlakuan kejam, hukuman yang tidak manusiawi. Hak untuk memperoleh pendidikan dasar secara cuma-cuma, kehidupan yang aman dan sehat, hak untuk bermain, serta hak untuk mengeluarkan pendapat dan didengar. Namun 16 tahun sudah berlalu dan tampaknya anak-anak Indonesia masih banyak yang belum menikmatinya, seakan memberi cermin pada suatu pertanyaan, masa depan seperti apa yang akan kita miliki nanti?

Mengapa angka kekerasan terhadap anak-anak terus meningkat? Faktor pertama adalah struktur sosial di dalam masyarakat yang masih menempatkan anak sebagai milik, sehingga orang menganggap bahwa urusan ”mendidik” anak adalah wilayah privat orangtua yang tidak bisa diganggu gugat. Yang kedua, pemahaman masyarakat tentang hak-hak anak masih kurang. Dari pengamatan KNPA, pada umumnya keluarga dan masyarakat tidak mengenal Konvensi Hak Anak, sama halnya dengan birokrasi pemerintah (Hadi Setia Tunggal, 2000).

Realitas ini seharusnya menantang gereja untuk berpartisipasi dalam pembelaan hak-hak anak, bukan sekedar ikut serta melainkan dengan menyadari bahwa ini merupakan bagian dari panggilan imannya, karena adalah satu hal yang jelas bahwa anak-anak merupakan bagian dari tubuh Kristus di dunia ini (bnd. Kis. 2:39) dan Allah menyambut mereka dalam kerajaan-Nya (bnd. Mat. 19:13-15).

Keikutsertaan gereja dalam upaya ini perlu dilandasi dengan pemahaman teologi yang bersumber dari pemberitaan Kristen yang utama yakni Alkitab. Dengan memahami secara jelas pemberitaan Alkitab mengenai anak-anak, niscaya akan tercipta suatu dunia yang lebih baik ”bagi semua anak-anak, dan anakku” (Mother’s Prayer, Ruth Rochell).

Alkitab berbicara ribuan kali tentang anak-anak dan memberikan pandangan-pandangan yang baru tentang mereka. Dalam PB, anak-anak banyak kali disebut, namun Injil Matius adalah yang paling banyak memuat kata anak-anak (terutama Yun. paidion) dalam tulisannya. Penulis Injil Matius adalah pelopor Child Theology abad permulaan.

Alkitab – termasuk di dalamnya Injil Matius – ditulis dengan latar belakang budaya patriakhal (dari kata pater: bapak) di mana sang bapak menjadi pemimpin rumah tangga yang mencakup keseluruhan isi rumahnya, isteri (-isteri) dan anak-anak, budak-budak dan ”klien” yaitu orang-orang yang menggabungkan diri dalam keluarga itu demi manfaat timbal balik.

Dalam kondisi sosial ini anak-anak dilihat sebagai kelompok yang rendah. Status mereka dari segi hukum adalah sama dengan budak, sedang dalam masyarakat merekalah yang paling lemah karena seperti dalam kebanyakan komunitas kuno, umur meningkatkan status dan kekuasaan.

Tak hanya lemah dan bergantung, anak-anak juga dilihat sebagai lambang dari kebodohan, ketidakmatangan, keterbelakangan, sehingga macam-macam olok-olokan dan kritikan pedas dihubungkan dengan anak-anak.

Dalam keluarga Yahudi, di satu sisi anak-anak dipandang sebagai anugerah dan dikasihi, akan tetapi mereka tidak punya hak apa-apa di luar dari ketergantungan mereka yang absolut terhadap orangtua, terutama sang bapak.

Dari sinilah kita mengerti bahwa tindakan menyepelekan anak-anak oleh murid-murid dengan melarang anak-anak datang kepada Yesus adalah hal yang ”wajar” dalam budaya pada waktu itu. Tidak ada orang yang akan mengajukan keberatan terhadap hal-hal seperti itu, sampai Yesus yang berbicara, ”Biarkan anak-anak itu, jangan menghalang-halangi mereka, karena orang-orang yang seperti mereka inilah yang empunya Kerajaan Sorga.”

