Rusia memperketat pengamanan menyusul serangan bom kedua; tanggapan Gereja Ortodoks

 

Kondisi bus listrik yang dijadikan target bom. (Foto: Ain92)

a53f9-patriarkkirillUp-date 31 Desember 2013 petang.

Pemimpin Gereja Ortodoks Rusia, Patriark Kirill, menyampaikan belasungkawanya pada para korban serangan bom di Volgograd.

“Saya berdoa untuk kedamaian bagi para korban dan pemulihan yang cepat bagi mereka yang terluka. Saya menyampaikan rasa belasungkawa kepada keluarga dan famili dari semua korban dan mereka yang selamat. Kiranya kepedulian dan bantuan yang tulus bagi mereka yang dilanda tragedi ini menyatukan semua orang yang ingin secara tegas melawan kejahatan teror,” ungkapnya dalam sebuah telegram kepada gubernur Volgograd seperti dilaporkan Interfax-Religion.

Dalam sebuah telegram lainnya, ia meminta pemimpin Gereja di Volgograd untuk dapat memberikan dukungan spiritual kepada mereka yang selamat dari serangan itu termasuk mereka yang terkena dampak darinya.

Menurutnya Gereja Rusia sedang bekerja sama dengan organisasi Muslim yang menolak penafsiran agresif akan Islam. “Dan Pusat Administrasi Spiritual Muslim di Rusia adalah salah satu di antaranya; banyak dari pendukungnya tinggal di Volgograd.” Ia meminta supaya umat Muslim di Volgograd untuk turut menunjukkan niat baiknya terhadap para korban.

Patriark Kirill menekankan bahwa teroris yang “digerakkan oleh ideologi kebencian,” tidak akan dapat meruntuhkan semangat masyarakat. Ia juga menyerukan supaya gereja, negara, dan institusi-institusi kemasyarakatan untuk bekerja sebaik-baiknya untuk mencegah hadirnya ideologi yang mengancurkan di tengah masyarakat. (http://www.pravoslavie.ru)

 

31 Desember 2013 petang.

RUSIA, Volgograd (Yubelium) — Ledakan bom menghantam sebuah bis listrik di Volgograd Senin 30 Desember pagi waktu setempat, menewaskan sedikitnya 14 orang dan melukai 28, demikian laporan kantor berita Rusia, Ria Novosti. Ini adalah serangan teroris kedua di kota Rusia selatan itu dalam waktu kurang dari 24 jam terakhir.

Sejumlah korban luka-luka dalam keadaan kritis, termasuk di antaranya seorang bayi berusia enam bulan, ungkap pejabat berwenang.

Juru bicara Komite Investigasi Vladimir Markin mengatakan bahwa para penyidik yakin serangan itu adalah bom bunuh diri yang dilakukan oleh seorang pria, dan terkait dengan pemboman fatal di kota itu pada hari Minggu sore.

Pihak berwenang yakin bahwa serangan bom pertama, yang menewaskan 17 orang dan melukai lebih dari 40 di stasiun kereta api Volgograd – 1, juga adalah tindakan bom bunuh diri.

Para penyidik sedang melakukan tes DNA terhadap sisa-sisa tubuh dari kedua tersangka pembom yang ditemukan di lokasi kejadian.

Ledakan Senin ini merupakan yang ketiga di Volgograd dalam dua bulan terakhir, hanya beberapa minggu menjelang Olimpiade Musim Dingin yang akan diadakan di Rusia bulan Februari di kota Sochi.

Presiden Vladimir Putin telah memerintahkan untuk memperketat pengamanan di seluruh negara itu setelah serangan beruntun ini.

Kepala Delegasi Uni Eropa di Rusia, Vygaudas Usackas, mengatakan mengutuk serangan bom itu dan yakin bahwa otak di belakangnya akan dibawa ke pengadilan.

Presiden Rusia telah menyatakan belasungkawa kepada keluarga korban ledakan, namun masih belum memberi pernyataan lebih rinci mengenai serangan yang terjadi.

Pihak berwenang di Volgograd pada hari Minggu mengumumkan tiga hari berkabung pada awal Tahun Baru untuk mengenang para korban serangan pertama.

Situasi politik di Kaukasus Utara disinyalir menjadi penyebab tidak kondusifnya wilayah itu.[+]