Gereja Aleppo membantu sesama tanpa membedakan agama atau golongan

 

Salah satu sudut kota Aleppo yang menjadi sasaran bom pada tahun 2012. (Foto: Zyzzzzzy)

SURIAH, Aleppo (Yubelium) — Hujan bom pihak pemerintah dan tembakan dari pihak pemberontak selama dua minggu menewaskan hampir 500 orang di kota Aleppo yang terbagi.

Menurut laporan pengamat hak asasi manusia di Suriah (The Syrian Observatory for Human Rights) yang dirujuk AFP, sebanyak 117 anak-anak turut menjadi korban.

“Orang-orang lelah akibat perang, kelaparan dan [cuaca] dingin,” tapi “solidaritas antara Muslim dan Kristen adalah tanda harapan untuk masa depan,” kata Mgr Antoine Audo, Uskup Agung Kaldea Aleppo seperti dikutip AsiaNews (30/12/13).

Ia mengungkapkan bahwa sekalipun dalam keadaan demikian Gereja di Aleppo tetap berdiri teguh. “Kami ingin hidup dan memiliki iman, dan menunjukkan solidaritas kami kepada semua orang tanpa membedakan agama atau golongan. Ini adalah misi kami, tugas kami,” tambahnya.

Menuurt Mgr Audo, tanggal 25 Desember ada setidaknya 12 bom jatuh di berbagai tempat tinggal, banyak di antaranya dihuni masyarakat Kristen, dan menewaskan puluhan orang.

Meskipun situasi telah membaik dalam beberapa hari terakhir, kota Aleppo penuh dengan orang-orang miskin.

Serangan udara oleh pasukan pemerintah, penembakan oleh pemberontak, cuaca dingin dan harga pangan meroket berujung pada kelaparan. Bahkan masyarakat yang empunya telah jatuh ke dalam kemiskinan.

“Sayangnya, akhir dari kekerasan ini sepertinya tak terlihat,” katanya. “Tidak ada yang tahu kapan perang ini akan berakhir. Kami dapat menerima segalanya, kecuali kebingungan ini yang [tampak] tanpa harapan untuk perubahan.”

Namun situasi yang buruk ini tidak menghentikan orang Kristen dan Gereja untuk membantu orang lain dan berdoa bagi perdamaian di Suriah.

Meskipun di tengah ancaman ledakan dan bahaya kematian, ratusan orang menghadiri Misa di Katedral Kaldea, yang pertama pukul 5 sore pada malam Natal dan yang kedua di pagi hari Natal.

Kebencian dan perpecahan yang sedang menghancurkan masyarakat Suriah tidak menghentikan aliran bantuan kepada orang miskin dan keluarga yang mengungsi.

“Dalam beberapa bulan terakhir, ribuan keluarga dari pinggiran kota Aleppo dan desa-desa sekitarnya mengungsi ke pusat kota, terutama di lingkungan Kristen,” kata Mgr Audo.

“Gereja telah menyambut semua orang, tanpa membeda-bedakan, meskipun kadang beberapa orang Kristen gagal memahami kebesaran hati yang tak memandang perbedaan agama dan golongan politik.”

Setiap hari, di gereja Kaldea di Aleppo, Caritas melayani makan siang dan membagikan makanan kepada orang-orang miskin dan orang terlantar, banyak di antaranya adalah Muslim.

“Beberapa hari lalu seorang pria Muslim yang telah lanjut usia berlari mengejar saya dan dengan suara keras mengucapkan terima kasih atas pekerjaan kami,” kata Mgr Audo.

Menurut Mgr Audo seruan perdamaian dari Paus berulang kali untuk terciptanya perdamaian telah menolong para imam, uskup, dan warga gereja untuk tidak kehilangan iman dan harapan kepada Tuhan Allah. [+]