Penulis Injil Matius merangkai Child Theology dalam pidatonya yang keempat tentang hidup dalam Kerajaan Sorga (Mat. 1-14). Di dalamnya ia menyelami arti dan hakikat anak-anak dari perspektif Allah sendiri. Ia menyusun ucapan-ucapan Yesus untuk menegakkan suatu pemahaman yang selaras dengan apa yang diajarkan Yesus tentang anak-anak, tentang bagaimana Yesus melihat dan mengasihi mereka dan ia mengajak pembacanya untuk meneladaninya.

”Siapa yang terbesar di dalam Kerajaan Sorga?” Pertanyaan ini muncul di tengah situasi di mana orang-orang berlomba untuk menjadi yang pertama, menjadi yang paling besar. Dan jawaban atas pertanyaan itu adalah ”Siapapun yang merendahkan hati dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga.”

Secara tidak langsung Yesus hendak mengatakan bahwa yang terbesar di dalam Kerajaan Sorga adalah anak-anak dan orang-orang mau merendahkan hati menjadi seperti mereka. Karena itu jangan menganggap hina anak-anak, jangan menganggap rendah anak-anak, melainkan mereka harus disambut dengan baik, mereka harus diterima dengan hormat, dan lebih dari itu semua, mereka harus diperlakukan seperti apa yang dilakukan itu adalah untuk Kristus. Dan inilah paling penting dan yang menjadi inti dari Child Theology bahwa di dalam mereka Kristus telah berasosiasi, sehingga apapun yang dilakukan terhadap anak-anak adalah juga dilakukan untuk Kristus. ”Dan barangsiapa menyambut seorang anak kecil seperti ini di dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.”

Penekanan bahwa anak-anak memiliki kedudukan yang tinggi dalam Kerajaan Sorga merupakan protes terhadap kebiasaan masyarakat Yudea-Palestina zaman Yesus dan kemudian, yang meremehkan dan merendahkan anak-anak. Hal ini dimaksudkan supaya cara pandang terhadap anak-anak diubah, sehingga anak-anak diberikan penghargaan sesuai dengan martabatnya yang sama dengan orang dewasa.

Injil Matius memberikan contoh sikap mengenai bagaimana seharusnya berperilaku terhadap anak-anak: Perwira Romawi, seorang yang dianggap kafir oleh orang Yahudi, rela datang memohon pertolongan kepada Yesus supaya menyembuhkan seorang anak – yang adalah seorang hamba di rumahnya – yang sedang sakit dan menderita. Ia tidak melihat jabatannya sebagai halangan untuk datang meminta pertolongan kepada Yesus, dan iman yang dimilikinya membuat anak yang tinggal di rumahnya disembuhkan dari penyakit yang sangat menyiksanya. Dan iman itu erat berhubungan dengan kepedulian dan perhatiannya terhadap anak itu (Mat. 8:5-13).

Seorang pemimpin rumah ibadat Yahudi, seorang teladan dalam masyarakat, rela datang menyembah kepada Yesus demi kehidupan dari anak perempuannya. Ia sangat mencintai anaknya dan tak ingin terpisah atau kehilangannya (Mat. 9:18-26).

Perempuan Kanaan, seorang non-Yahudi, tidak hanya menunjukkan iman yang besar, tetapi juga kasih sayang seorang ibu bagi puterinya. Ia tak berhenti atau menyerah bahwa untuk memperoleh pertolongan yang ia harapkan tidaklah begitu gampang. Justru ia telah berjuang supaya anaknya lepas dari penderitaan yang dialaminya. Ia telah menunjukkan cinta yang besar terhadap anaknya, kecintaan yang seharusnya dimiliki oleh seorang ibu terhadap anaknya (Mat. 15:21-28).

Ayah dari anak yang sakit ayan, ia terus berjuang supaya anaknya bisa menikmati hidup yang lepas dari penderitaan fisik dan psikis. Ia seorang ayah yang bertanggung jawab, yang ingin memberikan yang terbaik untuk puteranya (Mat. 17:14-21).

Di tengah-tengah situasi di mana anak-anak sangat menderita, penulis Injil Matius telah menunjukkan kepedulian yang begitu besar terhadap penderitaan mereka. Anak-anak ini tidak hanya dilukiskan sangat menderita oleh karena penyakit yang mereka alami tetapi juga menggambarkan bahwa ada penderitaan yang lebih hebat yang anak-anak alami, melebihi yang diakibatkan oleh penyakit-penyakit itu. Mereka telah sedemikian tidak dipedulikan, dalam arti disepelekan, diabaikan, didiskriminasi, diperlakukan sewenang-wenang oleh masyarakat dan juga sistem. Karena itu, ia menunjukkan bahwa penderitaan yang dialami oleh seorang anak harus bisa dirasakan dan kemudian melahirkan tindakan kepedulian yang konkret.

Matius memberikan contoh teladan kepada orang-orang di zamannya, bahkan di segala zaman, tentang bentuk kepedulian yang seharusnya terhadap anak-anak, yaitu kepedulian yang mengatasi perasaan terhormat, mengatasi keputus-asaan dan mengatasi segala benteng-benteng yang merintanginya.

Kepedulian dan perhatian yang besar itu ditunjukkan dengan tindakan-tindakan real yang telah memberikan kelepasan dari penderitaan yang dialami oleh anak-anak tersebut. Itu sebabnya, kasih, kepedulian dan perhatian terhadap anak-anak dapat dipahami sebagai tindakan yang mengangkat anak-anak itu dari segala hal yang menyiksa mereka, membebaskan mereka dari penderitaan-penderitaan yang mereka alami, bukan sebaliknya, mendatangkan apa yang dapat membawa siksa bagi diri mereka dan masa depan mereka.

Penulis Injil Matius juga menunjukkan betapa pentingnya suatu legalitas yang bisa menjadi dasar pijakan terhadap segala tindakan proporsional yang harus ditempuh dalam rangka mengantisipasi tindakan-tindakan yang merugikan kepentingan anak-anak. Ketika imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat menyuruh Yesus untuk menghentikan sorak-sorai anak-anak di Bait Allah (Mat. 21:1-11), Yesus mengutip nats Alkitab dalam Mazmur 8:3, ”Tidakkah kamu baca (dalam Kitab Suci) ‘dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu Engkau telah menyediakan puji-pujian’.”

Legalitas yang diperoleh Yesus dari Kitab Suci ini memberikan makna pada suatu produk undang-undang yang bisa menjadi pijakan untuk melindungi hak dan kepentingan seorang anak. Anak-anak rentan terhadap berbagai pelanggaran hak mereka, karena itu mereka butuh instrumen yang dapat menjaganya.

Bagian ini juga, di sisi lain, hendak juga mengajar kita bahwa Allah memberi telinga pada suara anak-anak. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat tidak mau mendengar suara anak-anak, akan tetapi Yesus sebaliknya, Ia mengatakan bahwa Allah yang telah menaruh puji-pujian (suara) itu di mulut anak-anak. Karena itu, kita pun perlu mendengarkan suara anak-anak.

Penulis Injil Matius telah menunjukkan bahwa Yesus peduli terhadap anak-anak, ia sendiri peduli terhadap anak-anak, dan masih ada orang-orang yang peduli terhadap anak-anak. Pertanyaan sekarang adalah, apakah kita juga peduli?

Di tengah aksi kekerasan terhadap anak-anak yang semakin marak ini kita perlu belajar untuk lebih pintar dalam berinteraksi dengan anak-anak. Adalah hal yang menyedihkan bahwa sekian banyak pelanggaran yang dilakukan terhadap anak-anak adalah karena ketidak tahuan kita tentang hak-hak mereka atau ketidak sadaran kita akan dampak dari setiap tindakan, perkataan dan perilaku yang kita tunjukkan kepada mereka.

Dikemukakan Harkristuti Harkriswono, pakar hukum dan anggota Komnas HAM, kekerasan pada anak dapat dibagi menjadi empat kategori. Pertama, kekerasan fisik (physical abuse) yakni perilaku berupa penganiayaan hingga pembunuhan yang dilakukan oleh orang tua sendiri, guru, famili atau orang dewasa lainnya (seperti majikan dan lain-lain).

Kedua, kekerasan seksual (sexual abuse) mencakup berbagai tindakan terhadap kesusilaan atau yang berkenaan dengan kegiatan seksual, dari pencabulan sampai pemerkosaan.

Ketiga, kekerasan psikologis (psycological abuse) atau kekerasan emosional/verbal. Meski pernah dianggap sebagai perilaku ‘biasa saja’ dan tidak mempunyai dampak berarti pada anak, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa berbagai sikap, tindakan, kata-kata, gerakan yang dilakukan orangtua, guru, atau orang dewasa lainnya mempunyai dampak negatif yang serius bahkan traumatis yang mempengaruhi perkembangan kepribadian dan psikis anak.

Keempat, kekerasan ekonomi (economical abuse). Tindakan yang tidak memberikan pemeliharaan dan pendidikan yang sewajarnya kepada anak. Bahkan cenderung mengeksploitasi anak untuk bekerja bagi kepentingan pelaku agar mendapat keuntungan, yang melebihi kapasitas sebagai anak beserta haknya untuk tumbuh kembang secara wajar.

Keempat kategori kekerasan terhadap anak-anak di atas ini hendaknya membuka mata kita untuk menyadari bahwa ada begitu banyak pelanggaran hak anak terjadi di depan kita setiap hari dan sejauh ini kita belum berbuat banyak untuk melepaskan mereka.

Fenomena-fenomena ini ada di tengah-tengah masyarakat di mana gereja hadir, itulah sebabnya gereja tidak bisa menutup mata. Gereja perlu melibatkan diri dalam usaha-usaha perlindungan dan pembelaan hak-hak anak sebagai bagian dari panggilan imannya. Untuk apa kita memiliki semuanya kalau kita tidak memberikan perhatian kepada anak-anak yang kelak kepada mereka semuanya akan kita beri? (Aristoteles).

Anak-anak rentan terhadap serangan-serangan yang merugikan kepentingan mereka, baik untuk masa kini maupun untuk masa depan mereka, yang berarti masa depan kita semua. Karena itu adalah tugas gereja untuk memberitakan pembebasan bagi anak-anak, yang di dalamnya termasuk menyadarkan setiap orang bahwa anak-anak bukan ”milik” melainkan titipan Tuhan yang dipercayakan bersama semua tanggung jawabnya.

Demikian juga gereja perlu menempuh langkah-langkah efektif agar kepentingan anak-anak dihormati. Gereja bisa menjadi agen untuk mengawasi tindak dan pola perilaku terhadap anak-anak dan mengusahakan apa yang terbaik bagi seorang anak. Ia juga bisa menjadi saluran dalam memastikan bahwa hak-hak anak itu diketahui oleh orang dewasa dan anak-anak itu sendiri.

Gereja perlu mendeklarasikan gerakan kepedulian terhadap anak-anak, di mana komitmen untuk berjuang bagi kepentingan mereka ditegakkan. Ini adalah pelayanan gereja yang berdasar pada pelayanan Kristus, ”Apa yang kamu lakukan bagi anak-anak oleh karena Kristus, kamu melakukannya untuk Kristus.”